Al Ummu Madrasatul Ula – Ibu Adalah Sekolah Utama

Aku sedang duduk dibawah pohon mahoni rindang, tepat di seberang kantor. Mungkin sudah beratus tahun umurnya.  Menikmati limpahan oksigen gratis yang bepadu dengan semilir angin.  Sementara anakku sedang bermain dengan Yusuf, anak pedagang sate madura dorong yang mengontrak  di samping rumah. “Hm…, nikmat manakah yang engkau dustakan ?”

Seorang pelanggan mendekatiku, dan ikut ngadem dibawah pohon. Tiba tiba saja ia bertanya,  “kenapa yah orang orang china di negeri ini bisa  maju ? Mereka umumnya kaya, menguasai sistem ekonomi ? Kenapa pula orang pribumi selalu kalah ? Sejak lama, sejak sebelum kemerdekaan.”

“Orang china berdagang dengan orang pribumi sudah  lama, sejak  jaman Laksamana Cheng Ho. Bahkan mungkin sebelum kerajaan Majapahit berdiri. Pra Islam di tanah jawa.” jawabku sekenanya.

“Kok bisa ya ? Kenapa kita tidak bisa seperti mereka ?” sergahnya.  Gelengan kepala, aku pikir cukup untuk menjawab pertanyaannya. Untunglah, dia segera pergi. Hingga tak perlu lagi aku memutar otak,  merangkai diksi, hanya untuk sebuah pertanyaan yang gak perlu.

Entah ada bisikan dari mana. Saat menolehkan muka ke Kiky dan Yusuf yang sedang bermain, tiba tiba teringat  sebuah syair arab berbunyi “Al-ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq,” artinya kurang lebih “ibu adalah sekolah utama, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik.”

Apakah itu jawaban pertanyaan orang tadi ? Entahlah, aku tak mengerti.

Yang pernah kulihat,  umumnya anak anak orang china selepas sekolah bermain di toko. Bahkan,  jauh sebelum itu. Anak anak sudah ada di toko semenjak lahir. Mereka bermain, mereka bercanda, bahkan ibu mereka menyuapi  sambil berdagang.

Di lingkungan bisnis terkecil itu karakter mereka terbentuk. Sadar atau tidak, ibu mereka adalah guru utama dan pertama. Toko menjadi madarasah,  sekolah yang anak anak pahami.

Di otak dan alam bawah sadar mereka tertoreh kata, “bekerja adalah berdagang” dan “berdagang adalah pekerjaan.” Tak ada pekerjaan lain selain perdagangan. Dan itu adalah satu satunya cara mereka untuk bertahan hidup.

Nabi Muhammad pernah berwasiat, “sembilan dari sepuluh pintu rejeki ada dalam perdagangan.”

Andai kita mengikuti pesan nabi. Maka akan dijumpai ibu ibu bekerja di rumah,  atau  berdang. Mengajarkan anak anak mereka tentang kehidupan. Peduh dengan limpahan cinta dan  kasih sayang.

Boleh jadi, orang orang china itu tak mengetahui siapa Muhammad Rasullullah. Mungkin mereka tak pernah mengerti indahnya islam.  Namun, mereka terbukti  mengajarkan pada anak anak mereka bahwa, “ibu adalah guru yang pertama dan utama.”

Sehingga, suka atau tidak suka, merekalah pencetak generasi generasi unggulan. Tidak saja di negeri ini, melainkan hampir di seluruh penjuru mata mata angin.

“Ayok pak pulang, Kiky mau bobok sama ibu. Ngantuk…”

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Al Ummu Madrasatul Ula – Ibu Adalah Sekolah Utama

  1. mastur songenep says:

    selain ulasan diatas, menurutku mereka (cino) sudah cukup modal untuk berbisnis, org tua sudah memberi sutikan modal, beda dengan saya dan yg senasib, orng tua dan nenek moyang kami pada hidup pas-pasan, lan tas mau memulai bisnis dari mana, padahal modal adalah yg utama.hihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s