Umur Berapa Anak Mulai Mampu Membandingkan ?

Cerahnya pagi ini seolah sirna. Gumpalan awan pekat bergulung memenuhi pemandangan di empat penjuru mata angin. Begitu tebalnya kumpulan uap air menggantung di lapisan trophosfir, hingga sinar matahai tak kuasa menembusnya. Walau hanya untuk seberkas sinar sekali pun.

Kehangatan pagi, keceriaan kawanan burung gereja di atap pasar, digantikan oleh keheningan.

“Pasti banyak orang yang masih terlelap pagi ini. Buktinya, pasar yang biasanya ramai seolah kehilangan gairah,” gumamku dalam hati. Sambil tetap menggendong anakku yang mulai terasa berat. Maklum saja, berkat  ketelatenan ibunya ia tumbuh lebih cepat dari teman sebaya. Tubuhnya memang kecil, tidak over obesitas, akan tetapi padat berisi.

Nduk, lihatlah pedagang sayur diujung sana. Pasti ia sudah bangun sebelum adzan subuh, bahkan  mungkin sebelum ayam berkokok. Lihat juga pedagang tempe di depannya, biasanya mereka mempersiapkan dagangannya di pertengahan malam.  Boleh jadi  dia suah mulai bekerja saat bapak masih asik nonton duel el clasico antara Real Madrid dan Barcelona.

Aku berbicara  sambil menunjuk nunjuk orang orang hebat yang ada di pasar. Kumpulan pekerja keras, demi mencukupi kebutuhan keluarganya. Mereka adalah pejuang sejati. Mereka adalah pahlawan kehidupan sebenarnya.

Mungkin orang lain menganggapku sudah “gila.” Membicarakan  hal seperti itu dengan  anak perempuan yang belum genap empat tahun.  Mereka tak salah, anak dalam pelukan pun sepertinya tak paham dengan ucapanku. Namun aku tak mempedulikan apa kata orang. “Yang penting heppii…,” seperti kata iklan di layar kaca.

Belum selesai menceritakan hebatnya orang orang yang berjihad di pasar tradisional,  anakku memotong pembicaraan. Entah darimana ia belajar. Gayanya mirip  penyiar televisi yang dengan entengnya memotong sebuah perdebatan kampanye calon kandindat.

“Pak…, sepatu kakak bagus.”

Ucapan yang keluar dari mulut mungil itu menghentikan ocehanku. Layaknya mobil truk yang ngejem. Yaitu  mobil yang tengah berlalu kencang,  tiba tiba mesin mati  karena  kehabisan air radiator.  Seketika berhenti.

Tanpa  memperhatikan jari telunjuk mungilnya pun aku mengetahui apa yang dimaksud. “Iya nduk, bagus yah…, warnanya putih, ada boneka kelincinya,” balasku.

“Kiki mau dibelikan itu.. !” ia mulai merengek, menggoyang goyangkan tubuhnya, tanda permintaannya harus dipenuhi.

Sebelum menangis, aku usap rambut hitamnya beberapa kali.  Potongannya mirip dengan  potongan rambut yuni shara di akhir tahun 90’an. Sambil mencium pipinya yang montok, layaknya kamir pemalang, aku katakan, “nduk…, bapak tidak punya uang. Nanti nunggu ibuk yah…”

“Nunggu ibuk…?” katanya dengan nada sedikit meninggi.

“Iya nduk…, ibuk yang punya duit. Nanti Kiki sama ibuk pergi  ke pasar Jatinegara. Membeli sepatu yang bagus yah ? “jawabku. “Mau sepatu Princes Shopia atau sepatunya Diva ? ”

Sebelum sempat menjawab, aku katakan lagi, “nanti bapak titip kueh yah ? kue imi yang ada madunya. Tapi abonnya sedikit saja, jangan banyak banyak. Tolong bapak dibelikan dua bungkus, yang satu bungkus  buat om sulit sulit. Kiki beli satu, dan ibu satu”. Kata kataku nerocos tak terbendung. Mencoba mengalihkan pembicaraan dan menyelimurkan  yang ada di pikirannya.

Ia terdiam. Berhenti merengek  meminta sepatu seperti yang baru saja dilihat. “Ah…, terimakasih nduk. Sudah kamu ingatkan bapak, bahwa ternyata anak seusiamu sudah memiliki pengetahuan dan pemahaman  untuk membandingkan apa yang dikenakan dan apa yang dipakai oleh  orang lain.

Terimakasih nduk…, semoga bapak lebih berhati hati dalam mendidikmu.

@lambangsarib

.

Butuh jasa cargo murah ?
Pengiriman kargo murah ?
www.csmcargo.com

via twitter @csmcargo
Via fb @csm cargo

  

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Umur Berapa Anak Mulai Mampu Membandingkan ?

  1. Suka banget sma caranya om sarib ngerih-ngerih (B.indonesianya ngrayu kali ya )

  2. jampang says:

    sepertinya tiga tahun sudah bisa membandingkan…. pernah suatu ketika saya dan syaikhan jalan berdua.. lalu setiap melihat dua benda atau binatang selalu di komentari… ini syehan ini abi😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s