Rindu Itu ………

Lama tidak menulis disini. Janji “satu hari satu tulisan” pun jauh panggang dari api. Mungkin beribu alasan bisa kukemukakan. Namun, itu bukan karakterku. Mencari pembenaran atas sebuah ketidakmampuan adalah sifat dasar orang picik dan pecundang. Jadi, jika kita salah lebih baik diakui. Jika kita tak mampu tak perlu ditutup tutupi.

Mungkin bagi sebagian orang, pembenaran dan mencari alasan bisa boleh dibenarkan. Bagiku hanya satu kata, “TIDAK !”

Empat belah hari lamanya tak ada suara gadis kecil membangunkanku. Tak kulihat senyuman yang  memotivasiku untuk menulis.  Tak kudengar  rengenkan minta gendong dengan sarung, selepas  sholat. Bahkan, dua minggu lamanya aku merindukan “genduk” menaiki punggungku  saat bersujud.

Hanya suaranya yang kudengar. Itu semua berkat jasa besar  si jenius Alexander  Graham Bell. Tanpa temuannya,  tak mungkin kiranya  mendengar  rengekannya dari rentang jarak sejauh 500 km.

Kita  berterimakasih pada para ilmuwan.  Kita harus menghormati hasil karyanya. Boleh jadi ia seorang nasrani, atau bahkan yahudi. Dalam doktrin agama yang aku yakini kebenarannya, tertulis jelas dalam ayat didalam kitab suci. bahwa, “sebaik baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.”

Berkat ilmu dan teknologi, aku bisa menatap wajahnya dari sebilah sabak bernama tablet. Kalau diamati, bentuknya mirip dengan sabak tempat kakekku dulu mengajar menulis dan membaca, berpuluh tahun silam. hanya tombol dan fungsinya yang membedakannya.

Wajah anakku, istri dan nenek segera muncul, saat satu dua tombol dipejet. Lengkap  dengan suasana kemeriahan.  Skype membantu memendekkan jarak. Seolah mampu  menghadirkan orang orang yang aku citai  tepat dihadapanku.

Ibunya bercerita, kalau anak gadisku hampir setiap hari berjemur matahari pagi,  bermain dengan Dito di tengah  tengah kebun.  Bak seorang sinder tebu menunggui  paman pamannya  mengolah lahan pertanian. Sesekali, sambil naiki becak  Om Ndardjo, berkelililng kampung hingga tapal batas desa.

Menghirup segarnya oksigen  yang sama dengan yang dihirup istriku dan seluruh leluhurnya dulu. Kakinya menginjakkan lapisan teratas tanah (top soil) yang  berlumpur. Sama persis dengan apa yang dilakukan leluhurnya berratus tahun silam.

Kearifan lokal ia dapatkan kini. Sejenak menghindar dari kemunafikan  ibu kota. Bercengkerama bersama  dengan senyum tulus penduduk kampung. Yang tentu saja berbeda dengan senyum kepalsuan masyarakat kota.

“Nduk anakku…, maemlah yang banyak. Nikamati  masakan orang orang tempat kakek buyutmu dilahkirkan. Tunggu bapak yah…, minggu depan kita naik kereta api bersama. Wassalam”

Bapakmu yang selalu merindu.

@lambangsarib

.

Butuh jasa cargo murah ? jasa kargo murah ?
www.csmcargo,com
Twitter @csmcargo
FB @csm cargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

11 Responses to Rindu Itu ………

  1. Dani says:

    Putrinya lagi ke rumah eyang ya Mas? Ato sekarang tinggal di sana?

  2. pitaloka89 says:

    Pantesan jarang lihat updatetannya Pak..
    Salam untuk kiky kalau nanti ketemu🙂

  3. Rindu dendam yang tak tertahankan.
    Semoga Kiky senantiasa sehat di rumah eyangnya.

  4. miartmiaw says:

    so pasti kangen tenanan kui🙂

  5. mastur songenep says:

    aku gak ketemu setengah haripun dah kangen ingin rasanya ku remek-remek, apalagi 2 minggu pasti kwangen banget, semoga cpt kembali putrinya mas brow,,,,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s