Nepok Nyamuk

Pagi, waktu sholat dhuha. Kulihat istriku sedang menegakkan sholat sunnah. Sementara aku masih sibuk beberes untuk segera berangkat kerja.

Dari balik pintu terdengar suara tepokan, hanya sekali, lirih, namun bisa jelas terdengar. Mungkin karena kesunyian. Keriuhan pagi tetiba  berubah menjadi ketenangan. Boleh jadi itu semua karena  aura  istri yang  sedang sholat. Kami  menghormati untuk tak berisik. Minimal hanya itu yang mampu kulakukan. Karena terus terang saja, sholat sunnah adalah amalan yang sangat memberatkan.

“I get it… I get it..,” suara Kiky penuh kegembiraan menyeruak diantara sela pintu yang menganga. Aku tak hiraukan teriakannya, paling dia sedang bermain dengan teman imajinernya.

“Pa… come here pa.., come here…, I get it..,” dia terus berteriak. Memanggil manggil dan mengucapkan kata kata yang tak kupahami maknanya. Dia terus memanggilku dari balik pintu. Entah sudah berapa kali, aku tetap tak bergeming.

Hingga ibunya berdiri setelah dua  salam di rakaat terakhir. Dibukanya pintu kamar, dan menyeruaklah hawa segar dari arah anak kali ciliwung. Sinar mentari pun mengguyur, menghangatkan,  menerangi seisi kamar dengan  gelombang positif kebahagiaan.

“Ono opo to nduk, bengok bengok wae,” istriku bertanya. Mereka berdua sudah berada diluar pintu, tampak asik. Rasa ingin tahu tanpa sadar telah membawaku  keluar kamar dan mendekati mereka.

“Pak.., nih pak.., Kiki Bisa nepok mosquito,” dia tampak bangga, memamerkan kemampuannya menepok nyamuk. Menjulurkan kedua belah tangannya, dan memperlihatkan seekor nyamuk yang mati ditepok.

“Nih…, Kiky pinter ya pak. Kiky dah bisa tepok mosquito,” ujarnya. Kami tersenyum bahagia, menyaksikan polah kiky. “Ah, kamu sudah bisa nepok nyamuk to nduk ? Hebat…! Bapak bangga,” gumamku dalam hati.

Ternyata waktu begitu cepat berlalu.  Maaf nduk, bapak tak sempat memperhatikanmu setiap saat, setiap waktu. Sepertinya baru kemarin, saat kamu bapak ajari cara menepok nyamuk. Waktu itu, kamu tampak lucu menirukan. Jangankan dapat nyamuk, suara kedua bilah tangan beradu pun tidak terdengar.

Maafkan bapak nduk, tak tahu kapan kamu mulai bisa menepok lemut. Namun, pagi ini bapak abadikan dalam tulisan ini. Bahwa pagi ini, saat ibumu sholat dhuha, adalah hari untuk pertamakalinya bapak melihat kamu mampu menepok nyamuk.

Selamat ya nduk. Kami akan selalu mencintaimu.

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Nepok Nyamuk

  1. nyonyasepatu says:

    anak2 cepet banget belajarnya ya mas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s