Tulisan Adalah Sejarah Kehidupan

Notifikasi aplikasi WA berdenting sekali. Simbul lingkaran warna hijau dengan ganga telepon warna putih berkedip. Suara dan simbul itu adalah padanan serasi, tanda sebuah pesan masuk.

Setelah kusentuh layar sabak, sedikit memberi tekanan dan menggesernya jelaslah sudah dari siapa pesan itu berasal. Dari seseorang yang kuberi nama honey.

Madu ? Apakah madu itu nama seseorang ? Tidak umum bukan ?

Benar, honey adalah nama yang kugunakan untuk menyimpan nomor ponsel istri. Beberapa teman pernah usil bertanya, kenapa mesti honey ? Kenapa tidak menggunakan nama  sayang,  istri, atau bahkan langsung saja nama aslinya.  Biasanya aku tak menjawab, hanya senyum yang kulempar. Karena toh pertanyaan seperti itu tak perlu dijawab. Tak terlalu penting untuk menjelaskan alasannya pada orang orang yang hanya berstatus sahabat.

Entah semenjak kapan aku mulai memadankan orang orang yang kusayangi dengan madu. Dan aku pun tak paham pula kenapa hal itu menjadi pilihan.

Boleh jadi karena orang orang yang disayangi itu bisa disebandingkan dengan madu. Yang suci, manis,  berasal dari saripati bunga, dan sangat beragam manfaat daripadanya.

Komposisi utama madu adalah glukosa yang sangat mudah dan cepat diserap sistem pencernaan tubuh. Menjadi sumber energi yang baik dalam metabolisme. Oleh sebab itu para atlit sering mengkonsumsi madu sebagai pasokan karbohidrat untuk menggantikan yang terbuang saat berlatih. Asupan ini sudah dipercaya dan digunakan bahkan semenjak jaman romawi dan yunani kuno.

Itulah salah satu keutamaan madu disamping seabrek kegunaan yang lain. Sama halnya dengan orang yang kita cintai. Lingkaran dalam kita adalah istri dan anak. Merekalah sumber energi terbesar dalam mengarungi ganasnya kehidupan. Merekalah sumber dari segala sumber motivasi. Merekalah satu satunya suporter kehidupan yang nyata.

Tanpa cinta kasih dari anak istri, hidup terasa hampa. Masa depan seolah gelap gulita tanpa lentera. Kehidupan berlalu begitu saja tiada bermakna.

Mungkin itulah salah satu sebab mengapa aku lebih memilih kata “honey” untuk mengabadikan namanya dalam daftar nama di telepon genggam.

Mengenai pesan yang masuk tadi, ternyata bukan sederetan kata  penuh makna, Melainkan rekaman pendek suara seseorang.  Akan tetapi itu bukanlah  suara merdu istriku yang mengingatkan untuk menyegerakan sholat.

“Pak lambang… sini, itu char..char..charger eya eya yo-nya rusak. Yang hitam…” Suara anakku dengan intonasi dan morfologi  khas,  terdengar nyaring dari speaker yang tertanam di hanphone.

Eya eya yo adalah kata yang digunakan anakku untuk menyebut tablet. Kami memahami dan membuat kesepakatan bersama akan hal itu.

Di awal “demam tablet”  beberapa tahun lalu. Itu bertepatan dengan usia emas anakku  belajar berbicara. Jangankan mengucap sebuah kata, kemampuan paling hebatnya adalah  mengucap pak dan buk.  Selain itu, tangisan dan bahasa isyarat menjadi bahasa sehari hari.  Untunglah hubungan emosional kami sangat dekat, sehingga  bahasa isyarat dan tangisan cukuplah bagi kami sekeluarga berkomunikasi.

Salah satu lagu favorit  Kiky hasil download  adalah nyanyian bule yang menceritakan kehidupan coboy pemilik sawah dan pertenakan. Sepenggal syairnya adalah  “Oh… Mc Donald had a farm… Eya eya yong….”

Dari sebait lagu itu, ternyata yang dia mampu tiru hanyalah yang terakhir, eya eya yong. Maka, mulai saat itu hingga menit ini disepakati bahwa tablet itu sama dengan eya eya yong. Dan entah sampai kapan kesepakatan ini akan ditaati bersama.

