Sekolah Dimana ?

“Kamu harus sekolahkan anakmu ke Jakarta Islamic School. Meski mahal, namun tak akan rugi.  Disana pendidikannya bagus, guru gurunya bersertifikasi internasional, sarana dan prasarana pendidikan bisa dikatakan nomer wahid. Anakmu akan hafal 30 juzz setamat SD, kamu pasti bangga memiliki seorang anak hafidz. Bukan itu saja, anakmu akan mahir berbahasa Arab dan Inggris,” kata Pak Hartono.

Alibinya  tiada henti,  membombardir, berpromosi,  membuatku tak bergeming. Jangankan berargumentasi, sekedar menggeser posisi duduk pun susah. Hanya sesekali melirik anak dan istriku yang sedang asik bermain kucing persia yang kumampu.

Beliau adalah orang yang saya hormati. Paling tidak, beliaulah yang mampu mengangkat sedikit derajatku di akhir tahun sembilan puluhan. Memperbaiki ekonomi keluargaku yang morat marit. Melepaskan dari belenggu radikalisme yang hampir menghancurkan mahligai rumah tangga.

Hanya ada tiga orang di jakarta ini yang pernah aku cium tangannya, selain Amien Rais, Pak Hartonolah salah satunya.

“Saya akan  sekolahkan anak  di Muhammadiyah saja pak, yang dekat rumah.”

“Oh iya.., bagus itu. Dahulu kami dan  anak anak juga sekolah di Muhammadiyah,” istri pak Hartono menimpali.

“Jangan ragu ragu berkurban untuk anakmu ! Uang masuk  sekitar 25 juta, itu  tiada artinya jika dibanding manfaat yang kamu dapat kelak.  Uang segitu untuk beli mobil juga kurang.” Pak Hartono terus saja mencoba mempengaruhiku.

“Jauh pak,” jawabku mencoba memotong.

“Gak papa mbang. Contoh salah satu cucuku. Dia berangkat jam 6 dari rumah, diantar ibunya. Pulang sekolah sampai rumah jam 5 sore. Saya bangga pada anakku, Ipin. Ia mau bersusah payah mengantar dan menunggui anaknya sekolah.”

“Iya pak.”  Jawabku di sela sela wejangan yang tiada henti.

Entahlah, tiba tiba saja  aku teringat diskusiku semalam dengan istri. Menjelang tidur, sesaat setalah anak kami terlelap. Ditengah tengah gempuran argumentasi itu, anganku melayang, tak konsentrasi lagi pada yang dibicarakan  Pak Hartono.

Yang penting bukanlah seberapa cepat anak bisa membaca, melainkan bagaimana agar kita sebagai orang tua mampu membawa anak gemar membaca. Bukan pula seberapa bagus dan cepat dia menulis, akan tetapi  agar kelak anak suka menulis.

Target kita bukanlah anak hafal Al Qur’an, karena tak semua  orang memiliki kecerdasan lingua.  Semua anak cerdas, namun  kecerdasannya tak sama, berbeda beda. Kalaulah kelak Kiky bisa menghafal wahyu Allah dengan baik, alhamdulillah, itu bagian karunia  yang tak terkira. Kalaulah ia tak memiliki kecakapan itu, jangan dipaksa.

Tujuan akhir kita adalah anak gemar membaca kitab yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW. Menelaah kandungan dan maknanya. Mengamalkan dan menyampaikan pada orang orang yang belum mengenal.

Kalaulah kemampuannya kelak hanya menyampaikan satu ayat, itu  bagus dan lebih dari cukup. Daripada hafal tapi tidak memahami. Membaca tapi  tidak mengamalakan. Dan tahu namun hanya  untuk dirinya sendiri. Sebaik baik manusia bukanlah yang hafal Qur’an, melainkan yang mengamalkan dan berbuat baik pada sesama.

Oleh sebab itulah bu, aku tidak terlalu berminat mengkursuskan Kiky diluar jam sekolah. Jangankan anak anak, kita yang sudah tua aja malas. Kasihan anak kalau dipaksa paksa. Biarlah anak tumbuh kembang secara natural saja.

Mengenai sekolah, aku lebih suka di perguruan  Muhammadiyah. Kebetulan juga dekat rumah, agar anak tidak capek dijalan ditengah kemacetan.

Memang  fisik gedungnya jelek,  kalau kita ada rejeki berlebih, kita bantu membangun gedungnya. Kalau buku buku di perpustakaan kurang, kita bantu carikan donasi buku dari teman teman.  Andai gurunya kurang, apa salahnya kita dermakan sedikit waktu kita untuk membatu ?

Ingat selalu pesan Kyai Dahlan, “hidup hidupi Muhammadiyah, jangan cari hidup dari Muhammadiyah.”

“Ayo pak pulang…” suara anakku membuyarkan lamunan. Bersamaan dengan suara Adzan sholat Asar berkumandang.

“Ayo pak pulang.., Kiky mau ngaji,” sekali anakku merajuk. Membuat aku punya cukup alasan untuk bermohon diri.

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Sekolah Dimana ?

  1. ayanapunya says:

    saya juga kalau punya anak nanti kayaknya masih mikir-mikir deh buat nyekolahin di sekolah IT. memang sih di sekolh islam terpadu insya Allah bekal agamanya lebih terjamin tapi rasanya kok biayanya terlalu mahal ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s