Sedikit Tentang Penyadapan

Beberapa hari terakhir ini publik dikejutkan  berita penyadapan telepon genggam pejabat tinggi negara. Tidak tanggung tanggung, yang disadap adalah HP  Presiden, Wakil Presiden, beberapa orang  menteri serta ibu negara.

Bagai api dalam sekam. Emosi rakyat sontak terbakar. Mereka marah !

Dari layar kaca bisa disaksikan kemarahan seorang   anggota dewan. Pejabat intelijen negara seolah kebakaran jenggot. Opini sumpah serapah dari pengamat  meramaikan  runing text di  siaran televisi.  Halaman muka media cetak memuat tulisan tulisan bernada provokatif.

Bahkan, di dunia maya lebih keras lagi. Facebooker, blogger  dan twiiterland bereaksi. Kecaman demi kecaman tiada henti di timeline.  Cyber war sudah ditabuh.  Diawali dengan perang antar hacker kedua negara. Saling serang, berlomba paling awal  meretas situs situs penting di kedua negara.

Kata kata Sukarno yang pernah menggelora di tahun 60an  menggema kembali. Ungkapan  “Inggris kita linggis, Amerika kita seterika” berganti  “Imperialis kita linggis, Australia kita setrika”. Semakin hari, semakin sering didengungkan. Membakar emosi, menggelorakan nasionalisme yang terkoyak.

Permintaan mengusir diplomat negeri kanguru itu menjadi wacana publik. Bukan hanya keluar dari mulut para penguasa, melainkan pula dari rakyat jelata.  Menjadi perbincangan hangat di lembaga pemerintahan, hingga kedai kopi di pelosok negeri.

Pemerintah telah lebih dulu mengambil sikap tegas, yaitu menarik duta besarnya dari Canberra.

Entah mengapa, tiba tiba saja saya teringat sebuah  buku yang berjudul “Anak Semua Bangsa”. Karangan  penulis besar Indonesia,  Pramoedya Ananta Toer.  Sengaja saya kutip  ulang disini. Sebagai catatan pengingat untuk anak negeri.

“Bangsa Eropa telah mengenal watak dan kemampuan pribumi Hindia. Datanglah ke Netherland, Minke, kau akan takjub melihat terhimpunnya bukti laku dan pikiran leluhurmu sendiri, sejak yang dipahatkan pada batu samapai yang diguritkan pada lontar. Dan semua satu pun tidak diselamatkan oleh pewaris pewarisnya sendiri, bangsamu, tapi Eropa, Minke, Eropa”.

Watak bangsa Eropa memang  mengamati  segala hal, termasuk yang berkenaan dengan bangsa  lain. Bukan hanya sahabat, musuh pun dia pelajari.  Mereka mengumpulkan segala  informasi dari negeri timur, informasi apa saja,  semenjak  jaman kolonial. Mereka mencatat segala  informasi dan berusaha membukukannya.

Itulah kenapa kita secara de facto  pernah  dijajah hingga berabad lamanya. Dan kini, walau sudah merdeka, sejatinya kita masih  tetap dijajah  dalam hal politik dan ekonomi.

Kenapa kita bisa dijajah ? Jawabnya adalah, karena bangsa asing mengetahui dengan pasti setiap jengkal tanah di negeri ini. Memiliki informasi penting petinggi negeri. Sementara kita,  sama sekali tak memahami dan buta tentang mereka. Kalau toh ada beberapa yang pernah sampai ke negeri  seberang, mereka tak lebih hanya seorang pelancong belaka.

@lambangsarib

.

Butuh jasa cargo murah ? www.csmcargo.com

@csmcargo

 

 

 

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in intermezo and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

10 Responses to Sedikit Tentang Penyadapan

  1. Dailynomous says:

    Yupz, hanya beda fase dan cara. Mata-mata itu ada dimanapun, sedari dulu dan kini, bahkan proteksi data terhadap berbagai lembaga bisnis dan keuangan dapat dengan mudahnya diterobos oleh manusia-manusia yang sebenarnya jauh dari kata intelejen.

    Namun bagi saya pribadi, ada keanehan yang melanda dagelan penyadapan kali ini. Soekarno juga pernah disadap bahkan mata-mata berwajah nasionalispun ada. Namun soekarno tetap diam dan pura-pura tidak tahu dan segera memutar balik strategi.

    Penyadapan kali ini aneh? Yah, bagi saya pribadi tak lain tak bukan hanya sekedar pengalihan isu saja. Jargon nasionalisme diangkat, seperti kasus ambalat, tak sadar rakyat dibuat bungkam atas kenaikan BBM kala itu. Dan kini, bagi saya pribadi, ada satu kata yang cukup menyiratkan tabir ini semua. “Century”.

  2. jampang says:

    “Bangsa Eropa telah mengenal watak dan kemampuan pribumi Hindia. Datanglah ke Netherland, Minke, kau akan takjub melihat terhimpunnya bukti laku dan pikiran leluhurmu sendiri, sejak yang dipahatkan pada batu samapai yang diguritkan pada lontar. Dan semua satu pun tidak diselamatkan oleh pewaris pewarisnya sendiri, bangsamu, tapi Eropa, Minke, Eropa”.

    kalimat itu mengena banget

  3. Aulia says:

    Dimana-mana emang sedang isu sadap menyadap, saya pun tertarik ketika berita ini telah begitu populer. Semoga negeri ini bisa banyak mengambil hikmah dari semua ini, saya juga dapatkan infografik tentang aksi cyber ada dimana-mana.

  4. Dyah Sujiati says:

    Akan menjadi perbincangan yang mengarah pada banyak hal dan aspek terkait kasus penyadapan tersebut.
    Yang paling membuat saya prihatin adalah ucapan-ucapan yang tak pantas dari rakyat. Hanya mengomel dan tidak memberi nilai kebaikan apa-apa. Entahlah, bukan solusi yang kemudian ditawarkan, hanya sekedar marah yang dikedepankan. Saya pun tak tahu sebaiknya melakukan apa.

  5. tinsyam says:

    intelejen kita dong kebakaran jenggot, coba ya diam aja.. balas nyadap gitu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s