Semuanya Hanya Soal Waktu, Tak Terkecuali Kau….

“Huaaa……, haa….,” kudengar suara anakku menangis, sangat kencang, terdengar sangat nyaring hingga halaman belakang rumah.  Suara itu mengagetkan, hingga mampu menghentikan otakku berfikir. Bahkan, sapu lidi tergenggam erat ditangan bibi pun terlepas karenanya.

Tanpa pikir panjang, koran yang sedang kubaca sontak kuletakkan, tanpa melipatnya. Secepat kilat aku lari kedalam, menerjang apa saja yang merintangi, kearah suara tangis  yang tak asing.

Kudapati   anakku digendongan ibunya, dipeluk hangat, erat  penuh cinta. “Kenapa nangis nduk ?” tanyaku sambil mengusap rambutnya yang hitam.  Kuseka airmata yang membasahi seluruh pipi. Ia menoleh,  tetap menangis, seolah hendak bercerita.

“Jatuh pak…, Kiky baru main lari larian dan jatuh,” istriku menimpali. “Udah tidak papa nduk, cup… cup…, diam yah ? Ni pak gendong ni pak….” kata kata lembut keluar dari mulut istriku. Dihantarkannya anak kecil ini ke pelukanku.

Anakku tetap menangis. Bahkan lebih keras dari sebelumnya. Kedua tangannya memeluk erat dan semakin erat. Kugendong ia ke belakang rumah untuk mencari sesuatu yang mampu mengalihkan perhatian.

“Ayo nduk…, lihat sungai. Tuh…, ada empus tuh…, empusnya sedang maem.”  Kutemukan  binatang kesukaannya di bawah pot bunga. Tanganku menunjuk nunjuk agar perhatiannya beralih dan  diam. Namun sepertinya kurang berhasil, ia tetap menangis. Walau tangisannya sedikit lebih pelan. Setelah beberapa saat kutimang, tangisan pun tinggal sesenggukan….

Saat kami berdua asyik melihat kucing yang sedang makan kepala ikan lele,  handphone yang ada di sakuku berdering. “Tuh pak…, ada hanpong,” anakku menegaskan.

“Wah…, nduk dari embah nduk…., ini embah yang telpon,” kataku girang  penuh kebanggaan. Terbayang wajah perempuan  yang melahirkanku, namun kini  keriput dan beruban. Terlintas bapakku yang dulu kekar, namun kini tinggal tulang berbalut kulit, dengan mata yang sudah tak seawas dulu. Oh…., “semoga Tuhan melindungi orang orang yang paling berjasa dalam hidupku,” do’aku dalam hati.

“Assalamualaikum mbah…, ini Kiki mbah….,” jawabku. Suara perempuan yang sangat aku hafal intonasi dan gaya bahasanya menyahut diujung sana. Menanyakan perihal kesehatan kami sekeluarga, dan tentu saja “bercanda” dengan cucu kesayangan.

Sebelum selaesai kangen kangenan, istriku menghampiri dan ikutan nimbrung.  Aku “speaker” handphone, dan kami pun berbicara layaknya kedua orang tuakau hadir bersama. Tawa dan canda menghiasi pagi ini.

Setelah berbicara untuk beberapa saat,  istriku mohon diri  melanjutkan memasak. Digendongnya Kiky masuk kedalam,  memberikan waktu seluasanya untuk  berbicara.

“Le…, kowe iling koncomu  Heri ? Yang dibelakang rumah kita ?” tanya ibuku mengalihkan topik pembicaraan.

“Injih buk…, tasih iling. Kan rencang main layangan rumiyin. Memang kenapa dengan Heri ?” tanyaku agak serius.

“Bapaknya meninggal Le…,” jawab ibuku perlahan, berintonasi kesedihan. Terbayang raut muka sedihnya,  di wajah yang sudah keriput.  “Innalillahi wainailaihi rojiuuun,” jawabku spontan.

“Tadi pagi  ibu dan bapakmu masih sholat subuh berjama’ah bersama  di masjid At Taqwa. Tadi pagi kami semua masih mengaji bersama dibimbing Kyai Zamura, guru ngajimu dulu. Heri bercerita,  kalau sepulang dari masjid bapaknya minta segelas teh.”

“Sakit nopo bu  ?” tanyaku penuh selidik. Tak sabar menunggu jawaban secepatnya.

“Embuh ra ngerti le…,  tidak ada yang tahu apa penyakitnya. Kan memang dari dulu bapaknya Heri tak pernah mengeluh ? Setelah minum teh, Heri berangkat ke Warung di depan Stasiun. Sekitar jam 8 pagi, dia pulang mau mengambil sesuatu. Saat masuk ruang tamu, didapati bapaknya sudah meninggal.”

Hening. Ibuku menghentikan ceritanya. Senyap. Mulutku terkunci,  tak mampu berkata kata. Mataku sedikit berkaca. Teringat masa masa indah dulu, saat aku dan Heri bermain layang layang bersama. Tak mungkin kulupakan, saat kami mandi dikali bersama, ngaji bersama dan mencuri mangga bersama pula.

Mataku semakin berkaca. Terasa  seteles air  meluncur dari pelupuk, menetes, setelah sebelumnya membasahi pipi. Wajah guru ngaji kami yang kini telah renta, tiba tiba melintas. Kubayangkan duduk  bersila dihadapan kami dan  memberi nasehat.  Ucapannya yang teringat hingga kini adalah, “kullu nafsin daiqotul maut, semua yang bernyawa pasti  akan mati. Aku, kamu dan kita semua akan mati. Semua hanya soal waktu. Sebelum ajalmu tiba, segerakanlah berbuat baik pada sesama. Sebelum engkau disholatkan, segeralah menegakkan.”

Teringat sajak chairil anwar, “sekali berarti, setelah itu mati”. Terlintas dalam bayangan,  kata kata Pramoedya Ananta Toer, “Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun ? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.

Masjid Taqwa, aku rindu ….

@lambangsaribuana
www.lambang.csmcargo,com

.

Butuh jasa cargo murah ?
www.csmcargo,com
Twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Semuanya Hanya Soal Waktu, Tak Terkecuali Kau….

  1. jampang says:

    innaalillaahi wa innaa ilayhi roji’un

  2. miartmiaw says:

    Tangis genduk menjadi sebuah pertanda..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s