Kumandang Takbir Pertama

Suara adzan maghrib berkumandang.  Alunan  merdu muadzin  mengabarkan keteduhan dan kedamaian.  Gelombang ajakan mendirikan solat menyeruak masuk,  berdengung ke  setiap sudut  ruang di dalam rumah.  Tentu saja, karena  memang  surau  itu  letaknya  hanya berselang dua  rumah.

“Pak, Allahuakbar pak…,” seru anakku.

Pada saat  bersamaan, istriku menggapai remote televisi dan memencet tombol warna merah. Televisi pun mati. Kemudian ia beranjak berdiri dan bejalan perlahan menuju meja makan.

“Bapak buka dulu…, ” katanya tanpa melihat kearahku. Pandangan matanya tertuju pada hidangan yang tersedia di meja makan. Sementara  disaat bersamaan, kedua tangannya lincah mempersiapkan hidangan berbuka.

Aku diam tak menjawab permintaan  istriku. Kututup  buku yang sedang dibaca dan  beranjak dari  meja tengah. Sambil berjalan kearah meja makan, kukatakan, “nduk ayo maem dulu. Nanti ikut Allahu Akbar sama bapak !”

*

Sekitar pukul 18.30.

“Om Yusup…., tolong  bawain  hewan qurban ini. Ayo kita ke musholla sama sama.” Pintaku pada salah seorang karyawan yang sedang mencuci truk.

Dengan mengenakan setelah baju celana  berwarna pink dan kerudung putih, anakku berdiri tepat disampingku. Mengawasi setiap gerak gerik dan perkataanku. Sebagai plagiat ulung, tentunya ia sedang mencari cari hal baru yang akan ditirukannya.

Tangan kirinya menggenggam erat jari telunjukku, seolah enggan melepaskan. Aku mulai melangkah, dan ia pun melangkah mengikuti kemaran arah kakiku menuju.

Suara takbir bergema dari dalam musholla. Saat kami sampai, ternyata Pak Poniman, sebagai ta’mir sudah siap menerima hewan qurban.

“Pak, ini hewan qurban dari keluarga kami. Minta tolong besok dipotong dan dibagikan kepada yang berhak.”

“Baik pak, terimakasih hewan qurbannya,”  ia katakan itu saat kedua tangan kami berjabat erat. Kemudian ia menambahkan, “saya juga mohon do’anya pak, semoga bisa menjaga amanah dari bapak. Mohon do’anya juga, semoga tahun depan saya bisa berkurban.”

Aku tersenyum, “Amin…, Insya Allah tahun depan bapak bisa kurban,” jawabku.

Setelah beberapa saat berbincang, tangan anakku menarik narik jari telunjukku. Aku paham, kemana ia hendak mengajak pergi.

“Baiklah Pak Poniman, saya  ke musholla dulu yah… Ini anak, mau main sama teman temannya yang sedang bertakbir.” Kataku sambil  memohon diri. Untuk kemudian segera memasuki musholla.

Anak anak tampak riang, ada yang bertakbir, ada yang riang memukul bedug dan tentu saja ada yang bermain kejar kejaran. Melihat teman temannya, anakku langsung melepaskan jari telunjukku dari cengkeramannya. Berlari membaur dengan teman sebaya.

Aku mengawasi dari jauh. Duduk bersandar pada salah satu pilar utama musholla. Sementara anakku asyik bekejar kejaran dengan anak anak lain. Musholla sangat meriah. Suara anak anak yang bercampur aduk antara jerit, tawa, bedug dan takbir. Sambil mengawasi anakku bermain, aku mengumandangkan takbir mengikuti irama anak anak.

Kebahagiaan malam ini sungguh luar biasa. Mengingatkanku pada berpuluh tahun yang lampau, di masjid kampung, sewaktu usiaku sebaya mereka.

Entah sudah berapa lama aku melamun. Dalam posisi duduk bersila,  tiba tiba anakku duduk dalam pangkuanku. Nafasnya terengah engah, habis bekejar kejaran. Kaosnya sedikit basah oleh keringat. Kurengkuh tubuh mungilnya, dan mendekap erat. Sambil mencium pipi, aku katakan, “udah duduk sini sama bapak nduk…, kita takbiran saja. Kiki sudah capek kan ?”

Ia tidak menjawab, hanya diam dan   duduk diantara dua kakiku yang bersila. Sepertinya dia kecapekan.

Beberapa detik kemudian kudengar sayup sayup suara takbir. Aku terpana, kaget, kagum, bahagian dan entah apa lagi. Ternyata kini anakku sudah mampu mengumandangkan takbir lengkap.

“Alhamdulillah….,” berkali kali puji syukur atas anugerah ini pada Allah. Aku sangat bersyukur, anakku sudah mampu bertakbir untuk kali pertama di musholla.

Nikmat apalagi yang mesti kita dustakan ?

@lambangsarib

.

Butuh jasa cargo murah ? www.csmcargo.com via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky, Uncategorized and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Kumandang Takbir Pertama

  1. happy ied…jaalnallahu waiyyakum minal aidin wal faizin

  2. tinsyam says:

    wuih kiky udah bisa takbir lengkap? mantap..

    • lambangsarib says:

      Butuh 3x lebaran haji dan 3x lebaran fitri. Setiap malam takbir selalu kuajak ke surau.

      Kemarin, sekali lagi kuajak ke surau saat takbiran, eh…. tiba tiba saja langsung bisa.

      Mungkin itulah fungsi “proteksi” orang tua terhadap anak di usia balita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s