Apakah Sistem Pendidikan Saat Ini Menghasilkan Generasi Korup ?

Sistem pendidikan saat ini  disadari ataupun tidak telah membuat  anak terkotak kotak. Dengan label berbeda disetiap kotaknya. Ada sekelompok anak yang digolongkan sebagai anak pandai atau cerdas. Lalu,  ada pula  yang dikelompokkan sebagai anak biasa biasa saja. Yang membuat miris, ada  yang menggolongkan sebagai kelompok anak bodoh.

Pengkotaan itu semata mata hanya menggunakan satu parameter, yaitu “pencapaian nilai akademis”.

Padahal, sebenarnya tidak ada anak bodoh. Semua anak terlahir sempurna dengan kecerdasannya masing masing. Yang ada adalah anak yang tidak berminat pada sebuah mata pelajaran yang dipaksakan.

Menurut Einstein, “Sesungguhnya seorang anak ibarat miniatur alam semesta yang menakjubkan. Penuh keajaiban serta keagungan sang pencipta. Bagi kita yang mau berfikir dan belajar.

Sedangkan menurut  Gardner, kecerdasan didevinisikan sebagai suatu  kemampuan untuk memecahkan masalah dan menciptakan produk yang memiliki nilai budaya. Kecerdasan merupakan  kemampuan seseorang yang berbeda dan bervariasi. Kecerdasan adalah “preferensi”. Kecerdasan adalah pilihan bebas setiap individu yang tak mungkin dipaksakan. Tulisan lengkap tentang ini, silahkan baca  “kenali-salah-satu-potensi-kecerdasan-anak”

Sementara itu, naluri dasar orang tua adalah memiliki anak yang membanggakan. Mereka akan sangat bahagia, jika  anaknya berprestasi di sekolah dan dikategorikan sebagai “anak pandai”. Oleh sebab itu, seringkali orang tua rela melakukan apapun untuk mendapatkan. Kata kata  “semua demi anak” tentunya sering kita dengar dalam berbagai kesempatan.

Hal sebaliknya terjadi,  orang tua dan terlebih anak anak  akan merasa sedih dan rendah diri jika dilabeli sebagai anak “bodoh”. Terkadang mereka  terintimidasi, bukan saja oleh kawan sesekolah, melainkan juga oleh  guru. Golongan  ini sering dipermalukan di depan kelas saat berlangsungnya proses belajar mengajar.

Demi mencapai predikat bergengsi, banyak anak anak (yang boleh jadi didorong orang tua) akhirnya menempuh jalan pintas. Menghalalkan segala cara untuk mendapatkan tujuannya, mendapat nilai bagus dan segera dikelompokkan kedalam anak pandai.

Mengabaikan kejujuran dan bertindak manipulatif, seperti mencontek. Saat menjelang  ujian, anak berlomba mencari guru les yang mampu memberikan kisi kisi  untuk mendapatkan nilai terbaik saat ujian. Yang lebih ekstrim lagi, mereka bersama sama sepakat “mencari bocoran soal ujian”.

Ada permintaan dari anak anak dan  dorongan orang tua yang rela  mengeluarkan uang. Ada penawaran dari  oknum pemerintah dan oknum guru yang korup. Bertemunya permintaan dan penawaran itu, menjadi cikal bakal  praktek korupsi dan manipulasi.

Semua yang dikerjakan hanya memiliki satu tujuan, yaitu nilai akademik bagus.

Pada gilirannya, fungsi sekolah tidak tercapai. Seharusnya anak anak pergi ke sekolah adalah menuntut  ilmu. Namun yang terjadi adalah mereka berlomba mencari nilai. Bukan agar anak mampu memahami dan mengaplikasikan ilmu  yang didapat untuk kehidupan, melainkan sekedar hafalan.

Anak tidak pernah  diajarkan  bagaimana susahnya  seorang ilmuan menemukan rumus rumus  matematika. Melainkan  dipaksa sistem untuk  menghafalnya. Mereka  tidak diajarkan bagaiman memahami  logika  yang mendasari teori, namun hanya dipandu memahami buku tipis kiat kiat lulus ujian.

Tindak manipulatif ini tentu saja menjauhkan fungsi utama pendidikan, yaitu pembentukan karakter dan budi pekerti. Semenjak dini anak anak diajarkan curang dan manipulatif.  Hasil dianggap lebih penting dibanding proses.  Oleh sebab itu, jangan  heran jika saat ini kita disuguhkan banyak berita tindak kejahatan  “golongan intelektual”, seperti  korupsi.

