Anak Bertanya, Mengapa Cicak Bisa Merayap di Dinding ?

“Pak, kenapa cicak tidak jatuh naik naik tinggi di tembok ?” Tanya anakku suatu waktu. Pertanyaan itu sontak menghentikan keasikanku membaca buku karangan Pramoedya Ananta Toer.  Satu satunya sastrawan negeri ini yang pernah dapat nominasi sebagai peraih nobel sastra.

Buku berjudul “Anak Semua Bangsa” itu sungguh menarik untuk dibaca. Buku itu seolah mesin waktu. Imajinasiku terbawa menyusuri lorong zaman  masa kolonialisme. Emosi kita teraduk aduk saat mencoba memahami orang tua  Nyai Ontosoroh yang memaksanya menjadi  gundik pembesar belanda.  Imbalan yang didapat pun tak lebih dari sekedar  jabatan “juru bayar pabrik gula” bagi sang kakak.

Lembar demi lembar buku itu dibaca, semakin terbenam pula kita dibawa. Diombang ambingkan dalam ketidakpastian dan kesengsaraan orang pribumi. Kontras  dengan kemewahan  para penguasa berlidah api. Hanya dengan berdehem orang kulit putih itu mampu membuat kaum pribumi terjengkang. Dan jentikan jarinya begitu perkasa untuk menggerakkan orang orang untuk mengikuti kemauannya.

Kututup buku tebal itu seiring dengan tarikan nafas panjang. Mengerutkan dahi, mengumpulkan sisa sisa konsentrasi yang berserak. Mencoba mengaduk aduk semua ingatan untuk menysusun jawaban paling tepat untuk pertanayaan anakku.

Ternyata bukan jawaban yang keluar dari mulutku. Melainkan sebuah tanya, “Kiky bisa naik naik kayak cicak ? Menempel di dinding ?”

Anakku tersenyum, memandang dan menggeleng. “Tidak bisa pak,” katanya. Kemudian ia menambahkan, “Kiky mau seperti cicak. Kiky mau bisa menempel di dinding.”

Sekali lagi kukerutkan dahiku. Mencoba mengais ingatan yang tercerai. Semakin kucoba mencari, ternyata semakin susah menemukannya. Reflekku menuntun jemari ke jidat. meremas remas dengan kelima ujung jari. Reflek yang terjadi begitu saja, tanpa diminta.

“Baru pusing ya pak.., bapak baru pusing ya…” tanya anakku. “Ehm, ehm…,  ora nduk, bapak ora pusing kok.” jawabku seketika.

Terus terang saja pertanyaan Kiky membuatku pusing. Pertanyaan yang tak kuduga sebelumnya. Pertanyaan sangat sederhana, namun perlu penalaran sempurna.

Aku teringat sebuah sobekan kertas koran bekas. Entah koran apa dan kapan aku membacaya pun tak ingat sudah. Lamat lamat yang kuingat adalah aku masih duduk di sekolah dasar di kampung saat itu. Sebuah artikel tertulis di sobekan  koran bekas bungkus cabe saat ibu pulang dari pasar.

Memang waktu dulu bungkus sayuran di pasar tidak menggunakan plastik seperti sekarang, melainkan menggunakan kertas bekas. Entah itu kertas koran, kertas HVS bekas, atau kertas apapun, yang fungsinya menggantikan daun untuk membungkus.

Pembungkus belanjaan sekarang didominasi plastik.  Material ini adalah penemuan yang dianggap luar biasa di abad 21. Menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia modern.  Kreativitas  brilian produk polimer sintetis ini awalnya dianggap menjadi solusi peradaban. Namun ternyata sebaliknya. Akhir akhir ini plastik dianggap menjadi sumber masalah lingkungan. Karena sifatnya yang tak bisa diurai oleh alam,  pencemaran limbah  plastik di seluruh dunia tak terhindarkan. Sudah pada ambang batas yang  mengkhawatirkan.

Tulisan pada sobekan kertas bungkus cabe itu samar samar bisa kuingat. Bahwa cicak mampu “menempel” atau merayap di diniding tanpa jatuh bukan karena makhluk itu mampu melawan gaya gravitasi. Melainkan pada kakinya terdapat bantalan berlapis (lamellae) yang ditutupi tonjolan menyerupai kait. Berukuran sangat kecil (Vilositis) dan memiliki daya rekat yang kuat.

Tonjolan itu disebut spatulae dan  berada pada bulu-bulu halus bernama setae, yang berjumlah hingga 500 ribu. Bulu-bulu ini mengandung zat bernama keratin. Jika bulu-bulu ini ditekankan, maka semua spatulae akan melekat dan mencengkeram erat.

