Kisah Singa Yang Tak Bisa Membaca

Malam semakin larut, suara berisik orang lalu lalang di jalanan depan rumah perlahan menghilang. Suara binatang liar  dari sub ekosistem  anak sungai ciliwung di belakang rumah menggantikannya. Pada saat bersamaan, lonceng jam terdengar beredentang sepuluh  kali.

Dari sudut mataku bisa kulihat Kiky masih asyik menarikan  pensil waran warni pada  selembar kertas. Gambar segerombolan semut  membuatnya larut dalam imajinasi. Perpaduan sempurna antara kertas, pensil warna dan imajinasi menghasilkan  kreativitas.

Sementara itu,  aku masih asik berbaring di ujung ranjang,  bersebelahan dengan meja tempat anakku menggambar. Ingin rasanya aku melanjutkan membaca, namun ternyata mata tak biasa diajak kompromi. Kelopak mata mulai berat,  ingin rasanya segera terpejam. Aku mulai menguap beberapa kali. Buku yang ada di tangan pun  kututup.

“Ora ngantuk to nduk…?” tanyaku dalam hati. Sengaja tak  kuucapkan, karena takut memecah konsentrasinya. Aku tak ingin menghancurkan motivasinya. Aku tak berharap imajinasi maksimumnya terkoyak hanya karena aku mengantuk.

Di sudut kamar sebuah rak  dengan koleksi buku yang berantakan. Aku teringat dengan seorang kawan penulis buku yang belum pernah diterbitkan, Babad Tanah  Blora.  Soesilo Toer namanya. “Perpustakaan yang berantakan adalah tanda bahwa buku bukunya dibaca. Buat apa perpustakaan rapi, koleksi buku berlimpah, namun tak seorangpun membaca ?” begitu kata katanya yang mampu kiungat.

Saat berada di ruangan berukuran 3×3 meter persegi.  dipenuhi dengan ratusan esai, artikel dan buku,  seolah seolah aku ditemani orang orang hebat di kolong langit ini. Mereka bagai hadir dihadapanku,  siap mentransfer  seluruh ilmu yang dimiki. Menularkan kehebatan isi otaknya dan menularkan firus  intelektualitas.

Membaca bisa juga dikatakan sebagai rekreasi imajiner. Imajinasi kita akan dibawa ke delapan penjuru mata angin, ke belahan bumi manapun kita hendak menuju.  Tidak hanya itu, dalam perjalanan, kita akan ditemani  orang orang hebat, orang orang berpengaruh. Yaitu orang orang yang mampu mengubah peradaban.

Itulah kehebatan buku. Maka, bacalah ! Sebagaimana yang difirmankan Tuhan untuk pertama kalinya. Aku yakin, firman itu bukan hanya untuk  muslim, melainkan pada seluruh ummat manusia secara umum.

Sekali lagi, bacalah. Karena membaca itu jauh lebih mudah daripada menulis.

“Pak bacain….” Suara anakku tiba tiba. Membuyarkan lamunanku.

Kiky  sudah berdiri tepat disampingku. Pandangan mata jernih dengan sorot mata tajam. Menceritakan banyak hal, melukiskan pengharapan sangat  akan  kesudianku membacakan. Tangan mungilnya menyodorkan sebuah buku berjudul “Singa Yang Tak Bisa Menulis.”

Sudah beberapa kali buku itu kubacakan. Buku bergambar dengan tokoh utama seekor singa.  Bahkan aku sangat yakin  Kiky sudah hafal betul, halaman per halaman. Namun  entahlah, dia masih saja meminta untuk diceritakan.

Di awal kisah, singa itu merasa hebat. Sebagai raja di raja hutan belantara, ia merasa tidak perlu belajar membaca dan menulis. Karena toh, dengan kekuatan otot, kuku setajam pisau dan   taring bak belati,  seluruh binatang di hutan sudah terintimidasi.

Sebagai raja, kekuasaannya mutlak, absolut. Seluruh titah dan keinginannya harus dijalankan, tanpa kecuali.  Jangankan menghina, memberi nasehat saja tak seekor  binatangpun  berani.

Semua takut diterkam, lalu tubuhnya dicabik cabik.  Bahkan  dimakan hidup hidup.

