Waktu Berlalu Begitu Cepat

Aku berdiri mematung tepat didepan pintu utama rumah. Menunggu seseorang membukakan pintu. Dua kali sudah kuketok pintu jati berukir nan kekar, sambil mengucap, “assalamualaikum….”

Sepi. Tak ada suara balasan kudengar. Senyap. Bahkan suara seretan sendal pun tak terdengar. Seolah rumah suwung, tak berpenghuni.

Beberapa saat yang lalu kudengar dentang lonceng jam enam  kali. Namun pagi ini masih sangat sepi. Tak seorangpun tampak berlalu. Rumah di depan pun masih tertutup rapat. Hanya suara air hujan beradu dengan genting terdengar nyaring.

Kucoba mengetuk  lagi, untuk kesekian kali.  “Assalamualaikum nduk…, tolong bapak bukain piantu.” Suaraku  terdengar sayup ditelan  deras hujan.

Untunglah kali ini usahaku tak sia sia. Kulihat gadis kecil menyibakkan tirai dari dalam. “Waalaikum salam bapak…,” serunya dari balik kaca. Sayup kudengar nada suara penuh keceriaan. Warna suara yang sangat aku hafal, bahkan tanpa melihat siapa yang mengucap pun aku akan tahu, siapa pemilik suara itu.

Masih dari balik kaca. Senyumnya sangat menawan, memancar, mirip dengan senyum ibunya.  “Nduk, ketahuilah…, bahwa hanya senyuman yang diwariskan ibumulah  keangkuhan bapakmu  luluh. Hanya senyum seperti kepunyaanmu  yang mampu merubuhkan karang kesombongan. Benar kata orang bijak, hanya senyuman penuh  cinta yang mampu memindahkan gunung.”  gumamku dalam hati.

Pada saat yang sama, mata kami pun beradu pandang. Entah sudah berapa lama, aku tak tahu. Yang kurasa hanyalah kebahagiaan. Bahkan rasa itu seolah mampu  membuat dunia  berhenti berputah.

“Eh…., kok meneng ae. Cepetan dibukain pintune nduk. Kasihan bapakmu kedinginan diluar.” Suara istriku terdengar dengan jelas dari dalam. Meminta anakku untuk segera membuka pintu.

Hanya dalam hitungan detik pintu angkuh pun terbuka lebar. Kini, dua bidadari  cantik berdiri tepat dihadapanku. Bagai pinang dibelah dua, sangat mirip. Senyumnya, mimiknya, bahasa tubuhnya, bahkan ritme hembusan nafasnya pun persis sama. Mengabarkan cinta anak manusia sebagai satu satunya anugerah Tuhan yang tak ternilai.

“Terimakasih….” kuucapkan itu sambil melangkahkan kaki kananku  masuk. “Iya…, sama sama…” jawab anakku spontan.  Kulihat istriku hanya tersenyum. Senyum yang tak pernah membuatku bosan.

“Ayuk bapak gendong nduk ?” Ajakku sambil mengulurkan kedua tangan kearahnya. Mengambil posisi siap untuk menggendong.

Tidak seperti biasanya. Kali ini ia berlari kebelakang ibunya. Bergelanyut, sementara wajahnya tersembul di samping kaki istriku. “Nggak mau pak…?” jawabnya.

“Nggak mau ? Kenapa nduk ? Kok digendong tidak mau sih ?” pertanyaanku bertubi.

“iya pak…., Kiky sudah gedhe. Sudah mau sekolah. Tidak boleh gendong lagi. Berat.” jawab anakku meyakinkan.

“Oh…, iya, Kikiy sudah gedhe ya….? Mau sekolah dimana ?

“Muhamadiyah pak….” jawab anakku sambil berlalu.

Aku terdiam,  memandangnya  berlalu meninggalkanku.  Kakiku seolah terhunjam ke bumi.  Jangankan berjalan, bernafas pun terasa susah. Suara hujan tak terdengar lagi. Sepi.  Mataku menerawang jauh. Aku termenung sendiri,  dalam kebekuan pagi.

“Ah…, kamu sudah besar nduk. Bapak akan merindukan menggendongmu, seperti kemarin dan tiga tahun terakhir ini. Ah…, kenapa waktu berjalan begitu cepat …?”

“Sudah jangan ngalamun, ayo minum dulu ke belakang.” suara istriku membuyarkan lamunan.

@lambangsarib

.

Butuh jasa cargo murah ?
Pengiriman kargo murah ?
www.csmcargo.com

via twitter @csmcargo
Via fb @csm cargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

10 Responses to Waktu Berlalu Begitu Cepat

  1. jampang says:

    hiks…. syaikhan, anak saya juga udah nggak mau lama-lama digendong😀

  2. katacamar says:

    masih ada kesempatan nemenin belajarnya mas lambang, sebentar lagi ketika kiky sudah asik dengan aktifitasnya sendiri… baru datang sepii
    menerawang…

  3. mastur songenep says:

    pandai yah anaknya

  4. Joe Ismail says:

    bagi seorang ayah, anak perempuan selamanya akan tetap menjadi gadis kecil papa

  5. danirachmat says:

    Udah gede ya mas Kiki.
    Senang bisa berkumpul sama keluarga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s