Banjir Dan Janjimu

“Kiki pipis dulu, lalu cuci muka, setelah itu baru ikut bapak lihat banjir. Mau nduk ?” tanyaku. Tanpa banyak kata, istriku menggadeng anakku menuju kamar mandi.

“jreng jreng…, ayo pak ?!” Teriak anakku. “Ayo lihat banjir,” tambahnya.

“Wah…, cantik banget anak bapak. Dengan celana panjang gambar mickey mouse dan baju lengan panjang sophia warna pink. Eh… nduk, kucirnya sama dengan Diva ya ? Bagus banget…, siapa yang mengkuncir ?”

“Ibu pak,” kata anakku singkat. Ia berjalan mendekatiku. Tanpa diminta dan diharap, digenggamnya jari kelingking tangan kananku. Itu artinya mengajak jalan jalan.

Hari masih pagi. Sebagian orang yang tinggal di rumah gedongan sepertinya  masih terlelap. Mungkin masih dibuai mimpi indah, didalam rumah besar yang hangat. Lampu taman di rumah mereka masih menyala. Bagi saya itu pemborosan, namun bagi pemilik rumah mewah itu tentu tidak. Persepsi orang memang berbeda, sangat  dipengaruhi  masa lalu dan sudut pandangnya.

Banyak orang lalu lalang. Dari pakaian mereka yang kumal, rambut  acak acakan dan tentangan mereka, aku tahu mereka adalah pemulung. Beberapa diantaranya membawa karung putih yang juga kumal. Untuk tempat hasil pulungan.  Berbilang jari banyaknya yang menarik gerobak diantara mereka. Bertuliskan “jual beli barang bekas”.

“Kok rame banget bang ? Ada apa sih ?” tanyaku penuh selidik. “Itu pak…, air nya naik lagi. Semenjak dini hari tadi sekitar jam 2 an.” jawabnya. Lelaki kerempeng beruban itu pun  berlalu. Berjalan tergopoh gopoh, menandakan ada sesuatu yang teramat penting. Meninggalkan kami  berdua.

“Nduk…, itu tadi namanya om Jamino. Rumahnya tepat dibelakang rumah kita. Tempat berteduh geribik dibangun   seadanya, berdiri tepat diatas bantaran kali ciliwung. Berdinding triplek bekas dan beratap asbes bekas pula. Terlihat kumuh memang.  Mungkin bagi kita tak layak disebut rumah, namun bagi mereka itu adalah istana.

Kamu paham yang diomongkan om  barusan nduk ? Kasihan om Jamino, rumahnya kebanjiran.”

“Banjir pak ?” jawab anakku. “Iya nduk, tahun ini, di awal tahun 2014 kita kebanjiran untuk beberapa kali. Hari minggu kemarin tanggal 12 Januari kita kebanjiran. Lalu hari sabtu tanggal 18 januari air menggenangi rumah di sepanjang bantaran kali. Dan sekarang tanggal 22 Januari, air Kali Ciliwung naik lagi.”

“Banjir ya pak ?” anakku berkata lagi. Aku tak mengerti, apakah anakku paham dengan omongannya sendiri. Apakah ia mengerti makna banjir sebenarnya. Terus terang saja, susah untuk  menafsirkan imajinasi anak anak  akan kata “banjir”.

Yang aku tahu, selama di Jakarta ini, ibu kota negeri ini beberapa kali  dilanda banjir besar. Tahun 2002 banjir besar melanda, waktu itu Gubernur kita adalah Sutiyoso. Janjinya  sebagai pemimpin adalah  akan membebaskan dari banjir.

Lalu tahun 2007 ternyata banjir semakin besar lagi. Aku masih ingat, politisi banyak yang terjun berbasah basah di lokasi genangan. Saya tidak tahu, maksud mereka. Boleh jadi memang itu karakter dasar mereka yang suka menolong, atau mungkin juga  pencitraan belaka saat diliput media. Yang jelas, Gubernur Fauzi Bowo berjanji kurang lebih sama dengan Sutiyoso, akan membebaskan Jakarta dari banjir.

