Hati Hati Berkata Kasar Pada Anak

“Pak tulung  jemurin doong…?” Pinta istriku,  sambil terus menyetrika tiga keranjang baju.  Nada suaranya lemah, penuh harap. Sejenak aku menahan nafas, dengan kemalasan kututup buku berjudul “20 kunci sukses Tony Fernandes” ditangan.

Ditengah suhu udara dingin Jakarta setelah dua hari tak tampak sinar mentari, bergegas kuselesaikan menjemur pakaian dari mesin cuci. Untuk sesegera mungkin menenggelamkan diri lagi  kedalam buku  kisah perjalanan bisnis boss Air Asia. Membaca buku  adalah  belajar.  Membaca buku adalah salah satu cara paling mudah untuk menimba ilmu dan  menemui orang orang hebat,

“Setiap orang bisa terbang. Maskapai penerbangan berbiaya rendah.  Ah…,  andai saja itu bisa dianalogikan buat CSM Cargo. Mampukah jasa kirim barang murah ini  mengikuti jejak langkahnya ?” Lamunanku berkecamuk. Mengiringi  satu demi satu baju tergantung di hanger.

Kata kata Tony sungguh luar biasa. Ada satu yang  mengiang di labirin otak, “Semua orang bisa bermimpi, namun hanya sedikit yang bertanggungjawab terhadap mimpinya. Sementara di bab lain ia mengatakan, “Yakini hal yang tak dapat diyakini, impikan hal yang tak mungkin terjadi dan jangan ada jawaban tidak. Believe the unbelievable. Dream the impossible. Never take no for an answer.”

Kedua kalimat itu membiusku. Membawa terbang tinggi dibawa angan. Seolah mencabut sukma. Menggelorakan semangat dan memompa motivasi yang tumbuh tenggelam.

“Bapak…, bapak sedang ngapain ?!”  tanya Kiky mengenyahkan lamunanku. Suaranya begitu dekat. Saat mengarahkan  pandangan, ternyata dia sudah ada disamping. “Pak…, Aku, Kiky mau bantuin bapak.” Sambungnya.

Alih alih membantu, Kiky malah mberantakin apa yang sudah disusun. Tumpukan hanger kocar kacir, jepitan baju tercerai berai,  beberapa helai baju yang  tergantung rapi terjatuh.

“Udah…, udah sana.  Jangan ganggu bapak. Ayo…, sana, sama ibu aja.” Nada suaraku meninggi, setengah membentak. Tak tega untuk marah karena ulahnya.

Kiky diam membisu. Sejenak memandang dengan sorot mata aneh. Kemudian berlari meninggalkanku….

“Ibuk…, ibuuk…, ibuuuk…, bapaknya gak mau dibantuin…. Bapaknya marah….” Kudengar suara anakku menghiba,  menangis. Berlari kearah ibunya yang sedang menyeterika.

“Oh…, Ya Allah… Apa yang telah aku lakukan ? Apa yang telah aku perbuat ? Apapkah aku kasar pada anakku ?” Batinku berkecamuk, memberontak.  Tangisan anakku bagai geledek disiang bolong. Menampar dan menyadarkan akan segenap kesalahanku.

Aku pun bergegas masuk kedalam rumah. Kudapati anakku dalam pelukan ibunya. Sedang menangis. Memandangiku dengan derai air mata. Pandangan penuh linangan yang meremukkan batin dan perasaanku.

“Maaf nduk…, maaf bapak.  Ayok ikut  bapak yuk..?”

“Ndak mau…, Kiky mau digendong ibu aja…, Bapak marah sama Kiky….”

Maafkan bapakmu nduk,  telah mengajari berkata  kasar. Mencontohkan kemarahan. Maafkan bapak, yang salah memaknai.  Meski kamu telah membuat segalanya berantakan, namun sebenarnya maksudmu sangat mulia.

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

11 Responses to Hati Hati Berkata Kasar Pada Anak

  1. nengwie says:

    Nanti kalau Kikinya sudah tenang, baru diajak ngobrol mas…

  2. Dyah Sujiati says:

    Lagi, lagi, baca tulisan ini jadi terbayang masha and the bear😀

  3. abi_gilang says:

    Pengalaman sendiri suka nyesel kalo udah ngebentak anak:mrgreen: Kiky makin pinter ya bantuin Bapak🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s