Anak Lebih Penting Dibanding Perdebatan UU dan Twitter

Menjelang maghrib. Kuhempaskan kepenatan tubuh yang menua ini keatas sofa. Di ruangan tengah, tempat keluarga kami membagi cinta dan asa.  Sebuah televisi yang  tertempel di dinding kubiarakn menyala.

Merengkuh remote control yang ada diatas  sofa, untuk kemudian memencet beberapa tombol untuk mendapatkan  saluran berita.  Seketika pandanganku serius kearah kotak ajaib itu.  Focus, seakan  tak berkedip.

Seorang host lincah memainkan kata kata. Berakrobat memberikan waktu nara sumber bersilat lidah. Dua orang politisi papan atas, berbeda partai. Dua pengamat  politik berbeda sikap sepertinya  sedang asik berdebat. Adu argumentasi   sangat keras.

Tak ada yang mau mengalah, bahkan menghentikan laju pembicaraan pun enggan. Semua merasa benar,  mengatasnamakan rakyat. Semua merasa paling legitimate berbekal “mandat rakyat.”

Mereka sendang beradu argumen  tentang Undang Undang Pemilu. Satu kubu mewakili pilihan langsung, sementara  kubu yang lain mewakili pemilihan  melalui  DPRD.

“Kok benar semua sih ? Bukankah perdebatan terjadi karena perbedaan prinsip ? Kenapa kalau para politisi  bicara, dua pihak seolah benar semua ? Lalu yang salah siapa ? Kalaua tidak ada yang salah, mengapa pula diperdebatkan ?” pikiran itu berkecamuk di labirin otakku.

“Ah embuh…, yang penting hakku untuk memilih tidak hilang ! siapapun penguasanya, aku gak peduli,” teriakku dalam hati.

Sesekali kubuka twitter dari smart phone yang selalu kugenggam. Entah mengapa, semenjak  internet menguasai kehidupan kita, kebiasaan menggenggam smart phone seolah menjadi keharusan.

Lini masa dari  Gunawan Moehammad terbaca jelas, “Sejak saya kanak kanak, rakyat dusun memilih langsung kjepala desa  mereka. Hanya dusta Orde Baru yang mengatakan rakyat tak mampu memilih pemimpin.” 

Tulisan itu seolah mesin waktu, membawa anganku ke masa beberapa puluh tahun silam. Masa kanak kanan di kampung.  Bahwa benar adanya, di kampung dulu, pemimpin selalu dipilih langsung oleh rakyat. Baik itu pemimpin formal, apalagi non formal.

 

 

 

Ketika  asik membaca lini masa,  “pak, pak…, pak…., bapak jangan main eya-eyo. Eya-eyonya dibuang saja,” kata kata anakku membuyarkan  konsentrasiku membaca timeline.

(Eya-eyo adalah nama yang kami berikan untuk seperangkat alat elektonik yang bernama smart phone atau tablet.)

Aku tersadar. Sontak kumatikan tablet yang kupegang, meletakkannya di meja tak jauh dari kursi biru. Kupandangi anakku tajam,  kupeluk dia dengan spenuh kasih. Dalam hitungan detik, kini Kiky sudah ada di gendonganku.

“Maaf ya nduk…, bapak sayang kamu. Bapak tak kan main eya-eyaong lagi jika kamu ada disamping bapak.” Kubisikkan kata itu, sambil kucium pipinya yang ranum.

@lambangsarib

 

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Anak Lebih Penting Dibanding Perdebatan UU dan Twitter

  1. 'Ne says:

    oh so sweet Pak Lambang hehe.. bener banget ya keluarga dan terutama anak-anak mesti diprioritaskan dulu apalagi kalau dibandingkan dengan linimasa hehe..

    Kiky udah besar ya🙂

  2. winnymarch says:

    setuju mas keluarga yg utama,. kalau negara kt ini UU suka suka terganutng mood #miris

  3. jampang says:

    mudah2an nggak tergoda main saya eya-eyo kalau anak yang ngajak main😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s