Hal ini sekaligus membuktikan bahwa anak laksana spon kering yang siap menyerap air. Anak bagaikan kertas seputih salju  yang siap dilukis warna warni diatasnya. Anak adalah netral, tergantung orang tuanya kemana hendak dibawa dan diarahkan.

Anak akan mencontoh  apa yang dilihat. Anak akan menirukan  apa yang dia dengar. Anak pasti serupa dengan apa yang dia rasakan. Sesungguhnya, anak adalah plagiat yang sempurna.

Adalah pilihan orang tua, kepada siapa anak anak mencontoh. Bisa saja mereka menirukan tokoh antagonis pada serial  sinetron karya Punjabi. Mungkin juga pada pembantu yang hampir setiap waktu bersamanaya. Atau mungkin pada siapapun yang dia temui di jalanan.

Apakah kelak anak akan memplagiat orang tuanya, ataukah memplagiat orang lain, seluruhnya adalah pilihan orang tua. Sebagaimana yang ditulis oleh Kahlil Gibran, “anakmu sesungguhnya bukan anakmu.”

Mengenai suara anak  yang memanggilku dengan sebutan “Pak Lambang…,” aku yakin itu adalah hasil dari  mendengarkan staff  kantor memanggilku. Karena aku, istri, om, tante, mbah kung dan mbah yi  belum pernah sekalipun  mengajarkan Kiky  memanggilku dengan sebutan itu. Aku sangat yakin dia mencontoh dari apa yang didengarnya waktu ikut kerja di kantor.

Sengaja aku tulis disini, di coretan yang kelak akan menjadi buku. Buku sejarah kehidupan keluarga kami.

Ada dua alasan mengapa aku capek capek menuliskannya. Pertama, bahwa catatan ini akan selamanya abadi. Sebagaimana yang sering dikatakan oleh mendiang  Pramoedya Ananta Toer, bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Kedua, tulisan adalah sejarah kehidupan. Diakui atau tidak, suka atau tidak, entah kecil ataupun besar, catatan sejarah akan menjadi rujukan orang lain untuk mempelajari masa lalu.

Mengenai tulisan dan masa lalu. Kita harus berterimakasih pada sosok Multatuli atau Edward Douwes  Decker,  dengan karya monumentalnya Max Havelaar. Dari karyanya kita bisa tahu bagaimana politik  cultuurstelsell dijalankan. Betapa  menderitanya penduduk pribumi yang notabene pemilik sawah dipaksa menanam kopi, nila dan tembakau. Dan hasil jerih payahnya  diserahkan para penjajah.

Dari buku itu pula kita bisa merasakan bagaimana sedihnya orang orang di daerah Lebak, Banten akibat politik tanam paksa ini. Dan mungkin ada diantara kita yang saat ini membanding bandingkan dengan kiprah  pejabat Banten yang kini di bui, Ratu Atut Chosiyah.

Perbudakan yang telah dihapus oleh Raffles, dihidupkan kembali oleh Jenderal Johannes Van Den Bosch pun kita bisa baca. Bahkan pada masa itu, seorang lurah dan bupati bisa mewariskan  jabatan yang diemban pada anak anak mereka. Syaratnya hanyalah pengabdian mutlak pada pemerintah Belanda. Dan disaat yang sama menindas rakyat.

Mungkin agak mirip dengan apa yang terjadi saat ini. Dimana politik dinasti menjadi idaman banyak penguasa. Legitimasinya  adalah demokrasi dan persamaan hak. Trah Sukarno, trah Suharto, trah SBY, dan mungkin kelak ada tran Jokowi. Adalah contoh nyata yang bisa kita ajukan.

Dari catatan harian yang ditulis  seorang Kartini, yang kini menjadi salah satu sejarah terbaik negeri ini. Mungkin bisa kita bisa memetik banyak hikmah. Bagaimana kita sebagai orang tua semestinya bertindak dan  memahami perasaan seorang anak gadis menyongsong kedewasaan.

@lambangsarib

 

 

 

 

 

 

 

 

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Tulisan Adalah Sejarah Kehidupan

  1. lazione budy says:

    dulu pas masa awal pacaran saya juga menamai kontaknya dengan nama ‘Honey Bunny’.
    Setelah resmi jadi pasangan ‘Lovely Mey’.
    Setelah punya anak jadi ‘Bundanya Hermione’.

    Tapi tetap dia semanis madu..
    >.<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s