Anak Kok Disuruh Kursus

Pagi tadi istriku bercerita bahwa teman teman Kiky di TK Garuda banyak yang mengikuti kegiatan ekstrakulikuler selepas jam sekolah. Umumnya, mereka mengambil bimbingan belajar menulis dan Bahasa Inggris. “Di SD  katanya ada tes menulis pak, apa Kiky tidak sebaiknya diikutkan bimbingan juga bersama teman temannya ?” Istriku bertanya sembari menyodorkan segelas teh manis dan jagung bakar.

Aku tak langsung menjawab. Aku lebih tertarik menikmati jagung bakar hangat rasa mentega manis dibanding membicarakan masalah itu. Aroma teh tubruk pun lebih merangsang otakku dibanding topik diatas.

“Pie to pak, diajak omong malah mangan wae,” istriku sedikit kesal. “Lha iki jagunge enak bu,” jawabku sekenanya.

Setelah beberapa teguk teh dan sepotong jagung bakar habis kulahap, kumatikan siaran televisi yang dari tadi pagi membicarakan masalah Taxi online versus Taxi konvensional. Sebelum televisi padam, sempat terdengar suara Gubernur DKI Jakarta, Ahok berkata, “online adalah keniscayaan. Kalau diblokir, kita  akan kembali ke jaman batu.”

“Lha.., kowe ae nek tak kon macakne buku Kiky  malah turu. Wong tuwo wae dikongkon  sekolah eneh podo wegah. Disuruh mikir aja pada gak mau. Lha ini  anak, malah suruh mikir melulu. Apa tidak salah ? Apa mereka tidak  capek ? Apa tidak setres ? Kasihan kan anak anak.”

“Iyo aku ngerti, paham. Tapi kata teman teman, nanti di SD kalau tidak bisa membaca akan diomelin gurunya. Kalau tidak bisa bahasa Inggris akan dikucilkan teman temannya,” argumen istriku.

“Saya tidak akan mengijinkan anak kita dipaksa kursus, ekstrakulikuler atau apalah namanya. Kecuali dia kelak meminta sendiri. Bukan kita yang memaksakan kehendak.”

Kalau kelak, di SD gurunya menganggap anak saya paling bodoh, biarin saja. Asal kita yakin bahwa anak kita cerdas. Tolong kamu ingat yang sering saya katakan, yang terpenting bukanlah seberapa cepat dia bisa membaca, melainkan membentuk karakternya agar suka membaca.

Yang terpenting bukanlah tulisannya bagus atau jelek dimata guru, melainkan agar kelak Kiky gemar menulis. Itu yang menurut saya penting. Jangan ikut ikutan mereka yang   mengeksploitasi anak. Jangan ikutan berpacu dengan teman temanmu dengan obyek anak.

Istriku tampak diam. Sedikit merenung. Semoga saja dia mengerti.

Saat aku hendak mengambil jagung rebus yang kedua, tiba tiba terdengar suara dari pintu yang memecah keheningan. Suara anakku yang pertamakali pagi ini. “Hai dad.., good morning. I want to play with you,  dad…”

Dia mendekatiku, menggapai tanganku, “come on dad…, ayo lah pak…, ayo kita naik bycicle.”

 

 

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Anak Kok Disuruh Kursus

  1. jampang says:

    wah… kiky sudah bisa bahasa inggris😀

    kasihan yah kalau anak-anak yang seharusnya menikmati masa-masa bermain harus dipaksa ikutan kursus ini itu

    • lambangsarib says:

      Iya pak, Alhamdulillah. Kebetulan saya tidak pernah mengijinkannya nonton sinetron atau film pakai bahasa Indonesia. Televisi yang dilihat dari kecil adalah “Baby TV” berbahasa Inggris. Tak saya duga sebelumnya, ternyata bahasa inggir bisa dengan sendirinya. Tak perlu diajari, tak perlu kursus.

  2. Ceritaeka says:

    Aku sepakat banget sama kalimat ini –> yang terpenting bukanlah seberapa cepat dia bisa membaca, melainkan membentuk karakternya agar suka membaca.

  3. dedy says:

    Anak sahabat saya juga bs bhs inggris krn nonton tv berbahasa unggris Pak😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s