Hanya Ingin Dikenang Karena Mencintai

Beberapa teman pernah menghardik, bahkan ada yang menjustifikasi bahwa keluarga kami tidak  bahagia. Saat menanyakan alasan kesimpulannya mereka  beralibi, “apa enaknya hidurpmu ? Setiap pagi nganter anak dan istri ke sekolah. Lalu jam 11 siang harus berteduh dibawah pohon  tak jauh dari sekolah, hanya untuk menjemput mereka. Lalu di sore hari selepas sholat ashar, mengantar dan menunggui anak mengaji di masjid. Hingga menjelang sholat maghrib. Menghabiskan waktu saja. Tidak produktip !”

Biasanya aku membalasnya dengan  tersenyum, bahkan tertawa,  malas  berargumentasi.

Setiap orang memiliki sudut pandang masing masing.  Meyakini  “value kehidupan” berbeda. Sangat tergantung oleh masa lalu dan mimpi mimpi masa depannya.

Aku pernah menuliskan di blog ini. Bahkan secara tegas pernah menuangkannya dalam buku dan resolusi akhir tahun. Bahwa dalam melakoni  kehidupan,  tak ada yang lebih penting dibanding menyayangi anak, membahagiakan  istri dan keluarga besar.

Mungkin ada sebagian orang yang mementingkan karir dan pencapaian “kesuksesan.” Itu sah sah saja. Bukankah memang hidup tidak cukup dengan cinta ? Bukankah memang hidup  perlu uang ?

Bagiku, profesi terbaik dan paling mulia adalah momong anak. Menjalani roda kehidupan dengan  merangkum  butir butir kebahagiaan untuk  anak, istri dan keluarga. Tidak ada yang lebih penting dari itu.

Suatu masa kelak, aku sama sekali tak ingin dikenang orang lain sebagai apapun. Tak berharap apresiasi dari lingkungan sosial  manapun. Aku hanya ingin suatu saat kelak Kiky mengenangku sebagai “ayah yang sangat mencintainya.”

Andaikata Tuhan menakdirkan profesi kita menjadi pucuk pimpinan perusahaan,  cukuplah itu aku anggap sebagai pekerjaan sampingan.

Setiap orang boleh berbeda pandangan.  Setuju ataupun tidak, adalah pilihan. Tak mungkin dipaksa.

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky. Bookmark the permalink.

2 Responses to Hanya Ingin Dikenang Karena Mencintai

  1. Dyah Sujiati says:

    Ya gimana nggak tinggal menikmati waktu kalau sudah begini? ~>
    Andaikata Tuhan menakdirkan profesi kita menjadi pucuk pimpinan perusahaan,  cukuplah itu aku anggap sebagai pekerjaan sampingan.😐

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s