Selamat Hari Guru, Orang Tua Adalah Guru Terbaik

Pagi tadi Kiky bangun sebelum adzan subuh terdengar dari surau sebelah rumah. Disaat yang sama aku pun demikian, terjaga di sepertiga malam terakhir. Suara handle pintu kamar terdengar nyaring saat dibuka. “Pak kae anake ditunggoni, perutnya sakit kayane.”

Kumatikan chanel national geographic di layar kaca. Aku beranjak menemani Kiky yang sedang tergolek memegangi perut. “Perute sakit nduk ?” Tanpa kata, ia mengangguk perlahan. Wajahnya sedikit pucat tanpa pancaran keceriaan sebagaiaman biasanya.   Kiranya bahasa tubuh itu cukup bagiku untuk memaknai.

***

Sinar pagi menyeruak masuk menembus penghalang kaca. Menghangatkan. Kiky yang sedikit lemas duduk dipangkuan. Menyandarkan tubuh lemahnya, sesekali memegang perut.  Pandangan mata kami tak beanjak  dari  serial Charlie dan lola di chanel Cbeebies. Saluran televisi khusus buat anak anak.

“Itu gurunya Lola nduk…, pinter ya bu gurunya ? Bisa buat buat, kayak Mister Maker.” Sejenak ia mengubah posisi duduknya seraya bertanya, “bu guru ya pak ? Kayak bunda ?”

“Bener nduk, itu adalah gurunya Lola. Seperti gurumu di TK Garuda yang bernama Bu Sri, kamu dan teman teman memanggilnya Bunda Sri.” Kiky mengangguk tanda setuju.

Bersa anggukan, suara denting pesan masuk dari ponsel terdengar.  Kuraih  smart phone dan membukanya. Sebuah pesan berantai yang dikirim seorang teman lewat  aplikasi BB. Deretan kata terangkum indah.

***Selamat hari guru***

Mengucapkan selamat buat guru guru SMA  teramat mudah. Akan tetapi, mencoba  memaknai  sepertinya sangat sulit.  Karena memang guru tak berbatas profesi.

Ada guru kehidupan, yang selalu ada namun tiada pernah disadari. Guru spiritual atau guru ngaji, keberadaannya sangat vital ditengah tengah masyarakat, namun penghormatan padanya sering terlupakan.  Bahkan ada guru bangsa semisal Gus Dur alias Abdurrahman Wahid.

Kerifannya sebagai pendirik tidak hanya diakui masyarakat negeri sendiri. Pemihakannya pada kaum lemah menginspirasi dunia. Mengajarkan pentingnya tolerasi dan menerima perbedaan.  Harum namanya melintas negeri, batas geografis tak mampu mencegahnya.

Lain halnya dengan bapak pendidikan kita, guru orang tua dan kakek kita.  Ki Hajar Dewantara pernah berkata,   “setiap orang adalah guru, dan setiap tempat adalah sekolah.”  Apa yang dikatakannya bak mantra.  Diamini penduduk negeri. Mengubah paradigma dan sudut pandang kita terhadap sosok seorang guru.

Belum selesai aku membaca broadcast berkenaan dengan guru.  Demi kebersamaanku dengan anak, kumatikan ponsel pintar. Meletakkannya di atas meja dan segera menenggelamkan diri lagi pada serial Charlie and  Lola bersama Kiky.

Masih mengenai seorang guru, orang  tentu saja boleh berbeda pendapat. Positif dan negatif pemahaman kita  sangat ditentukan oleh dimana kita berpijak, latar belakang masa lalu  dan kepentingan pribadi di masa depan.

Bagiku,  guru di sekolah dan guru informal diluar rumah adalah “guru kedua.” Berfungsi sebagai pelengkap, substitusi dari apa yang belum mampu kami berikan.

Guru utama bagi anakku bukanlah orang lain. Guru pertama dan yang paling utama adalah aku dan istri. Kami adalah guru terbaik buat Kiky. Bukan hanya mengajarkan kehidupan, akan tetapi lebih dari pada itu, yaitu cinta.

Pencapaian kognitif memang penting, namun bukan yang utama.  Hal terpenting dari pendidikan dasar pada anak adalah penanaman budi pekerti dan karakter.

Budi pekerti untuk menjadi orang Indonesia yang berentitas Jawa. Budi pekerti untuk menghargai keragaman dan perbedaan. Budi pekerti untuk berempati dan menghormati sesama. Begitu pun dengan karakter yang diharapkan.

Berkarakter kuat, berfikir positif disetiap waktu,  dalam segala kondisi. Berani mengakui kesalahan untuk mendapatkan kebenaran hakiki. Berani mengakui kekalahan dalam bingkai  semangat untuk  menjadi seorang pemenang.

Hanya dengan guyuran cinta tulus orang tua, pendidikan budi pekerti dan karakter tumbuh subur didalam diri anak. Oleh sebab itu, tak salah jika orang jawa mengatakan bahwa “guru adalah sosok digugu dan ditiru.” Karena memang, sejatinya guru terbaik buat anak anak kita adalah orang tuanya.

@lambangsarib

 

 

 

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky, Uncategorized and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s