El-O-Vi-I

“Nduk, bapak boleh duduk disini? Membaca buku, sambil menemanimu nonton televisi? ” Kataku sambil duduk di kursi plastik warna hijau. Anakku yang tengah tengkurep melihat chanel disney yunior menoleh kearahku, sejenak. “Bolehpak..,” katanya sambil tetap fokus pada layar kaca.

Kubuka buku  ber genre parenting yang tergeletak diatas meja.  Buku yang membahas tentang bagaimana para miliuner di dunia mendidik anak anak mereka. Belum seluruhnya selesai kubaca, namun alur ceritanya sedikit sudah kupahami.

Memang benar kata orang, bahwa buku adalah jendela ilmu. Buku adalah guru yang terbaik, sahabat paling setia dan  tak sekalipun   pernah marah. Oleh sebab itu, berbahagialah orang orang yang menghabiskan waktunya untuk membaca. Mereka bisa mengetahui banyak hal yang tak dimengerti orang. Buku pula yang seolah mampu membawa kita berkelana dari satu tempat ke tempat lain. Berjumpa dari satu tokoh ke tokoh yang lain. Menisbikan batas  ruang dan waktu.

Tanpa buku, peradaban cepat atau lambat kan menghilang. Tanpa buku, maksud  Tuhan tak mungkin dimengerti. Tanpa buku, para durjana akan  menguasai pelosok negeri.

Dari buku aku mengetahui dan bisa belajar pada kaum kaya. Bahwa ternyata mereka tidak dengan serta merta memanjakan anak anaknya. Permintaan anak  yang cenderung egosentris tak kan begitu saja dipenuhi. Mereka tetap memilih dan memilah, walau semua mampu dibeli.

Memang benar, mereka memanjakan anak anak mereka. Akan tetapi bukan memanjakan dengan fasilitas, kemauan dan uang. Mereka memanjakan dengan kasih sayang. Kasih sayang dari orang tua yang sebenarnya.

Satu pemahaman yang sama diantara mereka adalah, sesibuk apapun, anak menjadi  prioritas utama. Anak adalah nomer satu. Mereka berprinsip bahwa waktu utama mereka hanya untuk anak dan keluarga. Sementara itu, waktu sisa baru digunakan untuk urusan bisnis.

“Pinjem pak…, Kiky pinjem….” teriak anakku sambil merebut buku yang sedang kubaca. Andaikata yang merebut buku ini adalah orang lain, tentu aku kan marah. Namun, tangan mungil dan nada suaranya tak mungkin mengaduk emosiku. Urat marahku pun sirna dalam gelombang suara lirih yang kudengar.

Setelah mendapatkan apa yang diinginkan, ia kembali tengkurap. Buku itu saat ini tepat dihadapannya, terbuka, seolah hendak dibaca. Aku tersenyum sendiri, karena aku tahu bahwa ia belumlah mampu membaca, apalagi menulis. Pandanganku tak luput dari setiap gerak geriknya.

Penasaranku semakin bertambah saat melihanya mengambil pensil berwarna yang tergeletak tak jauh dari tempatnya tengkurap. Perlahan namun pasti, ia menggoreskan diatas buku tadi. Tampak jelas…, ia ingin menulis sesuatu.

Satu, dua dan tiga goresan pensil warna diatas buku itu. Semakin banyak goresan yang tertuang, semakin jelas pula apa yang dimaksud. Aku pun terkesima.

“Masya Allah…, ternyata kamu sudah bisa menulis beberapa huruf nduk ? Ini tulisanmu untuk kali pertama bapak saksikan sendiri. Dan kamu mengerti akan hal itu.” Gumamku dalam hati.

Kemudian anakku berdiri, menghampiriku. “Pak… el o vi I pak…,” teriaknya. “Oh iya nduk, itu el o vi I – love” aku menambahkan ejaannya.

“Pinter anak bapak nih…, sudah bisa menulis ya? tepok tangan.., ayo… tepok tangaan..,” aku katakan itu sambil tersenyum lebar dan kedua tanganku mengajaknya bertepuk tangan. Anakku pun tersenyum, dan ikut bertepuk tangan.

“Nduk, Kiky sayang bapak ?” tanyaku.  Dijawabnya, “sayang doong…”, dan aku tersenyum dibutanya. “Kiky  juga sayang ibu kok…,” tambahnya.

Kemudian aku tanya lagi, “Kiky love bapak tidak ?” dijawabnya dengan tegas, “tidak !”

“Ah…, ternyata kamu belum  mengerti makna LOVE nduk…” gumamku dalam hati.

***

Mengenalkan anak pada tulisan memang penting. Namun seringkali orang tua salah persepsi. Mereka merasa bangga jika anaknya mampu mampu membaca dan menulis di usia dini.

Sehingga mereka merasa wajib dan  berlomba lomba  mengirim anak anak mereka ke  sekolah atau les  di usia teramat dini. Bahkan tak segan segan memilihkan sekolah yang difikir  terbaik dan termahal.

Padahal itu semua bukan untuk anak. Melainkan untuk memenuhi ego orang tua agar dianggap sebagai orang tua yang berhasil.

Jika hal itu terjadi, kasihan pada anak anak. Mereka tertekan dan stress.  Waktu yang seharusnya digunakan untuk  bermain, akan habis untuk les yang sama sekali bukan menjadi kemauannya.

Memang benar, jika anak diajarkan baca tulis dan hitung di usia dini, mereka akan dengan cepat paham. Namun, jika masa kecil anak direnggut untuk itu, yang akan terjadi kelak adalah anak bisa membaca atau menulis. Namun, anak tak gemar membaca atau menulis.

Anak, sebagai aset terbesar  peradaban di masa depan. Yang kita harapkan adalah anak anak yang gemar membaca, gemar menulis dan gemar belajar. Bukan hanya sekedar anak yang bisa menulis namun enggan berkarya. Bisa membaca namun tak suka menelaah.

 

@lambangsarib

.

Butuh jasa cargo murah ?
Pengiriman kargo murah ?
www.csmcargo.com

via twitter @csmcargo
Via fb @csm cargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

16 Responses to El-O-Vi-I

  1. jampang says:

    ceritanya mengharukan, mas.

  2. Waa kiky pinter ya udah bisa nulis,..
    mungkin sebentar lagi beralih ke tembok ya pak😀

  3. ayanapunya says:

    Setuju, mas. Sedih lihat gimana anak-anak kita sekarang yang dituntut harus bisa baca tulis pas mau masuk sd. Jadinya orang tuanya jadi ikut maksain deh

  4. abi_gilang says:

    Melihat materi pelajaran sekolah anak2 sekarang saya malah merasa ngeri Pak. Jauh banget dengan apa yang kita terima dalam usia yang sama waktu dulu disekolah. Salam buat Kiky juga🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s