Syair Arab Langgam Jawa, Penyejuk Jiwa

Sore ini menjelang maghrib. Biasanya aku dan Kiky  ke masjid untuk mengaji. Namun kali ini diluar kebiasaan. Maklum saja, ibunya meminta tidak mengaji dulu, “wis ojo ngaji disik pak, ben mari watuke pileke.”

Kami  bagai dua orang  santri yang sangat taat pada sang kyai. Kata katanya bagaikan sabda.  Apapun yang dikatakan sang manager rumah tangga, lebih baik kuikuti. Bukan karena aku tipe suami takut istri, namun itu semua demi memberi pelajaran pada anak, bagaimana harus bersikap.

Kubuka kayu penutup piano jadul merk Stein Horner di sudut ruang tamu. Duduk manis, dengan jemari tepat diatas balok balok warna putih hitam pelantun nada. Mulai memainkan, satu demi satu nada yang bisa kuingat.

“Pak, nyanyi ambilkan bulan bu..,” teriak anakku dari belakang. Tanpa menoleh, jemariku mulai menari. Mengikuti naik turun nada,  menghayati detak hitungan tiap partitur.

Setelah beberapa lagu, yang semuanya lagu anak anak. Mulailah kumainkan langgam bengawan solo. Lagu ciptaan gesang ini sungguh  menyejukkan. Entah karena lagu itu, entah karena hal lain, tiba tiba istriku sudah datang membawa segelas teh hangat beserta dodol garut yang kami beli dari Ciater minggu lalu.

“Matur nuwun ya bu..,”kataku. Dia tidak menjawab, hanya tersenyum dan segera berlalu. Itulah gaya istriku. Dari dulu, hingga kini. Tak berubah, meski berpuluh tahun terbilang.

“Ilir ilir pak…,” anakku menyela lagi. Ternyata, langgam jawa bengawan solo itu tidak terlalu dia suka. Dia lebih menyukai lagu ilir ilir karangan Sunan Kalijogo.

Aku teringat pada kakek dan nenek. Mereka menina bobokkanku dulu dengan lagu itu, lagu yang sama, lebih dari empat puluh tahun yang lampau. “Mbien mbahmu juga dinyanyikan ilir ilir kok le…,” satu kalimat nenek yang masih ku ingat sampai hari ini.

Apa yang dilakukan nenek ternyata warisan turun temurun. Diajarkan dari generasi ke generasi. Entah mengapa, sadar atau tidak, saat Kiky kecil dulu, lagu ilir ilir adalah langgam yang paling sering aku dendangkan sebagai penghantar tidurnya.

Ah entahlah. Bagiku,  syari syair arab yang dilanggamkan jawa terasa pas dihati. Mengabarkan kedamaian dan  menenangkan jiwa.

Ayat ayat Al Qur’an adalah kalam. Al Qur’an  itu suci. Kita diberi hak untuk berfikir, merenung dan  menafsirkannya.  Boleh jadi, tafsir diantara kita berbeda.  Karena memang masa lalu kita beragam.  Namun yang pasti,  tafsir kita bukanlah Al Qur’an yang suci.

Tak elok kiranya memaksakan tafsir kita pada orang lain. Tak sewajarnya pula jika menjustifikasi bahwa tafsir kita yang paling benar, sementara yang lain pasti salah.

@lambangsarib

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Syair Arab Langgam Jawa, Penyejuk Jiwa

  1. katacamar says:

    berbagi renungan…
    kadang kita begitu nikmat dengan kenyamanan
    sehingga lupa bahwa tidak semua yang nyaman itu syar’i
    contohnya kain sutra itu sangat nyaman dipakai
    akan tetapi rasulullah melarang lelaki memakainya, pikiran kita bertanya apa yang salah?
    tinggal sejauhmana kita mengimani Allah dan Rasulnya…itulah pilihan
    sehingga…
    kalimat ini “Tak elok kiranya memaksakan tafsir kita pada orang lain. Tak sewajarnya pula jika menjustifikasi bahwa tafsir kita yang paling benar, sementara yang lain pasti salah”.
    sangat tergantung kepada pemahaman kita tentang syar’i. wallahu’alam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s