Kebun Raya Bogor dan Museum

Hari minggu kemarin, aku, anak dan istri berlibur  ke Kebon Raya Bogor. Entah sudah berapa puluh kali kami mengunjungi taman  kota hujan itu. Taman garuda yang elok, kolam gunting yang meneduhkan, monumen istri Rafles yang tampak angkuh. Semua ada  diantara rerimbunan berjuta jenis flora berumur puluhan tahun. Sub ekosistem alam dan habitat beberapa fauna liar ada di dalamnya.

Istana kepresidenan yang  mashur terletak di dalam kompleks  taman. Bangunan era kolonial bercat putih, masih tampak kokoh berdiri. Berada ditengah  padang rumput dengan beratus rusa liar.

“Besok tanggal 13 Juni adalah hari jadi Kota Bogor. Pada hari itu masyarakat umum seperti kita  boleh masuk ke istana,” kata seorang pemandu wisata. “Oh iya… Berapa tiket masuknya pak ?” kataku menimpali. “Gratis kok, kita bisa berkeliling keliling istana sepuasanya. Paling paling kita kasih aja uang rokok ke penjaga.” Katanya menjawab.

“Kok… ? Ada uang rokoknya ?! Tanyaku penuh keheranan. “Iya lah pak, kan memang sudah biasa begitu ?! Kalau te’ ayak uang rokokna, aih aih.., kumahak gitu loh pak..!”

“Apakah korupsi di negeri ini sedemikian parah ?  Kenapa hampir setiap sendi kehidupan korupsi selalu bersamanya ? Korupsi adalah tinggalan kaum feodal produk kolonialisme. Kenapa kemerdekaan tak mampu menghapusnya ?”  Pertanyaan  itu terlintas begitu saja, tak terjawab.  Menghirup  nafas panjang dan menghembuskan perlahan adalah salah satu caraku untuk menenangkan diri.

Secara geografis letaknya tak terlalu jauh dari ibukota. Terletak pada daerah dengan  topografi  pegunungan bergelombang sedang. Kali ciliwung yang bermuara di Jakarta membelah taman ini.  Dimusim penghujan debit airnya cukup tinggi, hingga mampu menenggelamkan beberapa wilayah di Jakarta. Arusnya mengalir deras  diantara  bolder bolder  batuan andesit berukuran  besar.

“Sungai ini bernama Kali Ciliwung,”  pemandu wisata yang tadi berbicara lagi. “Di ujung sana adalah pohon meranti kembar, berumur lebih dari 120 tahun. Di puncak rerimbun  dihuni habitat kelelawar. Lihatlah  yang berwarna hitam bergelantungan, itu adalah kelelawar,” ia menambahkan sambil menunjuk. Dan kami pun hanya mampu  berdecak kagum.

“Pak maaf.  kita turun di depan Musium saja,” kataku memohon sopir  menghentikan laju mobil. Anggukannya cukup ampuh, sehingga dengan mudah kami turun dari mobil wisata. “Matur nuwun mas,” kata istriku saat kakinya menginjak bumi. Disaat yang sama, Kiky berucap, “Thank yu…” Dan aku hanya bisa tersenyum.

Bergegas kutarik  Kiky berjalan  kearah musium.  “Ora mbayar kok, wis dadi siji karo tiket masuk.” Kata istriku saat kuberi isyarat untuk membeli tiket. “Wah…, keren yo..,” kataku penuh apresiasi. “Ayo nduk masuk, kita lihat hewan hewan didalam.”

“Pak…, look ! Itu tulang tulang ! Tulangnya berdiri berdiri.” Kata anakku menegaskan. Jari mungilnya menunjuk sesuatu. “Oh itu nduk…, itu namanya kerangka. Itu kerangka anoa yang diawetkan. Lalu disusun sedermikian rupa. Ditopang besi behel, sehingga berdiri. Seolah olah tulang belulang itu hidup. Sebenarnya itu bukan tulang nduk, tapi fosil.” Mendengar penuturanku, Kiky hanya melongo. Aku yakin ia tak paham, dan aku pun mengalami hal yang sama  untuk merangkai kata yang tepat untuk menjelaskan.

“Pak… Pak… Kok hewan hewannya pada diem ? Kok nggak lari lari sih…” Tanya anakku. Lagi lagi aku tertegun, tak tahu harus menjawab apa. Kata kunci “binatang mati”, “diawetkan”, “air keras”,  bergantian terlintas diantara labirin otak. Namun sayang, tak kuasa  aku merangkainya untuk konsumsi anak anak.

Dalam kebingunan, aku  teringat kata kata seorang pakar. Entah siapa namanya, aku lupa. Bagiku itu tidak penting. Seperti kata pepatah,  “dengarkanlah  apa yang mereka ucapkan, bukan siapa yang mengucapkannya.”

Museum seharusnya tidak berhenti sekadar menjadi situs konservasi. Tempat menyimpan benda benda purbakala.  Tetapi harus mampu menjadi pusat transformasi kebudayaan. Koleksi museum harus terus menerus dikaji sebagai artefak. Sebagai kekayaan sebuah bangsa. Yang menghubungkan antara masa lalu dengan kekinian.

Museum adalah kekayaan sejarah. Tempat belajar dan mengkaji masa lalu sebuah bangsa. Tanpa museum, maka sebenarnya kita telah terputus dengan sejarah masa lalu.

Sayangnya, museum yang didirikan pada akhir abad 19 itu koleksinya  banyak yang rusak dimakan usia. Tak terurus. Mungkinkah pengelola dan pemerintah daerah  tidak terlalu peduli ?

Nurcholis Madjid pernah menulis, ” Bangsa Jepang bisa maju karena tidak mencabut akar masa lalu dalam membangun peradaban. Lain halnya dengan Turki, mereka terpuruk karena meninggalkan akar budayanya.”

 

@lambangsarib

.

Butuh jasa cargo murah ?
Pengiriman kargo murah ?
www.csmcargo.com

via twitter @csmcargo
Via fb @csm cargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

7 Responses to Kebun Raya Bogor dan Museum

  1. jampang says:

    😀 komentar kiky lucu

    saya ke kebon raya bogor waktu maasih SD😀

  2. Ku kangen sama bogooor,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s