Bunga adalah Cinta

“Kak ini kak bunga. Warnanya merah dan harum. Cobahalah di irup, harum kak.” Kata anakku sambil menyodorkan sekuntum bunga liar pada saudara sepupunya.”

Sesaat saudaranya terdiam, bengong mematung, dari mimiknya ia tampak kebingungan. Tak lama kemudian, diterimanya bunga itu dan diletakkan begitu saja diatas meja. Kiky mengamati dengan sedikit kekecewaan. Entah apa yang dipikirkannya.

Kiky memang suka sekali memetik bunga untuk sekedar diberikan ke teman atau saudara. Itulah hal yang aku ajarkan semenjak ia sudah bisa berjalan. Sekitar tiga tahun yang lalu. Saat usianya belum genap setahun, saat ia sudah mulai bisa berjalan.

Setiap pagi, aku bawa ia berjemur sambil bermain ditaman. Menghangatkan badan sekaligua mengenalkan beraneka flora fauna. Tak heran, di usianya sekarang beraneka serangga, binatang liar dan bermacam tanaman telah dikuasai namanya satu per satu.

Adalah kebiasaanku dulu, sebelum pulang ke rumah, menyuruhnya untuk memetik sekuntum bunga. Apa saja. Kadang mawar, melati, bunga bakung, bahkan bunga liar sekalipun, seperti bunga putri malu. Setelah dipetik, dihirupnya bunga itu sambil berkata, “hm…. Haruuum.”

“Ambil yang paling harum nduk, buat oleh oleh ibu di rumah. Ibu kan sayang Kiky. Ibu kan nungguin Kiky dirumah.” Itu mantra yang selalu kuulang. Tak bosan mengulangnya. Dalam hati aku berjanji untuk mengulang hingga ia dewasa kelak.

Mungkin itulah yang menyebabkan anakku berfikir bahwa semua orang yang dikasihinya, yang dicintainya menyukai bunga. Kakek, nenek, dan seluruh saudara di kampung akan dikirimnya bunga yg dipetik dijalan.

Tentu saja ia akan kecewa jika ada yang tak mau dihadiahi sekuntum bunga. Ia berfikir bahwa bunga adalah lambang cinta.

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
This entry was posted in Kiky and tagged . Bookmark the permalink.

8 Responses to Bunga adalah Cinta

  1. jampang says:

    wah…. romantisđŸ˜€

  2. Bunga adalah lambang cinta. Kiky sudah pinter memaknainya.
    Terlebih bunga edelweiss yg merupakan lambang pengorbanan *katanya*

    Masih belum terlambat …
    Taqabbalallahu Minna Wa Minkum. Mohon maaf lahir batin ya, Pak Lambang.
    Selamat merayakan lebaran bersama keluarga, saudara, dan handai taulan. Semoga bertemu Ramadhan kembali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s