Hingga suatu hari singa menerima sepucuk surat yang ditantar oleh burung merpati. “Baginda singa, ini ada surat,” kata merpati menjelaskan. “Surat…? Surat dari mana merpati ?” jawab singa penuh selidik.

“Beberapa hari yang lalu, saya  terbang dan beristirahat  di pulau seberang. Hutannya sama lebatnya dengan  disini. Lalu saya bertemu sang raja di sana. Dia bilang, bahwa baginda adalah teman mainnya waktu kecil. sehingga, dia menulis surat ini dan meminta saya menyerahkannya pada baginda.”

Singa pun girang. “Wah… siapa teman mainku dulu ? Di hutan mana sekarang dia tinggal ?” pertanyaan itu berkecamuk di hati sang raja. “Wahai burung…, tolong bacakan surat itu.” Kata singa memerintahkan.

Burung merpati membuka amplop dan mulai membaca surat.

Apa kabar sahabatku,

Ingat aku ? Aku yang kamu tolong dulu waktu terjerembab di lerengn gunung. bagaimana kabarmu sobat ? Kapan kita bisa bertemu lagi ?

Saya merindukanmu.

Singa tampak antusias mendengar burung merpati membaca. Ia  termenung. Tak berapa lama kemudian singa  tertawa sendiri. “Terimakasih merpati, kamu sudah membacakannya.” kata singa.

Merpati pun terbang tinggi, setelah memohon diri.  Ia berjanji akan datang beberapa hari lagi untuk mengambil surat balasan dari sang raja.  Dengan terbangnya merpati, maka tinggallah singa sendirian. Surat  dari sahabatnya di tangan. Dan raja tidak tahu, harus bagaimana untuk membalasnya.

Singa bergegas menemui monyet. “Hai monyet…, tolong tuliskan surat untuk membalas surat sahabatku.” seru singga.  Tanpa bertanya, segera monyet menulis surat. Tak butuh waktu lama bagi monyet menyelesaikannya. lalu, diserahkan  surat itu pada sang raja. Setelah itu monyet segera pergi,

Beberapa hari kemudian, datanglah si burung merpati. Singa pun menyerahkan surat itu. “Tolong kamu bacakan surat ini sebelum kamu kirimkan  ke sahabatku,” kata singa memerintahkan.

“Baik yang mulia,” merpati pun mulai membaca.

Untuk sahabatu,

Datanglah kemari, kita bisa bisa bermain bersama. Memanjat pohon, berkejar kejaran di dahan  dan bergelantungan dengan ekor. Disini banyak pisang. Kita bisa berpesta pisang bersama. Aku tunggu di di pohon yang paling tinggi di hutan ini.

Sahabtamu yang merindu.

“Tidaaak….. !!!” Teriak singa sangat marah. “Aku tidak akan menulis surat seperti itu ! Aku tak suka pisang ! Aku tak bisa memanjat pohon ! Aku tidak mau seperti itu….!”

Singa sangat  murka. Aumannya membahana, membuat seluruh penghuni rimba lari, menyingkir karena ketakutan.  “Mana monyet .. ! Mana monyet kurang ajar itu….!  Awas kamu monyet ..! Kamu telah  menghinaku…!  Aku akan cabik cabik kulitmu, kuremukkan tulangmu !”  Teriak sang raja penuh amarah dibalut emosi.

Tak terkecuali si burung merpati, ia  pun ketakutan. Tanpa permisi,  merpati terbang tinggi  meninggalkan  sang raja yang sedang murka.

“Pak…, kui anake wis turu.” seru istriku menghentikanku membaca. Tiba tiba saja dia  sudah berada di bibir pintu. Entah sudah berapa lama ia disitu mengamati.

Kualihkan pandanganku kesamping. Sepertinya Kiky sudah tertidur pulas, sambil memeluk boneka empus kesayangannya.

@lambangsarib

 

 

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

7 Responses to Kisah Singa Yang Tak Bisa Membaca

  1. Rak buku sy jg berantakan
    Berarti tanda sy rajin baca ya pak??

  2. winnymarch says:

    bener gk sih crtnya ini

  3. alfasemua says:

    Suka membuat cerpen?:)
    Follow back ya mas :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s