Pemburu Cinta

Seperti hari hari kemarin, saat jam makan siang tiba. Menyegerakan sholat lohor dan menikmati makan siang adalah dua hal yang tak mungkin terlupa.  Setelah itu, waktu yang tersisa seringkali ku gunakan untuk sekedar membaca. Membaca apa saja. Kadang buku, novel,  majalah, atau apapun. “Yang penting bisa dibaca,  itu prinsip !” kata yang paling sering terucap untuk  melawan sikap skeptis teman teman yang tak suka membaca.

Aku  sangat  setuju dengan pemahaman  Budiman Sujatmiko, “tak ada buku yang terlalu tua untuk dibaca”. Dan, selalu akan ada manfaat  dari sebuah buku yang ditulis.

Buya Hamka telah lama tiada, berpuluh tahun sudah. Namun, saat ini  seolah  duduk dihadapanku. Bertutur lembut menasehatiku. Sambil menceritakan kisah cinta antara Zainuddin dan Hayati. Dua anak manusia, yang hidup dari dua dunia berbeda.

Entah mengapa, buku yang ditulis sebelum proklamasi dikumandangkan oleh Sukarno dan Hatta itu bagai mesin waktu. Menarikku menuju pusaran alam lain. Membawa ke dunia dimana belum ada laptop, HP apalagi tablet. Mengarungi samudera imajinasi kata kata  tak bertepi.

Membayangkan Minang dan tanah Mengkasar yang belumlah menyatu menjadi NKRI. Masih terpecah pecah dibawah kaki kolonialisme, yang memanfaatkan feodal lokal bak anjing penjaga.

Saya sangat  terpikat oleh  kata demi kata yang ditulis Buya HAMKA. Kalimat demi kalimat aku nikmati. Meresapi, seolah masuk  lewat kornea mata, perlahan namun pasti melewati nadiku, bercampur lengket diantara sel darah merah dan sel darah putih. Tak mungkin dipisahkan, bagai sebuah senyawa kimia stabil.

Sebuah alenia tiba tiba memaksaku merenung lebih dalam. Menghentikan laju mata membaca.  Untung saja,  tak sampai membuat airmata yang setitik itu menetes.

“Ya, sebab pepatah telah pernah menyebut, bahwasannya seseorang memburu cinta, adalah laksana memburu kijang di rimba belantara. Bertambah diburu bertambah jauh dia lari. Akhirnya tersesat dalam rimba, tak bisa pulang lagi.”

Sepenggal  petikan jawaban  Hayati pada Zainuddin sang pujaan hati. Kata kata yang dipilih sangat sederhana, tetapi sarat makna.  Dalam dan dangkalnya budi pekerti pun  bisa terukur  bersamanya.

Kututup buku burlabel balai pustaka itu. Kupejamkan mata untuk sesaat. Menarik nafas panjang, menghembuskannya perlahan, berirama.

Terlintas wajah wajah orang yang mewarnai kehidupanku. Yang mungkin saat ini sedang merindukanku. Atau mungkin saat ini tengah  mendo’akanku.

Berkelebat wajah ibuku di kampung. Dengan tangan gemetaran,  menyapu serambi masjid tempatku mengaju dulu. Biasanya mengenakan kerudung warna  pink lusuh dimakan usia.  Kemudian terlintas tawa bapakku dengan mata berkaca, menampakkan  giginya yang tak lebih dari tiga. Bahu yang dulu kekar itu, tempat aku bergelanyut,  kini hanya tinggal tulang berbalut kulit keriput.

Senyum istri dan bidadari yang digendongnya. Tersenyum kearahku…, tiada henti memanggil dan melambai, mengajakku kembali.

Cinta mereka sederhana, tulus, sama sekali bukan senyum  sang pemburu cinta.

@lambangsarib
www.lambang.csmcargo,com

Butuh jasa cargo murah ?
www.csmcargo,com
Twitter : @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

14 Responses to Pemburu Cinta

  1. ayanapunya says:

    desember ntar filmnya bakal tayang, mas. saya penasaran. belum pernah baca bukunya euy

  2. jampang says:

    pemburu cinta…. kalau sudah dapat, akan memburu cinta yang lain… bukankah pemburu memang seperti itu?
    😀

  3. abi_gilang says:

    Senyuman Pemberi cinta ya Pak🙂

  4. katacamar says:

    seperti menatap riak kecil didanau entah bernama apa di kapuas hulu, ada pendar-perndar cahaya.
    apik, tulisane mas lambang tambah suwe tambah apik🙂

  5. Ilham says:

    orangtua mencintai karena mampu memberi cinta, bukan untuk memilikinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s