Kreativitas Seringkali Dimaknai Berbeda

Aku duduk di bangku paling depan, bersampingan dengan Pujo. Seorang sahabat di kelas 3.  SDN Jenar 3 Blora. Waktu itu, ibunya Pujo adalah guru wali kelas kami. Sedikit yang masih kuingat adalah, berkaca mata tebal, bertubuh gemuk, tidak terlalu tinggi,  berkulit sawo matang dan sedikit beruban. Mungkin berumur sekitar 45 tahunan.

Kami dulu sangat takut dengan beliau. Karena suaranya   keras, tegas  dan sangat disiplin. Teman teman  memahaminya sebagai guru yang “galak”. Barulah di usia tua ini  kami memahami bahwa  sebenarnya ia  guru yang baik. Berusaha mendisiplinkan kami, mendidik kami  dan membuat kami seperti saat ini.

Untuk itu, do’a selayaknya selalu kita panjatkan buat almarhum  guru2. Penghormatan dan  apresiasi setinggi tingginya buat mereka.  Tanpa para pahlawan tanpa tanja jasa ini, kita bukanlah siapa siapa.

Suatu hari, entah sedang mengajar  pelajaran apa, aku tak ingat lagi. Kucoba berusaha keras  menemukan jejak dari berjuta tumpukan memori yang tersimpan di otak, namun gagal.    Hanya satu yang kuingat, kami disuruh menulis.

“Jo…, aku nduwe polpen apik, oleh oleh bapak seko semarang  (Jp…, aku punya bolpoint bagus. Oleh oleh bapak dari Semarang),” kataku berbisik, karena  takut kedengaran ibu guru. Paijo nampak penasaran, menggeser posisi duduknya mendekat, mencondongkan tubuhnya ke kanan. Matanya melirik tajam ke pena yang ada di jari tangan kananku.

“Wah, apik tenan kui mbang, opo polpen iku isine patang werno ? iso diganti ganti warnane ngono ?” Sergah  Pujo penuh rasa ingin tahu.  Maklumlah, itu kali pertama bagi kami memegang balpoint dengan isi empat warna.  saat itu di kampung  masih jarang toko alat tulis yang menjual balpoint. Apalagi  berisi empat warna, yaitu merah, hitam, biru dan hijau.

“Iyo Jo…, aku arep nulis berwarna warni. Misalkan kata “suka”, aku akan  tulis huruf S dengan warna merah,  huruf U dengan warna biru, huruf K dengan warna hitam dan huruf A dengan warna hijau. Apik kan ?” kataku dengan senyum bangga. Ada sedikit kesombongan dan kebanggaan berlebih terbersit bersama senyumanku.   Pujo ikutan  tersenyum. Dan  kami  melanjutkan mengerjakan tugas yang diminta bu guru.

*

“Apa in…!!! Hai…. Kamu maju mbang ! Kedepan…., cepaat…! Berdiri kamu di samping papan tulis…!”  Bentak bu guru sangat  keras.  Jarinya menunjuk suatu tempat di pojokan depan kelas tak jauh dari papan tulis.

Kata katanya bagai jilatan api. Hanya dengan berdehem ia  mampu membuat anak anak sekelas menahan nafas panjang  tak bersuara. Jentikan jari telunjuknya mampu menggerakkan tubuh kecilku untuk tunduk dan patuh.

Dengan ketakutan luar bisa, aku bangkit dari tempat duduk. Berjakan ke depan, dan berdiri mematung di samping papan tulis dengan perasaan bersalah yang sangat. Aku disetrap ! Yaitu harus berdiri mematung di samping papan tulis hingga jam pelajaran usai.

Bagai petir disiang bolong,  apa yang kumaknai sebagai “kreativitas”, yaitu menulis dengan pena berwarna warni telah membuat guruku murka.

Aku tertunduk dalam penyesalan. Jantungku berdegup kencang. Aliran darahku seolah mendidih. Kaki terasa berat, tak bisa digerakkan,  seolah tertanam dalam menghunjam bumi.   Ketakutan akut menjalari seluruh tubuhku.

Bu guru terus berceramah dengan nada tinggi. Aku tak tahu  dan tak mampu mendengarkan apa yang diomongkan. Intinya, ia marah besar.

Aku tertunduk, dengan perasaan malu bercamput takut.  Kukumpulkan sisa tenaga untuk mengangkat dagu yang lama tertunduk. Begitu menatap kedepan, seluruh sorot mata teman teman sekelas seolah berebut menatap. Untuk menjadi yang  pertama. Bagai  sinar laser yang menghunjam  masuk ke ulu hatiku, melewati retina yang sempit. Hampir2 air mataku tumpah. Namun, ku coba sekuat tenaga agar  tak menangis seperti anak cengeng.  Meski begitu,  tetap saja mata  berkaca kaca.

*

“Nduk itulah sedikit  kisah bapak sewaktu sekolah dulu. Sengaja bapak tulis, agar kelak kamu bisa membacanya. Mungkin karena itulah nduk, hingga setua ini  bapak tidak se kreativ kamu dalam mengguratkan warna warna diatas kertas.”

“Oh iya nduk…., tahukah kamu apa yang terjadi selanjutnya ? Bapak dikasih angka nol. Ya betul, bapak dapat nilai nol.”

@lambangsarib

.

Butuh jasa cargo murah ? www.csmcargo,com

via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky, Uncategorized and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

9 Responses to Kreativitas Seringkali Dimaknai Berbeda

  1. jampang says:

    soal pulpen 4 warna, saya juga dulu pernah punya😀.
    ketika di SMP/SMA saya menggunakannya untuk mencatat pelajaran, setiap poin atau bab saya tulis dengan beda warna…. tujuannya ya biar senang aja baca catatan rapi dan penuh warna.

    kalau cerita di atas, seharusnya seh nggak dihukum, kan nggak ada larangan juga. tapi ya… kondisi saat itu memang begitu. mengerajakan sesuatu harus sama dengan apa yang disampaikan guru. beda cara kerjanya meskipun isinya benar…. ya nilainya kurang.

    kalau ke syaikhan, dalam satu kejadian, saya biarkan dia menggunakan aneka warna selama itu bukan sebuah kesalahan. ceritanya bisa dibaca di sini :

    http://jampang.wordpress.com/2013/02/16/my-dearest-syaikhan-pelangi-di-duniamu/

  2. Walah om sarib jadinya dapat nol ya, tambahin angka satu di depannya om *Bisikan setan:mrgreen:

  3. jadi ingat dengan guru yang dulu pernah kita sebut “galak” padahal guru tersebut baik, dan itu baru kita pahami setelah kita dewasa…

  4. angkasa13 says:

    Heu.. Heu.. Kebayanggg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s