Sepenggal Cerita Di Pagi Hari

Dalam keseharian, hal terindah dalam hidup adalah berinteraksi intens dengan anak. Setiap kali anak  terbangun di pagi hari, harus dipastikan bahwa ibu atau bapak adalah orang pertama yang dilihatnya. Begitu pun di malam hari, aku dan istri berkomitmen bahwa kamilah orang terakhir yang dilihat anak sebelum ia terlelap ditelan gelombang mimpi.

Bahkan, aku punya keinginan yang hampir mustahil terwujud. Yaitu, ingin menemani anak dalam mimpinya di keheningan malam.

“Lho kamu baru tahu to… ? Kerjaan utamaku kan momong anak ? Kalau urusan internal meeting di kantor, lalu ketemu pelanggan di suatu tempat,  ataupun urusan tetek mbengek lain yang berhubungan dengan pekerjaan adalah  sambilan.” Itu adalah jawabanku dengan berkelakar kalau ada klien atau teman bertanya berkenaan dengan pekerjaan.

Bagiku keluarga adalah segalanya. Anak dan istri adalah yang pertama dan utama. Tak satupun urusan kantor yang mampu merusak kebersamaan keluarga kami.

Seperti apa yang kualami pagi ini. Jam delapan adalah saat mengantar anakku ke sekolah. Kuantar anak dan istriku ke TK garuda dengan sepeda motor. Sengaja kucari jalan melingkar dan yang sepi.  Jalan yang lebih jauh, dibanding jalan pintas yang padat.  Sengaja memilih jalan itu, agar kami bisa  berlama lama di jalan.

Bercanda dan bersuka ria  adalah cara kami menikmati hangatnya jilatan sinar matahari pagi di kulit ari.  Konsekwensi yang kami terima adalah kulit yang  menghitam.  Mungkin saja, orang lain menyebutnya legam.

Sebagian orang menganggap kulit putih seperti  artis Michael Jacson adalah idaman. Oleh sebab itu, beberapa artis negeri ini konon rela tubuhnya  di injeksi  serum suntik putih (whitening injection). Untuk  mendapatkan alibi “kecantiakan”. Bermacam varian vitamin C ditawarkan para salesman kecantikan. Vitamin C plus tathion (penghambat pigmen), collagen hingga placenta. Semuanya dibumbui adol umuk wiraniaga  menawarkan “kemolekan”  putri kayangan.

Zat yang beracun itu telah  mengobsesi sederet artis.  Satu persatu menjadi korban, namun berderet lain mendaftar sebagai relawan. Namun entah mengapa, bagiku kulit hitam natural itu lebih baik. Orang jawa dulu sering berujar, “ireng irenge sepur, meskio ireng akeh sing ngenteni,”  ada benarnya juga.

“Anak’em kudu sering mbok pepe le…, srengenge esuk kui mengandung vitamin D. Apik kanggo kesehatan bocah.”  Itu adalah kata kata dari seorang wanita yang menyebabkan aku terlahir di dunia ini. Wanita yang sangat aku kagumi. Wanita yang tak kan pernah aku tolak permintaannya. Ibuku mengatakannya bertahun lalu. Namun gemanya membahana di rongga otak,  seolah baru beberapa jam yang lalu diucap.

Sepulang dari nganter anak, barulah aku masuk kerja. Di jam prime time ini aku habiskan waktu untuk telpon pelanggan, membalah surat surat elektronik, main twitter, ataupun meeting internal dengan staff.

Syukurlah Tuhan memberiku sedikit kemampuan untuk memimpin. Meski kecil,  organisasi perusahaan ini selayaknya  disukuri. Meski kadang aku pun bingung menemukan cara untuk bersyukur. Sebuah tanya kadang terlintas, “apakah aku memeluk Islam ini karena kutukan lahir, ataukah  justru karena aku sebagai seorang kufur ni’mat.”

Aplikasi chating  Whats Up di smartphoneku berdenting sekali. Lirih memang. Namun kiranya itu cukup untuk menghentikan lamunanku yang konyol itu. Kuambil  telepon genggam itu dan membaca pesan yang disampaikan.

Pak, sedelok maneh Kiky balik. Bisa jemput ? Atau balik numpak bajaj wae ?” pesan singkat dari  istriku. Dalam hitungan detik, jemariku langsung beraksi diatas sabak. Tak tahu aku bagaimana caranya, tiba tiba di layar sudah tertulis, “aku jemput sekarang. Tunggu…”

@lambangsarib

 

 

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Sepenggal Cerita Di Pagi Hari

  1. jampang says:

    kalau bisa kalimat yang berbasaha jawa diberi terjemahannya, mas…. biar saya ngerti😀

  2. miartmiaw says:

    So sweet banget bapaknya anak! 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s