Keluarga Adalah Benteng Terakhir

“Moco ae sih pak ? Moco  kok ra wis wis ?” tanya istriku kesal. “Ikilo sitik meneh,” jawabku sekenanya, tanpa menoleh. Tetap duduk dan menenggelamkan diri pada lautan kata yang tertoreh di sebuah harian ibu kota. Adalah kebiasaanku, menghabiskan waktu pagi sebelum ke kantor dengan  membaca koran.

“Kae loh anak’em ra gelem adus. Ora gelem sekolah. Nonoton tipi terus.” Kekesalannya nampak jelas pada intonasi dan pemilihan kata. “Wis lah, bene ae. Lagian hujan hujan begini, lebih bagus tidak usah sekolah. Tuh lihat di running text berita, Jabodetabek hujan hingga nanti malam. Wingi aku baca di Yahoo, cuaca buruk hingga tiga hari ke depan.” sanggahku mencoba berargumen.

Tidak masuk sekolah gak papa, itu yang diajarkan almarhum bapak. Namun,  menuntut ilmu itu wajib hukumnya.

Bukan hanya untuk anak, melainkan juga untuk seluruh ummat manusia, di segala umur, baik lelaki maupun perempuan. Jika anak hanya  malas ke Sekolah, ya gak papa.  Lain halnya jika anak berhenti belajar. Jika itu terjadi, orang tua wajib berduka. Harus berfikir keras mendapatkan  cara agar anak antusias dengan kehidupan.  Karena pelajaran terpenting di dunia adalah belajar  kehidupan.

Hukum newton ditemukan karena ada orang berfikir, lalu mencari jawaban atas pertanyaan “kenapa buah apel itu jatuh kebawah, bukan keatas”. Teori evolusi  dipahami setelah orang mengamati perbedaan sekaligus persamaan setiap  spesies.

Bahkan saat ini berkembang pemikiran “jika manusia mampu bergerak sama atau melebihi kecepatan cahaya,  akan menemukan dunia baru, yang  sama sekali berbeda.”  Oleh sebab itu,  kelak perjalanan Isro Mi’roj pun  akan dengan mudah  dijelaskan.

Ingat  kata Ki Hajar Dewantara, bahwa seluruh manusia adalah guru dan seluruh tempat adalah sekolah.  Kalau kita mau menjadi orang tua bijak, ada baiknya kita tak membuat barier antara sekolah formal dan informal.

“Halah omong ae…, ojo kakean moco lah  pak.., mumet aku. Terus nek anake emoh adus kudu pie ?” Istriku memotong. Nampaknya sedikit sewot degan ocehanku.

“Ayo nduk adus…, yuk main gelembung balon dari sabun yuk..  Kalau main gelembung pakai air hangat bisa beesaaar..,” kudengar istriku mulai membujuk Kiky untuk segera  mandi.

Perjalanan panjang mataku mengeksplorasi lembar demi lembar  koran  tertambat pada sebuah kalimat luar biasa. Dengan keras kubaca, “Keluarga adalah benteng terakhir anak buat menghalau  pengaruh negatif  pergaulan. Rumah seharusnya menjadi  tempat terbaik, penuh kehangatan dan kenyamanan. Anak anak yang dibesarkan dalam bingkai kenyamanan dan kasih sayang,  cenderung tumbuh menjadi pribadi  tangguh,  personaliti berkarakter kuat  yang mampu menakhlukkan dunia.”

“Paaak….. Jangan berisiiik..,”  teriak anakku dari kamar mandi.

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Keluarga Adalah Benteng Terakhir

  1. Ryan says:

    Hahaha. Kiky teriak gitu mas?
    Btw dah lama gak ke sini. Pa kabarnya mas?

  2. Pingback: Pantai Indrayanti – Jogja | Life Fire

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s