KITA

Hari mulai beranjak siang. Jam dinding tua yang menempel di tembok  baru saja terdengar berdentang sepuluh kali. Aku duduk di kursi  anak anak yang terletak tak jauh dari pintu belakang. Kursi itu  warisan, penuh sejarah dan cerita cinta masa lalu. Sudah digunakan semenjak istriku kecil. Usianya mungkin saja lebih tua dari usia kami. Namun, kursi berbahan kayu jati itu masih kokok. Entah mengapa, rayap pun seolah enggan menggerogotinya.

Aku masih  bertelanjang dada. Keringat sebesar butiran jagung  satu persatu meluncur. Membasahi seluruh tubuh, tak terkecuali celana pendek hitam yang menempel lengket. Kucondongkan tubuhku kedepan, seperti posisi hendak sujud. Satu persatu sepatu kulepas.

Aroma harum mewangi berebut masuk hidungku tanpa diminta. Dari arah dalam rumah aroma bunga melati itu berasal. Seiring detik berlalu, semerbak semakin menjadi. Saat menolehkan  pandangan kearah mana itu berasal, kudapati seorang gadis kecil sudah berada tepat disampingku. Berdiri mematung, memperhatikan tanpa sepatah kata pun terucap. Entah sudah berapa lama ia disitu, aku tak memperhatikan.

Dialah anak perempuanku. Dialah buah hatiku. Dan dialah bidadariku.

Tak seperti biasanya, kali ini  ia diam seribu bahasa. Mungkin saja  sedang mengamati dan belajar bagaimana caraku melepas sepat. Aku tersenyum, dibalasnya dengan senyuman terindah yang pernah kulihat. Jika senyuman bidadari dinilai angka sempurna  100, maka senyuman anakku ini  bernilai 1000 kalinya atau bahkan lebih.

“Wah sudah mandi ya…, harum banget nduk?”  sapaku penuh cinta. Ia tidak menjawab. Hanya melempar pandangan mata berbinar,  seolah menusuk retinaku, melaju, menancap erat  menuju relung hatiku.

Suara tapak sandal putih bertuliskan sebuah hotel berbintang kudengar. Dari suara langkahnya  aku sudah tahu, bahwa itu langkah seorang wanita. Istriku adalah satu satunya pemilik langkah itu. Ritme, hentakan dan suara benturan lantai dengan sandal sangat khas. Tak mungkin ada orang di dunia ini menyamai.

“Ayo pak…, ” kata istriku. Dengan warna suara yang aku hafal betul. Tak berubah, walau telah berpuluh tahun lamanya kami membina bahtera rumah tangga.

Suara itulah yang pernah  menggetarkan jiwaku. Suara itulah yang pernah membuatku jatuh tersungkur. Suara penuh semangat, yang membuatku berani mengambil keputusan untuk menikah. Dan lagi lagi, intonasi suara itu hanya ada satu dimuka bumi ini.

“Bentar ya…, bapak kan baru saja pulang dari main  tenis. Kalau keringat sudah kering, langsung mandi.”

“Ayo pak…., kita ke babia.” Suara anakku memecah suasana. Aku kaget ! Sontak  kupandangi istriku dengan penuh tanya.  Alis mata tebalnya tampak sedikit meninggi. Rona di pipi memerah  berseri. Seuntai senyum di bibir tipisnya mengembang. Dan aku pun ikut tersenyum.

“Nduk, ketahuilah. Kenapa aku dan ibumu tersenyum saat kau ucap kata “kita ke babia” ? Tentu saja, babia adalah kata yang kau gunakan untuk menunjukkan lokasi toko buku kesukaanmu. Orang menyebutnya gramedia. Tapi, karena kamu masih belum mampu mengucapkannya, babia adalah kata yang kita sepakati bersama.”

“Tapi nduk, bukan babia yang membuat kami tersenyum bangga. Kamu ucapkan kata “kita” adalah penanda bahwa kamu semakin besar dan pandai. Sekarang kamu sudah mampu membedakan pronomina persona.”

Jika menulis adalah bekerja untuk sebuah keabadian. Jika menulis adalah merangkaikan puzzle kehidupan yang kadang tercerai. Jika menulis adalah caraku mencintai anak, istri dan keluargu selapis dibawah kecintaan pada Tuhan. Maka, menuliskan momen pertama kali anakku mengucap “kita” adalaha ekspresi cinta tak bertepi.

Kemarin, minggu  tanggal 29 Desember 2013 atau 25 Shofar 1435 H, aku catat dalam tinta emas akan keberhasilanmu memaknai kata “kita”. Semoga,  kata itu kamu serap atau kamu sadur dari kosa kata yang kami lafadzkan setiap hari.

.

@lambangsarib
www.lambang.csmcargo.com

.

Butuh jasa cargo murah ?
Butuh jasa pengiriman barang murah ?
jasa kargo murah, www.csmcargo.com
Via twitter : @csmcargo
Via facebook : @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

24 Responses to KITA

  1. abi_gilang says:

    Salut deh untuk pengamatan yg detail terhadap tumbuh kembang anaknya🙂 kegembiraan yang didapat pun nilainya menjadi tak terhingga. Salam buat Kiky🙂

  2. Pak Sarib luar biasa perhatian sama kiki. Ampek sedetil itu tahu ^^

  3. jampang says:

    tambah pinter aja nih Kiky😀

    *panggilannya sama dengan panggilan nama saya*

  4. Anak kecil yang mengenal kata “kita” berarti sudah mulai tumbuh jiwa sosialnya.

  5. Dyah Sujiati says:

    Yihi! Tambah pinter aja nih.😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s