Kali ini kamu menjadi saksi nduk…, walau mungkin kamu belum memahami. Kampung melayu lumpuh. Jalan di depan pasar Jatinegara tergenang air setinggi  hingga hampir dua meter. Istana negara kebanjiran. Pintu air di manggarai airnya membludak. Beberapa tanggul dekat rumah kita jebol diterjang air kiriman dari bogor.

Bogor yang seharusnya menjadi hutan lindung, kini berubah fusngsi menjadi hutan vila. Entah siapa yang salah, aku tak memahami. Banyak rumah penggede negeri ini disana. Air tidak mampu diserap oleh tanah dan tumbuhan berubah menjadi hunjaman beton.

Dalam suasana penuh penderitaan, presiden kita sibuk urusan partainya. Ibu negara sibuk instagraman. Gubernur Joko Widodo dan wakilnya Ahok blusukan ke kantong kantong pengungsian. Politisi berbasah basah masuk genangan, persis seperti yang terjadi pada tahun tahun  2002 dan tahun 2007 lalu.

Sekali lagi aku mendengar lewat media televisi. Sekali lagi aku membaca lewat blog dan twitter. Para pejabat berdebat, mempertahankan argumentarsi. Berebut kebenaran akan teorinya, demi menuntaskan masalah  banjir Jakarta.

Entahlah, aku kok merasakan perdebatan  itu hanya pepesan kosong. Hanya janji janji semata. Seperti para pendahulu mereka. Berbeda dengan merpati, yang tak pernah ingkar janji.

Nduk anakku. Untunglah bapak  dulu sekolah di jurusan ilmu Geologi. Sedikit banyak pernah belajar bagaimana pola air yang melewati daerah aliran sungai (DAS). Lalu bagaimana  perilaku hidrolika air saat melewai meandering atau sungai berkelok. Dan ada satu lagi, tentang apa itu yang dimaksud dengan dataran banjir. Yaitu suatu dataran kering yang tidak tergenang air untuk jangka waktu tertentu. Namun, sebuah kepastian, suatu saat dataran itu pasti akan digenangi air.

Pola genangan air di dataran banjir itu dinamakan siklus hidrologi. Sebagaimana lazimnya, siklus itu permanen dari tahun ke tahun. Untuk Jakarta, sepertinya siklus hidrologi akan terjadi 5 tahunan. Itu tidak pasti, namun mendekati. Tahun 2002, tahun 2007 dan tahun 2013, adalah bukti siklus banjir besar di Jakarta adalah 5 tahun sekali.

Melihat wajah anakku yang masih bengong, aku jadi merenung. 5 tahun lagi, itu artinya anakku akan genap  berusia 9 tahun. Kemungkinan besar, Jakarta akan dilanda banjir lagi, yang boleh jadi akan lebih besar. 2018 adalah tahun “bahaya banjir”.

Haruskah warga jakarta  hanya bisa menunggu…? Kira kira calon politisi siapa lagi yang akan berjanji membebaskan banjir di  tahun itu.

“Ayo pak…, kita lihat banjir.” Kata anakku sambil menarik jemari kelingkingku yang masih dalam genggaman. Kami pun berjalan, menyusuri jalanan yang penuh pengungsi.

Wajah mereka sungguh mengibakan. Mereka  Tidur diatas sehelai terpal warna biru, tanpa makanan dan minuman. Sudah dua hari lamanya mereka hidup tanpa kepastian. Menunggu sesuatu yang tak pasti. Menanti air surut, tapi entah kapan….

@lambangsarib
www.lambang.csmcargo.com

.

Butuh jasa cargo murah ?
Kargo murah ?
www.csmcargo.com
Twitter @csmcargo
Facebook @csm cargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

9 Responses to Banjir Dan Janjimu

  1. jampang says:

    banjir di jakarta…. konon katanya sejak jaman kolonial memang sulit untuk diatasi

  2. Dyah Sujiati says:

    Tentang banjir saya nulis ni pak
    http://dyahsujiati.com/2014/01/22/dilema-metamorfosa/

    Di situ ada link twitter-nya pak Rhenald Kazali.

  3. tinsyam says:

    aha jadi wisata banjir sama kiky..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s