Bahagia Itu Sederhana

Bahagia itu sederhana. Kalimat itu seringkali kudengar  dari banyak orang dengan latar belakang berbeda.

Seorang sahabat yang setiap harinya berprofesi sebagai penjual mie ayam  suatu kali megatakannya. Bahkan, untuk membenarkan konstruksi argumentasi,  dilengkapilah  kalimatnya menjadi, “sering seringlah datang kemari, di rumah Allah. Disinilah tempatnya orang orang berserah diri, berkumpul dan mengharap menjadi  kekasih Tuhan. Tempat para pemilik keteduhan hati biasa menghabiskan waktu. Bertafakkur, berzikkir dan mengingat Allah. Selain sederhana, kebahagiaan itu teramat murah.”

Biasanya aku manggut manggut saja mendengarkan tausiah sang ustadz. Tak ada sesuatu pun yang keluar dari mulutnya selain kebaikan.  Meski hanya penjual mie ayam,  otaknya sangat cerdas.  Rangkuman file nukilan ayat suci  Qur’an dan ribuan haditz nabi tertata rapi dalam labirin otaknya. Kata kata rujukan dari orang orang sholeh terdokumentasi dengan baik.  Sehingga dengan mudah dicari saat dibutuhkan.

Mungkin hanya nasib yang membedakannya dengan para ustadz artis yang sering nongol di tivi.  Selama lebih dari tujuh tahun kami bersahabat, ternyata tak sebutir biji sawipun kedengkian bersemayam dihatinya.  Atau mungkn Tuhan memiliki cerita lain dibalik ini semua. Hanya Allah lah yang maha tahu.

Lain dengan kawan yang satu lagi. Seringkali ia mengatakan, “kebahagiaan itu sederhana, yang rumit adalah tafsirnya. Lakukan saja apa yang kamu suka, apa yang menjadi passionmu, niscaya kebahagiaan yang kau impikan kan menghampiri.”

Dihadapannya aku  bagai anak SD  yang tah tahu apa apa. Berdiam diri dengan mulut menganga, mendengarkan untaian narasi sarat makna. Nama Pramoedya, Tan Malaka, Socrates, Che Guevara, dan Karl Marks, seringkali dia sebut. Diantara puluhan nama lain yang sangat asing di telinga. Namun, prosa yang tertata rapi itu seolah  nyata dan benar adanya.

Pilihan kata, diksi dan narasi yang dipilih begitu mempesona. Merangsang adrenalin otak untuk larut dalam argumentasi yang dibangun.  Maka pantaslah  jika  teman teman menganggap dia seorang pujangga. Derajat keilmuwannya cukup tinggi. Terbukti dengan deretan  gelar akademis yang  memperpanjangkan  nama.

Sekali waktu notasinya meledak ledak layaknya seorang Andre Wongso. Tak lama kemudian  mendayu  merangkai kata kata indah Kahlil Gibran.  Dan diantara semuanya, cerita  dari buku Nasaruddin Hoja lah yang paling menarik.

“Mbang…, ingatlah  selalu ! Ikuti kata hatimu,  lakukan yang menurutmu benar dan menyenangkan.  Itulah esesni kebahagiaan yang sebenarnya,” katanya saat terakhir ketemu.

Kini aku  bagai seorang anak  kebingungan di persimpangan jalan. Tak tahu kemana hendak menuju dan  tak tahu dari mana berasal.  Penjual mie ayam dan sang intelektual, dua duanya sahabatku. Mereka berdua seolah menarikku ke kutub masing masing. Sesuai dengan pemahaman yang dimiliki.

Aku hanya mampu  merasakan, bahwa perbedaan diantara  keduanya sangat tajam. Yang satu ke barat, sementara yang lain ke arah timur. Namun aku hanya mampu merasakan, tanpa mampu menterjemahkan perbedaan itu dengan kata kata.  Sebagai manusia bodoh, aku tak mampu memilih salah satu yang tebaik. Keinginanku hanya satu, tidak mau menyakiti perasaan mereka berdua. Karena keduanya adalah sahabat karib.

Sam Ratulangi pernah berkata, “Manusia baru dapat disebut manusia, jika sudah dapat memanusiakan manusia.”

Suatu kali istriku  pernah menulis di akun twitternya, “baity jannatii, rumahku adalah surgaku. Rumahku adalah istanaku.” Saat aku melamunkan makna yang tersirat, tiba tiba saja teriakan Kiky  mengagetkanku.  “Pak…, ini Kiky pinter ni… Kiky sudah bisa menggambar pupus karupus.”

“oh iya nduk…? Jawabku sekenanya. “Iya…, gambar pupus karupus kan gampang. Bulet, bulet, bulet, kasih telinga, kasih kaki dan ekor. Jadi deh pupus karupusnya.” Anakku mencoba menerangkan.

Aku tersenyum, memandanginya lekat lekat. Mata kami pun beradu. Mata sedikit sipit itu seolah  bersinar,  menularkan  aura kegembiraan. Menghujam hingga ulu hatif.  Tanpa bicara, karena pandangan mata sebenarnya sudah menceritakan berjuta makna. Dan, waktu pun seolah berhenti. Untuk menghormati kebahagiaan kami. Kebahagiaan yang teramat sederhana.

@lambangsarib

 

 

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky, Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Bahagia Itu Sederhana

  1. winnymarch says:

    bahagia itu hanya perasaan jd buat simple saja🙂

  2. abi_gilang says:

    Assalamu’alaikum Pak Lambang sehat? udah lama saya ngga aktif di blogsphere nih. Kiky makin pnter aja ya apalagi skrg udah sekolah🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s