Perilaku Anak, Gunakan Sudut Pandang Yang Dilandasi Cinta

“Bapaaaak…..,” teriak anakku sambil menubrukkan tubuh mungilnya. Itulah rutinitas yang dia lakukan untuk merayakan kepulanganku dari seharian bekerja. Biasanya aku langsung memeluk, dan menggendong.

Tak lama ia bertengger di pelukanku. Tak seperti beberapa tahun yang lampau. Jika dulu, aku mampu menggendong hingga hitungan jama, maka kini hanya mampu dalam hitungan menit.  Maklum saja, kini Kiky sudah besar.

“Wah…, Kiky sudah besar ya ? Kakimu sudah panjang nduk…,” kataku beralibi. “Iya…, Kiky sekarang sudah besar, Kiky sudah sekolah, kakinya paanjaaang…, dan tiiinggiii….” Kata yang serupa itu selalu  diulang ulang setiap kali kutanya.

“Beratmu berapa nduk ?” tanyaku lagi. “Tujuh belas kilo pak…, tingginya  satu meter.” Begitu dia selalu menjawab. Biasanya aku hanya tersenyum dan mencium pipinya. Karena aku sangat paham, bahwa ia belum tahu sama sekali akan makna akan jawaban  yang baru saja diucap.

“Pak bapak…, ikannya mati.”

“Hah…? kenapa ? kenapa bisa mati nduk ?” tanyaku tak mengerti. “Iya…, tadi ikannya mati, terus Kiky buang deh ke kali,” jawab anakku.

“Pie kon ora mati, wong iwak kok dipakani rinso.” Suara yang sangat aku kenal itu terdengar dari arah dari ruang sebelah. Nada suaranya sangat kuhafal. Suaranya lirih namun kharismatis.

“Suara itulah yang meluluhkan keangkuhan hati bapakmu nduk. Suara itulah yang membuat bapak berani mengambil sikap. Menentukan arah dan langkah, kemana kehidupan akan dituju. Kemana kapal akan tertambat.”  Kukatakan itu pada anakku tanpa kata kata.  Aku berharap, dia mengerti. Entah kini, ataupun kelak.

“Hm…. Kiky tadi kasih makan ikan ya… ?” tanyaku. “Iya…, tadi Kiky kasih makan. Kasihan ikannya lapar dan haus. Tapinya ikannya mati…, tapinya…” Anakku mencoba menjelaskan. Sekali lagi kucium keningnya. Untuk mengungkapkan rasa cintaku yang tak berbatas.

***

Sepenggal kejadian diatas bisa dilihat dari dua sudut pandang, positif maupun negatif. Cara pandang yang digunakan seseorang akan sangat berpengaruh pada buah pikiran selanjutnya. Pada gilirannya, akan menentukan argumen yang dibangun. Serta kesimpulan yang akan diambil.

Jika menggunakan sudut pandang negatif, tentu saja cerita di atas akan menjustifikasi bahwa anak tersebut adalah nakal, susah diatur, bandel, bodoh, dan seabrek “kata cacian” lainnya. Yang bila dituliskan, mungkin segudang kertas tak kan sanggup menampungnya.

Lain halnya apabila yang digunakan adalah sudut pandang positif. Maka argumentasi yang dibangun adalah rangkaian makna untuk menjustifikasi bahwa anak tersebut adalah anak pintar, kreatif, mau belajar, otaknya bekerja, berfikir, cerdas, dan berjuta “kata pujian” lain. Jika dituliskan, pun sanggup menjadi beribu jilid buku.

Jadi, sudut pandang adalah kunci dari sebuah penilaian. Ada baiknya, untuk memulai menilai apa yang dilakukan anak, mulai dengan “cinta”. Jika itu menjadi landasannya, sudut pandang positif seringkali menjadi dasar pijakan pertama dan utama.

 

@lambangsarib

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s