Siulan Pertama

“Nyuwun orek tempe bu ?” Kemudian perempuan itu menjawab, “pinten pak ? tigang ewu cekap mboten ?” Aku mengangguk saja, tanda setuju.  Kemudian berturut aku katakan, “ati tigo, tempe balok ipun sekawan, sayur kacang panjang sekedik mawon.”

Perempuan didepanku  mengikuti apa yang diperintah.  Aku layaknya seorang yang sangat berkuasa. Cukup dengan menunjuk, maka sayur dan lauk pau pun berpindah dari piring ke kertas minyak untuk dibungkus. Bahkan dehemku pun  cukup untuk menghentikan aktivitasnya.

“Pinten bu ?” kutanyakan itu saat kulihat tangan terampilnya mulai memasukkan bungkusan satu persatu kedalam tas kresek warna hitam. Perempuan itu tidak menjawab, malah tersenyu. Sambil terus memandangi bungkusan, dia balik bertanya, “ibune kiki wonten pundi pak ? kok tumbern tumbas lawuh piambak ?”

“Ada dirumah,” jawabku. Sambil kuulurkan selembar uang warna biru sebagai alat tukar yang sah. Perempuan itu sibuk menghitung kembalian, saat kudengar sayup suara siulan dari belakang. Tidak kencang, tapi sangat jelas di telinga.

Nadanya lembut, menandakan si pemilik siualan tengah berdendang. Naik  turun tangga nada menjelaskan bahwa dia mampu memahami partitur.  Merdu,  membuai, menenangkan jiwa. Dari beberapa rangkaian siulan, barulah aku memahami bahwa dia sedang menyanyikan lagu legendaris karya AT. Mahmud, “ambilkan bulan bu.”

Lagu anak anak yang sangat aku kenal. Terpatri dalam labirin otakku.  Yang mampu kuingat adalah, lagu itu sering dinyanyikan ibuku berpuluh tahun silam, saat menimang, menina bobokkan  dan menidurkanku. “Ah…, Ibu..,  pinta maaf dan do’a do’a ku tak kan sanggup menukar cinta dan kasih sayang yang kamu berikan.”

“Niko pak jujulipun… !” perempuan itu menampar lamunanku. Sambil tersenyum, ia julurkan tangannya, memberikan beberapa lembar uang kembalian.  Sekelebat tulisan WARTEG BAHARI berwarna merah tertempel di etalase kaca  menyadarkanku, bahwa aku sedang belanja sayur dan lauk pauk.

Tapi ini suara siulan  siapa ? Kok begitu merdu ?

Saat kupalingkan muka, tak  ada siapapun dibelakang. Hanya tembok putih berdiri tegak angkuh. Tetiba, suara siul itu terdengar lagi. Bukan dari belakang, melainkan dari samping kananku.

Saat kutoleh, ternyata Kiky sedang berdiri tepat disampingku. Oh…,  dialah empunya nada.  Anakku sedang bernyanyi,  melantunkan apa yang diajarkan ibuku berapa dasawarsa yang lampau. “Oh…, kamu nak..,” suara lirihku.  Lagunya mengiringi  mataku  berkaca.

“Ayo balik  nduk…, lets go home. Sudah selesai belanjanya.  Ibu pasti menunggu kita.” Kami pun bergandengan tangan, berjalan beriringan, menyusuri jalan beton untuk pulang.

Dalam hati aku berkata, “maaf ya nduk. Maafkan bapak. Bapak tidak tahu semenjak kapan kamu mulai bisa bersiul. Semenjak kapan kamu memahami lagu yang aku ajarkan. Maafkan bapak kurang memperhatikanmu.”

Inilah hari pertamaku mendengarkan Kiki bersiul. Entah semenjak kapan, ia mampu melakukannya. Entah…

Kadang aku merasa sedih. Kadang aku merasa bersalah.  Kurang memperhatikan perkembangan anak dari waktu ke waktu.

Pekerjaan lebih sering menjadi kambing hitam untuk memberikan pembenaran akan kelalaian orang tua memperhatikan anak.

Wassalam.

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s