Cinta Itu Sederhana

Hawa dingin menyeruak masuk kedalam  kamar. Celana, baju tebal dan kaos kaki yang membalut  tak mampu menghangatkan. Bahkan lilitan syal di leher pun  seakan tiada makna.

Dinginnya hawa rumah tak ubahnya  kaki Gunung Merapi di  Yogyakarta. Selain karena hujan yang mengguyur Jakarta  semenjak lepas bedug lohor, di Manggarai ini masih banyak pohon pohon besar. Mahoni berdiri kokoh diantar deretan di rumah  tua peninggalan Belanda.

“Buk, tolong dong bikinin teh tawar panas,” pintaku.  “Mimik teh ya pak ?” Kiky  menyela disaat istriku hendak bergegas. “Pakai gula tidak ?” suara istriku dari arah belakang. “Ora, ora usah nganggo gulo,” kataku menegaskan.

“Iki  tehnya. Wasgitel, wangi panas legi dan kentel. Awas…, ati ati nduk, jangan deket deket,  teh itu masih panas.” Kata istriku menyodorkan minuman sambil meminta anakku menjauh.

Wajar saja kalau ia  selalu khawatir. Di usianya yang belum genap dua tahun lalu, anak semata wayangku pernah kesiram air panas. Butuh waktu hampir dua minggu lamanya mengobati luka lukanya sembuh.  Kejadian itu menyisakan trauma bagi ratu dan bidadariku di rumah ini.

“Hm… enak enak enak…, sueger nduk, teh bikinan ibu sueger…” kataku disela sela menyeruput teh tawar panas. “Enak ya pak ?” tanya anakku dengan mimik ingin tahu.

“Iya nduk, ini adalah teh  paling enak yang pernah bapak minum. Ibumu sudah hafal betul teh kesukaan  bapak. Kelak kamu harus tanya  ibu, bagaimana cara menyeduh teh seperti ini. Agar suatu saat kelak kamu bisa membuat teh yang serupa.”  Sepertinya anakku tak mengerti apa yang sedang aku bicarakan. Hanya ndomblong memandangiku tak berkedip.

Teh ini minuman sederhana. Hanya dedaunan yang dijemur hingga kering. Membuatnya pun sangat simpel, cukup diseduh  dengan air panas.  Akan tetapi, keharuman aroma melati  mampu menggugah selera. Kehangatannya menghadirkan kebahagiaan, mencairkan hati yang beku.  Terlebih lagi bila minum dirumah, ditemani orang yang dicintai.

Kebahagiaan itu sederhana, hadir begitu saja.  Sesederhana menyeduh teh. Tanpa perlu  untaian syair indah. Tanpa perlu goresan pena sang….  “Halah.., tuh nduk bapak’em kakean moco novel. Ngomongnya udah kayak mbah Pramoedya ae,”  sergah  istriku sambil tersenyum memotong pembicaraan.

Anakku pun  ikutan tersenyum. Sunggingan  yang sederhana. Senyum penuh keikhlasan dan cinta.

@lambangsarib

 

 

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Cinta Itu Sederhana

  1. jampang says:

    kadang, yang sederhana itu yang sering terlupakan

  2. Okti D. says:

    secangkir teh, dan sepenggal kisah…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s