Negeri Ini Berduka, Selamat Jalan KH. Sahal Mahfudz

“Pak, maaf telat masuk  Surabaya. Sudah 3 hari ini saya terjebak banjir di Pati. Uang jalan habis buat makan.” Kubaca sebuah SMS dari  sopir CSM Cargo. Aku tarik nafas panjang, membayangkan penderitaan hari demi hari seorang sopir ditengah jalan, kejebak banjir. Makan dan minum entah dimana harus membeli. Tidur di kabin truk, dengan guyuran hujan tiada henti. Baju yang melekat pun pasti  tak pernah ganti.

Kemudian kubalas, “Tidak apa apa. Yang penting kamu sehat dan truk beserta muatannya aman. Uang jalan nanti siang  di transfer. Hati hati di jalan ya…”

“Itu tadi SMS dari teman bapak nduk, namanya Om Pardiman.” Aku katakan pada anakku, sambil memasukkan  HP kedalam saku celana. Entah dimulai semenjak kapan, aku lupa sudah. Setiap kali ada pesan singkat atau telepon saat aku gendong anakku, selalu mengatakan dari mana telpon atau pesan itu berasal. Aku hanya ingin berbagi dengan buah hatiku, tak lebih dari itu. Aku tak peduli, apakah ia memahami atau tidak.

“Tahu kah kamu nduk, dimana Pati itu berada ?” kubisikkan kata itu di telinga anakku. Sambil kudekap erat dalam pelukan,  dan mencium pipinya yang montok. Hujan gerimis di teras rumah menjadi saksi bisu keintiman kita.

Pati adalah sebuah    kota kecil di sepanjang pantai utara Jawa. Setiap kali kita ke rumah embah, setiap itu pula kita melewati kota itu. Itu kota santri, dan kelak kamu harus sering mengunjunginya. Napak tilas para pendahulu, para ulama penyiar agama Islam yang bapak dan ibumu yakini.

Sempatkanlah mampir ke sebuah desa bernama “Tayu”. Mungkin nama kampung itu tak tertulis di peta, namun ketahuilah bahwa  dari sanalah salah satu nenek buyutmu berasal.

Berkunjunglah juga  ke SMAN 1 Pati. Disanalah dulu kakekmu bersekolah, yang kemudian setelah lulus melanjutkan menuntut ilmu di  Universitas Diponegoro Semarang. Selain kakekmu, om Agung juga sekolah disana. Mereka satu almamater. Jikalau  suatu saat kamu ingin menimba ilmu disana, boleh juga.

Sebagai orang tua, bapak hanya mengantarkanmu. Lembaga pendidikan apa yang kamu pilih dan  bidang ilmu apa yang kamu suka adalah sepenuhnya hakmu. Hak anak adalah memilih jalannya sendiri, kewajiban orang tua hanya membantu menunjukkan jalannya. Itu prinspip bapak, yang mungkin berbeda dengan prinsip orang tua lain.

Nduk cah ayu… Hari ini negeri kita sedang berduka.

Langit kelam oleh metamorfosa uap air menjadi awan hitam comulunimbus yang bergulung. Hingga mencapai ribuan meter tebalannya. Tidak hanya menghalangi sinar matahari untuk menghangatkan bumi, namun juga siap menumpahkan air hujan teramat lebat. Banjir pun tak terelakkan di seantero negeri. Ibu kota Jakarta,  sepanjang pantai utara jawa, Sumatera dan bahkan banjir bandang  di Menado.

Bukan hanya itu, langit kelam juga menyelimuti Medan. Bukan oleh awan hujan, melainkan ber ton ton  abu vulkanik yang berhasil keluar setelah menjebol puncak  kepundan Gunung Sinabung. Abu erupsi itu berasal  dari dapur magma. Karena suhu dan tekananan hebat, magma cair itu berlalu melewati pipa kapiler kepundan. Berhamburannya debu vulkanik hingga ketinggian beberapa kilometer itu, disebut dengan letusan gunung api.

Setelah itu, bukan  air hujan yang didapat masyarakat sekitar, melainkan hujan abu. Sejatinya, abu itu adalah batuan bernama igneous rock. Orang di Yogyakarta, menyebutnya “wedhus gembel”.

Debu erupsi ini sangat berbahaya. Umumnya mengandung silika dan feldspar yang  tinggi, jika terhirup,  bisa berakibat  terjangkit penyakit gangguan pernafasan akut. Mata pun menjadi pedih karenanya.

Kebal debu  mampu menghancurkan atap rumah. Mematikan tumbuhan, ternak dan sebuah   ekosistem yang sudah terbentuk. Butuh waktu bertahun lamanya untuk menjadikan lahan pertanian bisa berfungsi normal kembali.

Itu beberapa kedukaan negeri ini nduk. Namun, duka yang teramat dalam adalah saat   tersiar kabar wafatnya  ulama besar  KH. Sahal Mahfudz dini hari tadi pukul 01.05 WIB. Beliau terlahir juga  di Pati, tepatnya desa Kajen pada tanggal 1 Dzulqa’dah 1532 H atau bertepatan dengan 15 Pebruari 1935 Masehi.

Waktu bapak masih anak anak dulu, beliau sangat sering diundang untuk mengisi ceramah dan pengajian di kampung.  Walau hanya sekilas bertemu, bapak sangat bangga dan menganggap almarhum sebagai guru. Kelak, penghafal Al Qur’an ini adalah Rais Aam PB Nahdlatul Ulama, sebuah organisasi keagamaan terbesar di negeri ini.

Aku teringat oleh ceramah sang kyai dulu. Entah kapan, aku telah lupa. Yang pasti, saat masih anak anak. Di sebuah masjid kecil di kampung, saat acara maulid. Beliau berwasiat bahwa, suatu saat ilmu agama akan ditarik Allah dari umat manusia. Bukan dengan mencabutnya dari ingatan manusia, melainkan dari meninggalnya para ulama. Lalu manusia mengambil pemimpin dari  orang orang bodoh. Saat ada masalah, maka orang orang pun bertanya pada mereka. Fatwa mereka sesat dan menyesatkan, karena tiada landasan ilmu dalam dirinya.

“Pak masuk…., hujan !!” teriak istriku mengagetkan. Aku pun berlari masuk rumah, masih dengan menggendong buah hatiku.

@lambangsarib
www.lambang.csmcargo.com

.

Butuh jasa cargo murah ?
Kargo murah –> www.csmcargo.com
Via twitter @csmcargo
Via facebook @csm cargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Negeri Ini Berduka, Selamat Jalan KH. Sahal Mahfudz

  1. Dyah Sujiati says:

    😥

    Semoga segera muncul penerus-penerus beliau. Amin

  2. Sugeng kondur Mbah Sahal,, ghafarALlahu lahu

  3. Reblogged this on Coretan Kecil Nita and commented:
    Sugeng kondur Mbah…

  4. abi_gilang says:

    Inna Lillahi Wa Inna Ilaihii Roji’uun

  5. tinsyam says:

    semoga sopirnya selamat ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s