Agar Anak Gemar Membaca, Bukan Bisa Membaca

Sudah seminggu ini kamar depan yang sering kami gunakan untuk istirahat siang  sedikit berbeda.  Penataan ruang ini di ubah oleh sang maestro.  Tidak tanggung tanggung,  yang melakukannya adalah  ahli khusus  terbaik di dunia.  Apalagi waktunya  berbenah bertepatan dengan pelantikan Jokowi sebagai Presiden  ke tujuh.  Sungguh spesial tentunya.

Siapakah orang yang dimaksud ?  Dialah  sang pemilik sebenarnya rumah tangga kami. Dialah sang motivator nomer wahid. Dialah suporter kehidupanku yang sebenaranya. Yaitu ratu keluarga kecil kami,  istri.

Di pojok ruangan sengaja dilengkapi dengan sebuah meja tulis lengkap dengan laptop dan lampu belajar.  Lenovo hitam dan lampu phillips  tertata rapi  diatas meja bergambar aneka fauna lucu. Tentunya ini  menjadi sebuah padanan yang enak dipandang dan menggairahkan.

Keyboard Casio yang menjadi teman kegalauanku sudah  dikeluarkan dari kamar. Begitu pula gitar akustik   kecil   kesukaan anakku. Kedua alat musik itu kini  menjadi penghias  salah satu sudut ruang keluarga.

Sebuah jendela menghadap ke barat, berhiasakan  gorden warna biru tua yang tampak anggun bersanding dengan kusen jati berplistur coklat tua.  Jendela bukanlah hanya ruang hampa tempat sirkulasi udara. Akan tetapi menjadi  tempat dimana aku dan anakku seringkali menghabiskan waktu berduan.

Memandangi  rintik hujan membasahi bumi, menebarkan aroma kedamaian, sambil menyanyikan syair lagu karya Ibu Sud.  Nada dan syairnya persis sama dengan yang diajarkan ibuku dulu. Sehingga, jendela pun terkadang berubah  menjadi mesin waktu yang menghubungkan anakku dengan leluhurnya.

Jendela pun seolah menjadi jembatan  penghubung antara  surga di dalam rumah kami dengan kerasnya kehidupan diluaran sana. Jika rumahku adalah istanaku, rumahku adalah surgaku, boleh jadi dilura rumah adalah neraka dunia buat anak anak. Kalau orang tua tiada waspada,  anak  anak bisa  menjadi korban dari  srigala kehidupan  yang buas. Dan, srigala srigala itu boleh jadi berbulu domba nan menawan.

Adalah juga sebuah tempat dimana aku sering memanggil  sahabat sahabat pemulung yang kebetulan lewat. Hanya  untuk sekedar berbagi, jika kami memiliki sesuatu berlebih.  Tempat aku sering bermanja  manja dengan siraman sinar  senja diantara waktu luangku bekerja.

Semuanya begitu indah. Terlebih lagi saat anakku duduk disampingku.

“Pak bacain ini…,” pinta anakku membuyarkan lamunan. Kupandangi matanya yang bulat berhias alis mata  tebal diatasnya. Senyumnya sangat menawan, menampakkan deretan gigi “wiji timun” yang patah dua,  tepat di bagian gigi seri bagian atas.

Sungguh, tak satupun di dunia ini yang mampu menghadirkan kebahagiaan  melebihi kebahagiaan orang tua  saat mendapat senyuman terindah dari anak. Kebahagiaan itu sempurna saat  anakku mendekat dan mencium pipiku.  Pada momen  itu terjadi, ingin rasanya dunia berhenti berputar dan waktu berhenti berdetak.

“Jangan buku itu nduk…., iku bukune bapak waktu sekolah dulu.” Kuambil buku yang disodorkannya, lalu meletakkan di ujung terjauh sudut meja. Sebuah buku berwarna biru bertuliskan Indonessian Association Of Geologist, Proceedings, Volume 2. “Hm…, buku itu sudah lama sekali  tidak dibaca nduk. Tahukah kamu, itu setebal 1000 halaman. Pakai bahsa Ingris, yang bapak sendiri tak pernah paham maknanya.” Gumamku dalam hati.

Kuraih sebuah buku yang tertata rapi di rak  tepat di belakang kursi. Buku berwarna hijau dengan gambar beraneka binatang lucu. “Ini aja ya nduk, tak wacakne iki ae. Nih…. FABEL,  Pengenalan Hewan..,” aku mencoba membujuk dengan membaca cover buku. Jariku menunjuk nunjuk  beberapa binatang. Berharap anakku nurut dan ikut kemauanku.

“Nggak mau pak…, nggak mau…., Kiky maunya dibacain buku itu.” Jari telunjuk mungil ini menunjuk buku tebal yang aku singkirkan tadi. Dengan terus merengek, ia memaksaku membacakannya.