Akhirnya, sebuah catatan bijak dari seorang Sastrawan Irlandia bernama  Oscar Wilde  layak kita renungkan.

@lambangsarib

.

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo www.csmcargo.com

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in inspirasi and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

17 Responses to Apakah Sistem Pendidikan Saat Ini Menghasilkan Generasi Korup ?

  1. Yang sangat disesalkan itu adalah sampai sekarang masih banyak sekolah-sekolah yang mengkotak-kotakkan berdasarkan penilaian akademis, misalnya kelas A berisi anak-anak dengan nilai tinggi dan kesannya superior bila dibandingkan dengan kelas B, apalagi kelas E. Kondisi ini hanya memunculkan bibit-bibit arogansi bagi para siswa superior bila hati mereka tidak dikelola dengan baik, melalui pengajaran agama dan budi perkerti.

    • lambangsarib says:

      Pengkotakan itu daru dulu pak, tak berubah hingga kini. Jaman saya SMP juga begitu.

      Kalau saya sendiri, sekolah seperti naik roller coaster. Pernah ranking satu, pernah pula rangkin terakhir.

      Arogansi yang dibentuk saat sekolah menjadi budaya di masa tuanya ya pak ?

      • Dewi says:

        manusiawi itu ya pak, manusia memang memiliki nafsu, karna kita kita ini rakyat yang nrimo,, apa dayalah kita kecuali kita memiliki wewenang di situ, pencegahan dini menurut saya adalah kembali pada orang tua yang tidak memaksakan kehendak pada anak2 nya,, karna arogan orang tua yang gila pujian ia bebankan pada anak2 mereka dengan harus berprestasi.
        Orang tua sekarang memang harus pintar mengarahkan dan membentuk pribadi anak sejak dini,, agar tidak terperosok nanti tuanya,,

      • lambangsarib says:

        Yups. Seringkali orang tua berpacu dalam egoisme masing masing. Anak dikorbankan dan menjadi obyek pemenuhan keinginan mereka yg tak sampai.

      • Sifat negatif yang lama terpelihara dan tidak dikikis tentu akan berdampak pada masa tuanya.
        Namun dalam kasus ini, pengkotak-kotakan itu berhenti saat mereka memasuki dunia universitas. Jadi, bisa diredam.

        Rasa arogansi itu hanya menguat saat masih level sekolah SMP-SMA saja. Akibat pengkotak-kotakan itu, jiwa kepekaan sosialnya berkurang, yang tinggi justru egonya, sehingga mudah sekali kalo disulut untuk tawuran antar pelajar. Tawuran itu menunjukkan hilangnya rasa kepekaan sosial. Ini khusus pelajar yang tidak tertata dengan baik egonya.

      • lambangsarib says:

        Sepakat dengan pak Iwan. Selayaknya sistem kuliah diadopsi dan sedikit dimodifikasi untuk tingkat pendidikan yang lebih rendah.

  2. chris13jkt says:

    Nah itulah yang salah, kalau sesuatu hanya dihafalkan maka yang terjadi adalah begitu sudah lulus atau naik kelas, hafalan itu akan terlupakan. Masih sedikit sekali pendidik yang menjelaskan bagaimana memperoleh suatu rumus. Kebanyakan hanya menyuruh untuk menghafalkan.

  3. lieshadie says:

    Pendidikan sekarang memang harus diimbangi dengan pendidikan budi pekerti yang tinggi Pak..

  4. tinsyam says:

    ga ada yang namanya mata pelajaran korupsi.. yang ada soal kebiasaan.. sistem pendidikan ga ada yang salah, tapi budayanya yang menjurus kesana.. [baca menjurus korupsi]
    seperti masuk a1 ato a2 kudu suap, kudu menghalalkan segala cara..
    paling bener itu pendidikan di rumah, semua dimulai di rumah.. bukan sekolah.. jangan mengkambinghitamkan sekolah.. kambinghitamkan saja orangtuanya..

  5. genthuk says:

    jadi berhubungan dengan tulisan saya soal bakat. tiap orang memiliki bakat-bakat yang berbeda. cara berpikirnya berbeda, cara dia menghadapi masalah dan menyelesaikan masalah berbeda dari satu orang ke orang lain. kayaknya dimulai dari diri sendiri saja Pak, kalau punya anak buah harus cari tahu apa potensinya.. lalu dikembangkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s