Dua Bidadari Bagai Pinang Dibelah Dua

“Sumuk pak…, sumuk…, Kiky tidak mau memakai ini !” seru anakku sambil melemparkan kain putih keatas dashboard.

Aku diam dan hanya melirik barang sebentar. Konsentrasiku fokus  ke depan. Siap siaga ditengah keruwetan dan kemacetan jalanan ibu kota. Genangan air, ojek payung, pak ogah,  dan ratusan sepeda motor berteduh dibawah jembatan layang memaksaku meningkatkan kewaspadaan.  Kedua tanganku sigap memegang kemudi. Berebut mencari celah, agar mobil bisa lewat.

“Ati ati pak, sing sabar nyopire…., waktu sholat maghrib masih lama,” istriku menenangkan. Ditengah suasana guyuran hujan, suaranya yang lirih dan lembut terdengar syahdu. Menenangkan jiwa yang sedang goyah, menenteramkan yang gundah. Serta meneguhkan hati agar tetap sabar di setiap situasi.

“Sabar adalah bagian dari iman,” ia lengkapkan kata katanya  dalam bahasa arab.

Sekali lagi kucuri pandang pada kedua bidadari yang duduk di samping kemudi. “Alhamdulillah ya Allah… Benar kata bang Haji Rhoma, bahwa dunia ini adalah perhiasan. Sebaik baik perhiasan adalah istri yang sholehah, Semoga anak perempuanku kelak menyempurnakannya.”

Do’aku  terucap berkali kali didalam hati.  Namun, hampir hampir tak pernah terucap secara verbal. Mungkin karena aku tak mahir merangkai kata kata, atau pula karena tak bisa berdiksi  bak pujangga.  Entah mengapa, perasaan  malu  itu bagai dinding  tebal yang tak mungkin di terobos. Walaupun  hanya untuk mengucap  sebuah fakta kebenaran.

“Nduk, dipakai kerudungnya dooong…, biar cantik,” kata istriku membujuk buah hati kami agar mau berkerudung. “Nggak mau…., sumuk buk…, sumuk…,” katanya sambil menggeleng gelengkan  kepala.

“Nduk….,   dipakai kerudungnya. Biar cantik kayak ibuk. Kiki mau cantik  seperti ibuk atau tidak ?” kataku menambahkan.  Tatapan mataku tetap lurus kedepan. Tak ada sedikitpun keberanian untuk menoleh, apalagi memandang wajah cantik disampingku.

Anakku diam tak menjawab. Sedikit kebimbangan tampak dari raut wajahnya.  Ia pandangi wajahku  dengan sorot mata tajam. Bagai sinar laser  menghunjam hingga ke relung hati. Kemudian, pandangan mata indah itu diarahkan ke ibunya, tanpa kata  kata.

“Mau pak…., Kiky mau seperti ibuk.” Kata anakku memecah kesunyian. Mengakhiri penantian akan jawaban yang kami tunggu.

Istriku  membelai dan   mencium rambut anakku. Berkali kali,  dengan sepenuh  kasih dan sayang. Memejamkan mata, sebagai ungkapan  penghayatan akan  cinta.

Tak butuh waktu lama,  kerudung putih itu sudah pada tempatnya. Saat keduanya tersenyum, kulihat ada persamaan sorot mata asa dari keduanya. Dan…., sejujurnya, mereka berdua lebih mirip sebagai pinang dibelah dua.

@lambangsarib

.

Butuh jasa cargo murah ? www.csmcargo,com

via twitter @csmcargo 

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

11 Responses to Dua Bidadari Bagai Pinang Dibelah Dua

  1. Ishhh,… om sarib bikin ngiriii

  2. jampang says:

    alhamdulillah…. salah satu untuk bisa menjadikan anak yang baik dan berbakti adalah dengan memilih calon ibu yang baik… yang shoehah

  3. Alhamdulillah,,
    wadduh udh berapa lama yak saya nda kemari lagi??

  4. abi_gilang says:

    Ga apa2 tak terungkap secara verbal tapi terungkap lewat tulisan🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s