Itulah sedikit penjelasan rasional yang mampu aku ingat. Berkah membaca sobekan kertas koran bekas.  Permasalahannya adalah, “bagaimana aku menjelaskan hal ini pada anakku ? Bagaimana menyederhanakannya sehingga mudah  dipahami anak TK ? ” pertanyaan itu berkecamuk dalam hati. Semakin lama kupikir, bukan pencerahan yang kudapat. Melainakan  kebingungan yang sangat.

Apakah aku harus katakan  bahwa cicak mampu menempel pada dinding memang sudah dari sononya begitu ? Ataukah harus kujawab bahwa itu kehendak Tuhan, jadi tak perlu dipertanyakan lagi ? Bukankah Tuhan memang  berfirman, “kun fayaakun – jika Tuhan berkehendak, maka jadilah”

Kalau jawaban ini kuberikan, bukankah sama artinya  dengan mengamputasi rasa ingin tahunya ? Memberangus nalar kritis anak ? Membunuh  tradisi intelektuan anak yang dianugerahkan Tuhan sebagai bekal sejak lahir ?

Namun jika argumen logis yang kuberikan. Seperti apa yang pernah kubaca pada sobekan kertas koran. Bagaimana harus merangkum susunan kata yang pas agar dimengerti ?

“Tuh pak…., tuh…, tuh.., cicaknya lari lari pak.  Cicak kalau haus mimik dimana  pak ?” Teriak anakku membuyarkan konsentrasiku. Belumlah lengkap rangkaian prosa yang hendak kususun, Kiky sudah menanyakan hal baru yang menguras  energiku berfikir.

“Nduk bapak belum tahu. Tapi bapak berjanji besok akan mencarikan jawaban untukmu. Besok sabtu malam kita ke Gramedia ya ? Kita cari dan beli buku tentang cicak. Nanti bapak bacain.” jawabku menirukan  kata kata sihir yang pernah diucapkan  ibunya Alfa Edison. Saat  Edison kecil  bertanya,  mengapa telor ayam  yang dia erami tidak menetas.

Untunglah dulu  aku pernah membaca, meski hanya dari koran bekas bungkus cabe. Benarlah apa yang dikatakan Soesilo Toer (adik Pramoedya Toer), “bacalah, karena membaca itu lebih mudah daripada menulis. Menulislah, maka kamu akan abadi.”

Aku harus berterimakasih pada seseorang. Entah siapa dia, entah dimana dia sekarang. Seseorang yang pernah menulis pada sobekan koran. Tulisannya adalah jawaban untuk pertanyaan anakku berpuluh tahun kemudian. Tulisan adalah  simbul keabadian. Keabadian buat kita, anak semua bangsa. Untuk belajar dari masa lalu  dan mengukir masa depan.

@lambangsarib

 

 

 

 

 

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

10 Responses to Anak Bertanya, Mengapa Cicak Bisa Merayap di Dinding ?

  1. pitaloka89 says:

    kiky kritis ya.. semoga jadi anak cerdas…🙂

  2. jampang says:

    agak susah yah menyesuaikan jawaban ilmiah ke dalam bahasa anak-anak.

  3. Okti D. says:

    bagaimana kalau pakai analogi dulu untuk menjelaskannya?🙂
    Tetralogi Buru adalah salah satu buku kesukaan saya, sosok dan karakter Nyai Ontosoroh sangat menginspirasi meskipun disitu dia hanya gundik.

    • lambangsarib says:

      Analogi memang sangat membantu, tapi mencari analogi yang pas pun dibutuhkan kreativitas orang tua ya ?

      Membaca Tetralogi Buru sungguh luar biasa. Saya teringat kata Budiman Sudjatmiko bahwa membaca tidak saja menambah ilmu, akan tetapi juga mengubah seseorang.

      Saya tidak tahu hubungan antara membaca buku karya pram dengan perubahan perilaku. Yang saya lihat faktanya hari ini adalah, seluruh teman teman politisi yang dulu aktivis, hampir semuanya pernah membaca bukunya Pramoedya.

      Ada yang bilang, “sekali kamu baca buku2 karangan Pram, maka kamu akan menjadi radikal.”

      Setuju dengan itu ?

  4. hidayat says:

    Pak mohon maaf Artikel yg bapak tulis kok kata2nya bertele2 sekali … Saya jadi kurang tertarik membanyanya…
    Sekali lagi mohon maaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s