Bendera Kuning

Menikmati sore di taman bunga dekat rumah dengan anak. Seolah dunia ini milik kami berdua, sendiri, yang lain ngekos. Mungkin saja  kenikmatan ini  hanya selapis tipis dibawah indahnya taman firdaus nun jauh disana.

Walau awan tebal menggantung, tak menyurutkan langkah kami berkejar kejaran. Berlari kecil diantara rerumputan untuk berusaha menangkap kupu dan capung. Dan sesekali berusaha menidurkan si putri malu dengan sentuhan jari.

“Pak itu apa… ?” tanya anakku sambil menunjuk sesuatu di ujung jalan. Pandanganku mengikuti arah jari telunjuk lentiknya mengarah. Ternyata sebuah bendera berukuran kecil terpaku di sebuah pohon mahoni tua. Berkibar perlahan  tertiup angin.

“Bagus pak…! Kiky mau bendera itu !!” teriaknya sambil tetap menunjuk nunjuk bendera yang dimaksud. Aku hanya diam, tak merespon permintaanya. Otakku berfikir keras, mencari kata yang tepat untuk menjelaskan makna bendera yang diingingkan. Kadang, teramat sulit berbicara dengan anak yang beberapa bulan lalu ulang tahun ke empat.

“Bagus ya nduk…?” tanyaku. “Iya pak, benderanya bagus. Bendera warna kuning, Kiky mau pak….” pinta anakku mengulang. Kali ini setengah merengek.

Aku masih diam, tak mampu merangkai kata terbaik untuk menolak atau mengabulkan permintaannya. Bahkan, menjelaskan bendera apa itu aku tak memiliki kemampuan.

***

Beberapa saat sebelum bendera itu berkibar.  Hanif, tetanggaku datang ke rumah. Seperti biasanya, dalam logat jawa madura ia mengucap salam. Setelah kubuka  pintu, dia berkata, “Pak Ali mboten wonten umur pak, nyuwun ngapunten nek wonten salah  dosane.”

Mendengar penuturannya, aku kaget. Hanya diam.  Berdiri  bak patung,  kaki terasa berat digerakkan, layaknya terhunjam  kedalam bumi.  Sedetik kemudian reflek  terucap, “innalillahi wainailaihi rojiuun.”

Seorang sahabat pergi, dan tak kan mungkin kembali. Tetangga tepat di samping rumah ini menghembuskan nafas terakhirnya beberapa saat yang lalu. Setelah 3 bulan lebih bergelut dengan penyakit yang diderita.

“Hanif, aku dan keluarga ikut berbela sungkawa. Mohon maaf, hanya bisa mengiring do’a. Tak ada bantuan yang berarti bisa kuberikan.” Jawabku. Dan Hanif pun mohon diri untuk mengabarkan  berita duka ini pada tetangga yang lain.

***

Mengingat berita kematian Pak Ali, aku teringat akan masa masa sulitku. Tujuh tahun bersahabat,  tujuh kali lebaran sebagai tetangga, dan selama itu pula ia banyak memberikan inspirasi. Memotivasi untuk tetap tabah menjalani kerasnya kehidupan dan tamparan  kesulitan.

Suatu hari saya pernah bertanya, “Pak, kenapa bisa samapai ke Jakarta dan berbisnis besi tua ?” Dia menjawab dengan singkat, “nasib.”

Aku tak puas dengan jawaban itu.  Kucoba menggali lebih dalam, akan kiat kiatnya berbisnis besi tua, hingga kesuksesan yang didapat kini. “Bapak lulusan SMA apa kuliah ?” Kemudian dijawab, “boro boro kuliah, ijazah SD saja  saya gak punya.”

“Kok bisa baca tulis ? Menghitung pun fasih. Tulisan bapak pun sangat bagus,” tanyaku. “Gak percaya kalau bapak dulu tidak sekolah.”

Ia menoleh, dengan senyum hangat. Selayaknya senyuman seorang ayah pada anakknya. Masih dalam senyum, dia berkata, “siapa bilang saya tidak sekolah ? kalau ijazah SD memang benar, saya tidak punya.”

Jawabannya membuatku bingung. Mungkin ia melihat kebingungan dari aura wajahku. Kemudian ia melanjutkan kisahnya.

“Di kampung saya, tidak ada anak sekolah di SD, SMP apalagi SMA. Kami bersekolah di madarasah diniyyah, kualitas kampung. Oleh sebab itu saya tadi katakan kalau tidap punya ijazah SD. Kami hanya memiliki secarik kertas kelulusan dari madarash.” Penjelasannya membuat aku mulai paham  akan maksudnya.

Setelah meneguk segelas kopi hitam, ia melanjutkan kisahnya. “Saya datang ke jakarta sendiri. Tanpa sanak, saudara dan kenalan. Orang kampung menyebutnya “nglurug tanpa bolo”. Berbekal selembar surat kelulusan dari madarasah, saya mulai mencari kerja kesana kemari.”

Ia berhenti sebentar, pandangannya menerawang jauh…, entah apa yang sedang dipikirkannya. “Tak satupun perusahaan menerima saya bekerja. Bahkan, untuk menjadi satpam di Djawatan Kereta Api pun saya ditolak. Alasannya, saya buta huruf.”

Intonasi suaranya melemah. Matanya sedikit berkaca. Mungkin saja, dia sedang membayangkan penderitaannya kala itu.

“Namun hidup harus berjalan. Manusia harus tetap beribadah dan mengais rejeki. Singkat cerita, ini semua adalah hasil usaha dan kerja keras. Bersusah payah.  Kesuksesan adalah kristalisasi air mata dan darah.” Katanya. Uraiannya mengena. Terasa lebih berbobot dibanding paparan  Mario Teguh yang sering nongol di Metro TV setiap hari minggu petang.

“Bagaimana sebaiknya saya berusaha agar bisa sukses seperti bapak ?” tanyaku.

“Sukses itu proses, bukan hasil. Kejujuran dalam berdagang adalah kesuksesan pertama berbisnis dan yang utama. Dalam hidup, saya hanya bersenjatakan bismillah.” Katanya mengakhiri pembicaraan.

***

“Pak… Ayo pulang,” teriak anakku menghamburkan seluruh lamunan.

@lambangsarib

.

Butuh jasa cargo murah ?
Pengiriman kargo murah ?
www.csmcargo.com

via twitter @csmcargo
Via fb @csm cargo

 

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

10 Responses to Bendera Kuning

  1. nengwie says:

    إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ
    Semoga Allah SWT mengampuni semua dosa dan menerima semua amal ibadahnya pak Ali..aamiin.

  2. jampang says:

    orang yang luar biasa.
    allahummaghfirlahu warhamu wa’afihi wa’fu ‘anhu

  3. abi_gilang says:

    Orang baik akan meninggalkan kebaikannya bahkan setelah waktu lama berlalu.

  4. Dyah Sujiati says:

    Benddera kuning itu bendera partai yaaa😀

  5. chris13jkt says:

    Kisah hidup Pak Ali betul-betul bisa menginspirasi orang yang mau maju.
    Semoga sekarang Pak Ali sudah berbahagia di alam sana ya Mas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s