Mengawali Kehidupan Dengan Kebahagiaan

“Bangun pak, sudah pagi. Ayo kita jalan jalan,” suara lirih sayup terdengar di telinga. Kucoba mengumpulkan kesadaran yang tercerai oleh mimpi. Meraup seluruh tenaga untuk sekuat tenaga membuka kelopak mata yang terkatup. Berusaha dan terus berusaha, demi untuk melihat wajah  sang empunya suara lirih itu.

“Itu suara Kiky”, otakku reflek memberi isyarat. Saat aku berhasil mengumpulkan kesadaran, kulihat anakku berdiri mematung diharapanku. Kurengkuh dan  kukecup keningnya dalam kehangatan.  Senyumnya sangat indah, menghadirkan kebahagiaan dan kedamaian. Keelokannya melebihi keindahan apapun di dunia fana ini.

“Matur nuwun nduk…, kamu sudah hadir dalam kehidupan kami. Kamu sudah mewarnai dan meninggalkan bercak kebahagiaan dalam keluarga kami. Kini kamu mampu menjadi “Agen Tuhan” untuk menebarkan cinta. Paling tidak pada aku dan ibumu.” gumamku dalam hati. Sambil tersenyum ia berlari meninggalkanku. Menabrakkan tubuh mungil itu ke ibunya.

***

Pernah suatu hari beberapa tahun yang lalu, kukatakan pada istri, “Sebagai orang tua, kita harus berusaha agar saat anak terbangun, kitalah orang pertama yang dilihatnya. Bukan om, bukan tante,  apalagi bibi. Karena apa yang dilihatnya saat bangun tidurlah yang akan dia kenang sepanjang masa.”

Anggukan istriku saat menyusui Kiky itu masih mampu  kuingat dengan jelas. Saat itu aku menambahkan, “ya…, memang capek. Tapi kita harus kuat dan tak boleh mengeluh. Kata Sukarno, mengeluh adalah tanda orang orang lemah. Kita harus kuat dan  yakin,  bahwa kelak apa yang telah kita perbuat akan berakhir dengan kebahagiaan. Siapa menabur akan menuai”

“Itu semua bukan untuk aku atau kamu. Itu semua demi kita.” Kataku mengakhiri. Untunglah, kala itu istriku tak membantah. Yang kutahu, ia setuju dan melakukannya.

Saat seseorang baru terbangun, kesadarannya tentu belum pulih benar.  Saat seperti ini  seringkali disebut otak dalam  keadaan gelombang “THETA.”  Yaitu kondisi dimana seseorang dalam keadaan rileks, tenang dan penuh kedamaian.

Oleh sebab itu, apapun yang dilihat,  didengar dan dirasakan akan terekam dengan baik. Selamanya tertaut dalam memori  alam bawah sadar manusia. Tak mungkin hilang atau lupa seumur hidup. Dan itu adalah harapan kami sebagai orang tua.

Dan pagi ini, anakku membuktikan. Melakukan hal yang sama dengan apa yang kami perbuat.  Tak ada yang mengajarkan. Tak seorangpun menyuruh. Semua terjadi begitu saja, sangat natural.

Aku tak mungkin mengkonfirmasi  akan klaim ini. Karena, anakku pasti tidak memahami jika diajak bicara serius. Kosa katanya terbatas. Kemampuan nalarnya baru separoh jalan. Wajar saja, karena baru beberpa bulan yang lalu ia berulang tahun ke empat.

Namun keyakinanku bulat. Bukan hanya alibi, melainkan fakta. Bahwa ia menirukan apa yang kami perbuat selama ini. Kebahagiaan  adalah melihat orang orang tercinta dalam mengawali kehidupan.

 

@lambangsarib

.

Butuh jasa cargo murah ?
Pengiriman kargo murah ?
www.csmcargo.com

via twitter @csmcargo
Via fb @csm cargo

 

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Mengawali Kehidupan Dengan Kebahagiaan

  1. abi_gilang says:

    Semoga kebahagiaan juga mengiringi hari2 Kiky ya Pak🙂

  2. jampang says:

    setuju… pengennya wajah kita yang dilihat pertama kali oleh anak saat dia bangun dan terakhir kali saat dia mau tidur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s