Segelas Teh Cinta

Sinar mentari pagi  menyeruak masuk hingga ke ruang makan. Gelombang longitudinal kehangatan menerobos masuk menembus kaca jendela setinggi pintu.  Jilatan kehangatannya  membawaku melintasi lorong waktu berpuluh tahun silam. Ibu dan nenek sering berkata, “le…., sering seringlah berjemur matahari pagi. Karena itu menyehatkan dan banyak mengandung vitamin D”. Ucapan mereka sangat membekas di alam bawah sadarku. Karena terlalu sering dikatakan, aku  menganggapnya sebagai sebuah kebenaran.

“Nduk…, duduk sini disamping bapak. Coba kamu rasakan kehangatan  sinar matahari.  Karena itu menyehatkan dan banyak mengandung vitamin D,” ku ulangi ucapak yang pernah kudengar dari orang terkasih. “Dulu bapak hampir setiap hari  dijemur oleh  nenek dan buyutmu. Sama persis seperti apa yang telah  bapak lakukan terhadapmu.”

Anakku tampaknya tak mengerti dengan apa yang kumaksud. Sorot mata tajam dibawah alis  tebal  itu tampak fokus mengamati kata demi kata yang kuucap. Sementara itu, bibir tipisnya  komat kamit, seperti hendak mengatakan sesuatu. Ternyata hanya komat kamit saja, tak sepatah kata pun terucap.

“Ini jagung rebusnya sudah masak. Monggo di dahar…,” istriku bergurau sembari menghidangkan beberpa buah jagung rebus diatas nampan. Warnanya kekuningan segar, dengan biji yang tersusun rapi. Asap  mengepul, menandakan masih panas karena baru saja diangkat dari tungku.

“Hore…, hore…, hip hip hura…., Kiky maem jagung buk…,” teriak anakku kegirangan. Kakinya menghentak. Kedua tangannya keatas, jemarinya menari,  mengajak bergembira bersama. “Cheerleader effect,” batinku dalam hati. Tawa kami  tak terbendung, tumpah bersama kepulan asap beraroma maizena.

Jagung rebus itu merangsang nafsu makan. Menggugah selera, seolah memanggil agar  segera disantap. Tak kuasa hati ini  untuk berlama lama menunggu  dingin.  Selekas kemudian, kami bertiga pun lebih mirip trio musisi yang  sedang memainkan harmoni dengan  alat musik harmonika.

Kami sibuk dengan jagung rebus masing masing. Saat istri dan anakku belumlah habis sepotong, ternyata aku sudah dua. “Nduk…,” selaku . Anakku pun menoleh. Hanya melihat, tak berucap. Masih tetap sibuk menukmati  jagung rebus. Kemudian aku lanjutkan,  “Mas Rama, anaknya Om Aik pernah bilang, bahwa masakan mama itu pasti enak, karena selalu dibumbuhi dengan kasih sayang.”

Istri dan anakku bersama sama menatap.  Jangankan berkata, tersenyum pun tidak. Namun dari aura wajah mereka, aku bisa menebak. Keduanya  tak akan pernah bisa berbohong. Bahwa saat ini mereka sedang berbahagia.

Anakku turun dari  kursi biru, singgasana kebesarannya. Meletakkan jagung rebus yang belum habis dimakan diatas nampan. Kemudian berjalan perlahan ke belakang, menuju lemari kaca tempat gelas bersih ditaruh. Mengambil sebuah yang  berukuran jumbo. Lalu kembali kearah kami duduk.

Aku hanya diam memperhatikan. Dari sudut mata yang sempit, aku tahu istriku pun memperhatikan setiap gerak langkahnya.

Anakku berdiri di samping meja makan. Berusaha menggapai sebuah  kotak yang tergeletak diatas meja. Lalu  mengambil  sebuah dari dalamnya. Meletakkannya kedalam gelas.   Aku tahu,  itu adalah teh celup merek tertentu  kesukaan kami.

Kemudian ia melangkah  menuju meja tempat  heater diletakkan. Jaraknya tak terlalu jauh. Mungkin hanya tiga atau empat langkah saja dari tempatnya berdiri.

Setelah menempatkan gelas dibawah  kran  berwarna merah, dipencetnya knop. Maka,  tertuanglah  air panas  kedalam gelas. Sebelum penuh, dilepasnya kran berwarna merah itu. Lalu, berusaha  memenuhi gelas tersebut dari  kran  berwarna biru di sampingnya.

Anakku berjalan menuju tempatku duduk. Lalu menyodorkan gelas yang dibawa dan berkata, “ini minum bapak.”

Sejenak aku tertegun menerima uluran teh itu. Tiba tiba hening.  Hingga kupaksakan untuk berkata, “terimakasih ya nduk…. Terimakasi.” Hanya kata itu yang mampu kuucap, walau ada jutaan kata lain yang ingin kukatakan. Air mataku tiba tiba berkaca.

Terimakasih nduk…, kamu sudah  belajar banyak dari ibumu. Membuat segelas teh adalah pekerjaan mudah. Hanya butuh satu atau dua menit saja  untuk belajar. Namun, apa yang telah  kamu lakukan saat ini berbeda. Kamu bukanlah membuat teh, melainkan belajar akan arti cinta yang sebenarnya. Meneladani apa itu  cinta dari orang yang tepat, yakni  ibumu.

Bapak bangga padamu nduk. Bapak sangat terharu, dan entah harus berkata apa. Yang pasti, hari ini tanggal 20 Januari 2014 adalah hari pertama bapak melihatmu menyeduh teh. Sekaligus hari pertama kamu melayani bapak, seperti apa yang telah dilakukan ibumu bertahun lamanya.

Terimakasih nduk…, terimakasih istriku.

@lambangsarib
www.lambang.csmcargo.com

.

Butuh jasa cargo murah ?
Butuh pengiriman barang ?
www.csmcargo.com
Via twitter @csmcargo
Via facebook @csm cargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

5 Responses to Segelas Teh Cinta

  1. nengwie says:

    Klki pinteeer…

    Sudah waktunya punya adek *lhooo..??🙂

  2. Ryan says:

    ah… lama tak berkunjung ke sini.
    Kiki pinter ya sekarang dah bisa bikinkan teh cinta untuk bapak….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s