Orang tua mana yang tega melihat anaknya merengek dan menangis ? Mungkin hanya orang gila yang mampu melakukan itu. Entah mengapa, dalam hidup aku berprinsip bahwa anak adalah segalanya. Anak adalah nomer wahid. Sebagai orang tua, sudah seharusnya kita mencurahkan segenap kasih sayang. Sebagai orang tua, kita harus memanjakan anak  dengan perhatian, waktu dan tentu saja cinta.

Aku pun mulai membaca buku tebal itu. Entah karena terlalu lama tak pernah menggunakan bahasa asing. Entah karena sehari hari aku lebih bangga menggunakan bahasa jawa. Bahkan,  saat bertemu rekan bisnis  selalu kukatakan, “sepenting pentingnya bahasa Inggris, bagi kita pelaku usaha pengiriman barang antar pulau di Indonesia, bahasa Jawa  lebih penting. Kalau ketemu orang di Aceh, Tarakan, Menado, bahkan di Timika Sekalipun, selalu saja pelaku bisnis pengiriman barang adalah  orang Jawa.”

Mendengar ocehanku itu, biasanya kawan kawanku tertawa. Entah apa maknanya, aku pun tak memahami.

Aku memulai membaca dengan terbata. Kata demi kata, baris demi baris, hingga beberapa alenia sudah kubaca dengan keras.

Kulirik Kiky, ternyata ia sangat antusias mendengarkan. Aku tak tahu, apa yang ada di benaknya. Jangankan anak  yang sekecil itu. Aku pun tak memahami apa yang sedang aku baca. Aneh aja rasanya, membacakan sesuatu yang aku tak paham kepada anak yang tak mengerti, Tapi itulah kenyataannya. Dan lebih anehnya lagi, kami berdua berbahagia karenanaya.

Terkadang kebahagiaan itu hadir tanpa sepatah katapun. Tak terucap. Kebahagiaan akan hadir karena keterpautan dua  hati yang bersemi  karena cinta.

Tiba tiba anakku mengambil sebuah buku lagi. Kali ini yang diambil adalah buku Risalah Tuntunan Shalat Lengkap. Bergambar orang sedang ambil air wudlu,  ruku dan sujud. Buku bersampul ungu itu kini terbuka sudah. Tepat dihadapan anakku.

Kemudian, dengan suara lantang  berpuluh  kata keluar dari mulutnya. Sementara jari mungilnya menunjuk deretan huruf hijaiyah. Aku sangat yakin dan paham, bahwa  ia tak memahaminya. Ia hanya berakting membaca, menirukanku.

Aku teringat seorang ulama pernah berkata, bahwa mendidik anak itu tidak susah. Bahkan orang tua sebenarnya  tak perlu mendidik, ujaranya. Yang harus dilakukan  orang tua adalah  memberi contoh pada anak, apa yang seharusnya diperbuat. Maka, otomatis anak  menirukannya.

Memang benar bahwa anak akan menirukan apa yang dia lihat, apa yang dia rasakan dan apa yang didengarnya. Tak kurang dan tak lebih, hanya itu.

Maka, saat orang tua mengharapkan anak suka bernyanyi, maka sering seringlah menyanyi di depan anak. Saat orang tua mengharapkan anak suka menari, maka sering seringlah anak diajak menari bersama.

Aku sendiri lebih menyukai kalau anakku gemar membaca.  Tetapi, aku tak akan mencarikan guru les terbaik untuk mengajari  membaca, karena guru terbaik sebenarnya adalah kedua orang tuanya. Aku tak akan ambil pusing  jika anakku lambat memahami huruf demi huruf, disaat teman teman sebaya  sudah mampu membaca.

Aku hanya ingat apa yang pernah dikatakan istriku, bahwa, “tak penting kapan anak mulai bisa membaca. Yang terpenting adalah  membuat anak  gemar membaca.”

Ada benarnya kata seorang filsuf bahwa, sekolah  tidaklah wajib. Yang wajib bagi anak anak kita adalah belajar dan bermain.

@lambangsarib

 

 

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky, Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

7 Responses to Agar Anak Gemar Membaca, Bukan Bisa Membaca

  1. jampang says:

    semoga aja kurikulum sekolah di negeri ini segera diperbaiki…. biar anak-anak nggak merasa dipaksa untuk belajar…. tapi menjadi gemar belajar

  2. Setujuu pak, anak harus bermain dan belajar😀

  3. miartmiaw says:

    PR juga bagi saya kelak agar anak gemar membaca.
    Orang tua harus bisa beri contoh/teladan, kemudian anak observasi lanjut modelling🙂

  4. maghdalena1 says:

    suka🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s