Sudut Pandang Dan Kepentingan

Hujan turun sangat  lebat berderai,  mengguyur ibukota. Mungkin beberapa orang menyebutnya badai, meski aku tak sepakat. Suatu kali mendiang Presiden kedua kita (Suharto)  di penghujung karirnya pernah  berkata, “badai pasti berlalu.” Dengan senyum khas,  ia katakan itu dengan penuh kepastian.

Saat titik titik hujan mulai menggenangi beberapa ruas jalan, ada dua hal yang terlintas di otakku.  Perrtama adalah Kiky, ia  dengan serta merta akan  menyanyi tik tik tik bunyi hujan. Biasanya mengajakku bernyanyi bersama.

Andaikata ia tak tidur siang ini, pasti sudah kudengar suara merdunya. Bagiku, suara anakku lebih merdu dari suara emas Krisdayanti.

Lagu inspiratif  karangan Ibu Sud ini entah tahun kapan dicipta. Yang jelas, saat aku TK,  sudah diajarkan. Dan aku ajarkan pula lagu itu sebelum anakku sekolah  taman kanak kanak

Yang kedua adalah anak anak jalanan yang mencoba  mengais rejeki. Ada yang menyewakan payung, dikenal dengan sebutan ojeg payung. Ada yang mencoba mengatur lalu lintas, dengan gaya bak seorang polisi lalu lintas.  Serta ada pula yang membersihkan kaca mobil dengan selembar kain bersabun. Apapun yang mereka lalukan, semuanya demi uang.

Bagi sebagian orang, apa yang dilakukan anak anak jalanan ini dirasa mengganggu. Alih alih membuat jaanan lancar, mereka terkadang malah membuat kemacetan semakin parah.

Namun pernahkah kita memposisikan diri sebagai mereka ? Sebagai anak jalanan yang tak pernah merasakan kehangatan tinggal di sebuah rumah  bertaburkan cinta. Tak pernah tahu siapa kedua orang tuanya. Bahkan kata “ayah dan ibu” pun mereka tak memahami maknanya,  Tak sedikit pula  yang berada pada  pilihan “hidup mati” untuk sekedar sepiring nasi.

Sambil mendendangkan irama merdu yang keluar dari dashboar mobil,  sebagian orang mengumpat pejabat yang korup.  Sehingga jalanan semakin bertambah jelek, meski anggaran infrastruktur  bertambah setiap tahunnya.

Beberapa  yang lain  menuliskan cacian itu di twitter dan facebook. Dari  dalam  mobil ber pendingin ditengah kemacetan. Mereka menebar kebencian. Mengabarkan sumpah serapah. Boleh jadi,  beberapa dari mereka pun sebenarnya adalah  bagian dari masalah.

Sementara itu anak anak jalanan menganggap hujan adalah berkah dari Tuhan. Bagi mereka, hujan adalah turunnya  rejeki yang  tiada terduga. Boleh jadi, diantara mereka ada yang meyakini bahwa hujan  adalah  dewa penyelamat dari kelaparan.

Hujan adalah sunatullah kata ahli  kitab. Hujan adalah gejala alam biasa yang dengan mudah dijelaskan dengan teori meteorology dan hidrology, setidaknya itu kata ilmuwan. Hujan adalah momok yang kejam bagi pengguna mobil  mewah dijalanan Jakarta. Dan tentu saja, hujan adalah berkah bagi anak anak jalanan.

Satu obyek yang sama tentu bisa  dimaknai berbeda. Semua tergantung sudut pandang dan kepentingan.

Kadang kala aku berfikir. Apakah pilpres  yang begitu gegap gempita ini  semata mata karena perbedaan sudut pandang dan kepentingan  masing masing pendukung ?

Ah entahlah….

 

 

@lambangsarib

.

Butuh jasa cargo murah ?
Pengiriman kargo murah ?
www.csmcargo.com

via twitter @csmcargo
Via fb @csm cargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Sudut Pandang Dan Kepentingan

  1. jampang says:

    satu kata, satu peristiwa. akan memiliki arti yang berbeda jika dipandang dari sudut berbeda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s