Hari Pertama Ke Sekolah

“Assalamualaikum nduk…, ayo  bangun. Sudah jam enam nih, tuh matahari sudah bangun. Kepik merah dan belalang sembah juga sudah bangun. Ayo  bangun …” Kucium pipi  anakku sembari membisikkan salam. Sambil terus berusaha membangunkan, “Ayo anak pinter, anak bapak yang cantik, ayo  bangun.., hari ini kan mau sekolah ? Kiky kan sudah gedhe, sudah mau sekolah.”

Tak butuh lama membangunkannya. Karena memang bertepatan dengan jam biologisnya bangun. Setelah beberapa saat kami berdua  bermalas malasan, aku ajak Kiky menemui ibunya untuk segera mandi.

Hari ini senin  tanggal 14 Juli 2014, adalah hari pertama tahun ajaran baru. Menurut almanak jamaah Muhammadiyah, hari ini bertepatan dengan tanggal 15 Romadlon. Tak terasa sudah setengah bulan suci ini telah dilalui. Tak terasa pula dua minggu lagi hari raya idul Fitri menjelang.

Dalam kurun waktu itu pula, tak banyak amal sholeh ditorehkan. Jangankan kataman qur’an, sholat lail saja bolong bolong. Jangankan berbagi untuk sesama, kirim ta’jil ke masjid saja terasa berat.

“Duh celakanya…, ternyata waktuku hanya habis buat ngetwit dan ngetwit. Komen sana dan sini. Bagi bagi link dan meme yang aku sendiri tak tahu akan kebenarannya.  Lalu tenggelam dalam dukung mendukung calon presiden yang semuanya tak ku kenal. Duh.., alangkah bodohnya aku.” Anganku mengembara liar tiada arah.

Pilpres 9 Juli 2014 memang mengharu biru negeri ini. Hajatan lima tahun sekali ini mampu membentangkan jarak antar dua orang kawan dekat. Mampu memposisikan kedua kubu berhadap hadapan, bahkan saling bermusuhan. Masyarakat guyup yang tunggal pun seakan terbelah, Muaranya hanya satu, yaitu “kekuasaan” untuk menjadi orang nomer satu.

Untunglah nalar dan otak kita masih bekerja waras. Hingga tak setetes darahpun menetes membasahi tanah negeri. Tak sekalipun kekerasan mewarnai. Hal ini membuktikan, bahwa rakyat Indonesia cinta damai. Rakyat indonesia bisa menerima demokrasi. Sekarang berpulang pada pemimpin, apa mereka memang benar benar demokrat sejati.

Dehem anakku menghentikan lamunanku.  “Nduk…, nanti bapak anter kamu ke sekolah. TK Garuda adalah sekolah formal pertamamu. Kamu adak bertemu dengan pendidik keduamu setelah aku dan ibumu, yaitu guru.  Kamu akan bertermu kawan kawan baru di sekolah.” Aku nerocos sambil menyiapkan beberapa kerat roti tawar untuk sarapan.

“Sekolah ya pak ?” tanya Kiky.  “Iya betul nduk. Sekolah pertama dan utama adalah di rumah. TK Garuda adalah sekolah keduamu. Sebenarnya, semua tempat adalah sekolah. Karena, disemua tempat di muka bumi ini kamu bisa menarik pelajaran.”

Aku terus saja menasehati anakku.  Entah mengapa ini kulakukan, padahal sejatinya aku yakin Kiky sama sekali tak paham akan nasehatku. “Guru utama dan pertamamu adalah ibu dan bapakmu ini, yang selalu mencintaimu, menyanyangimu dan melindungimu. Gurumu nanti adalah guru kedua. Sebagaimana sekolah, sejatinya seluruh manusia adalah guru. Kamu bisa menarik ilmu dari siapa pun.”

“Konon nduk, hidup adalah pilihan. Begitu pun tentang ilmu. Kamu bisa menarik hal hal baik dari setiap orang. Akan tetapi dalam kebaikan setiap manusia, pasti ada keburukan bersamanya. Bapak hanya berharap, kamu kelak mampu memilih dan memilah. Mengambil yang baik baik dan melupakan yang jelek. Mikul duwur, mendem jero.”

Sementara aku masih asik dengan Kiky, televisi di depan kami tak henti hentinya menyiarkan hajatan besar yang menarik perhatian manusia se jagad. Dibelahan barat bumi ini,  rakyat Jerman sedang bersuka ria. Turun ke jalan jalan. Bukan untuk memprotes kebiadaban tentara Israel membantai rakyat Palesttina. Melainkan  merayakan kemenangan pertandingan sepak bola.

Tim nasional  Jerman mengalahkan Argentina dengan skor tipis 1-0. Artinya,  Jerman juara dunia sepak bola tahun  2014.

Jerman saat ini berbeda dengan Jerman di era Hitler. Semasa tokoh diktator  rasis paling kejam  ini berkuasa, ia pernah menulis dalam bukunya, “Di sini, saya meyakini bahwa saya bertindak sebagai utusan dari pencipta kita. Dengan melawan Yahudi, maka saya melakukan pekerjaan Tuhan.”

Jerman sekarang adalah negeri demokratis sekuler yang paling toleran di Eropa.  Rakyatnya  sudah mampu menerima perbedaan ras. Mereka berpandangan bahwa “perbedaan adalah sunatullah”.

Kemenangan ini mereka rayakan bersama. Bukan hanya untuk ras Arya sebagai suku mayoritas. melainkan untuk semua golongan dan warna kulit. Untuk seluruh strata sosial.  Selain ras Arya,  ras  Asia (Turki) dan beberapa keturunan Afrika kini berbangga dengan menyebut dirinya sebagai warga  Jerman. Dan mereka membuktikannya dalam piala dunia kali ini.

Hari ini Jerman  mendapatkan kejayaan yang pernah hilang. Itu semua terjadi, setelah  mereka mampu menakhlukkan egoisme pribadi. Setelah mampu melawan fasisme dan rasisme didalam diri mereka. Jerman saat ini mampu menerima perbedaan. Menerima plurasime dan kesetaraan.

“Ayo…, cepetan. Wis setengah pitu ?! Ngko telat…” Suara istriku memaksa kami berdua untuk segera bergegas.

Saat anakku mengenakan sepatu, aku keluar rumah untuk mengambil sepeda motor. Segera kami bertiga menuju sekolah barunya Kiky.

 

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Hari Pertama Ke Sekolah

  1. sendairawanpratono says:

    Selamat belajar Kiky

    • lambangsarib says:

      Hehehe… Setelah copras capres. Sekarang mulai belajar lagi mas.

      Mas. Aku mau buat buletin. Mau pasang iklan tdk. Writing school tidak. ?

      Gratis. Cuma minta tlg buat tulisan dikit. Hehehe

  2. Waaa kiky udah sekolah yaa,… semangat ya kiky,…

  3. abi_gilang says:

    Selamat ya buat Kiky…ternyata hari ini adalah “hari besar ” dimana Kiky mulai memasuki masa sekolah🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s