Anak Butuh Kasih Sayang, Bukan Pembantu

Pagi yang cerah, tak tampak sedikitpun guratan awan di angkasa.  Langit berwarna  biru dongker, bagai   hamparan permadani tanpa  batas.

Aku bermain berdua dengan anakku, mengejar kupu kupu beraneka warna di taman. Tak seberapa jauh dari rumah. Binatang itu  terbang jauh. Anakku mengejar kemanapun arah ia terbang.

Dan…, hinggaplah ia di sebuah gerobak pemulung yang di parkir dibawah pohon mahoni  yang rindang. Grobak itu berbeda dari biasanya. Berukuran lebih besar, lebih tinggi dan beratap terpal ganda,  biru dan orange.

Sesampai di samping gerobak, kulihat anakku tak mengejar kupu kupu lagi. Ia berdiri,  diam tak begerak disamping gerobak.  Kudapati sorot matanya tak berkedip kearah seseorang di  dalam gerobak. Bibirnya menyunggingkan senyum pada  sahabatnya  didalam.

Ah…., anak gerobak itu….

Ia adalah salah satu sahabat anakku. Walau keduanya belum mampu berkomunikasi secara verbal. Namun keyakinanku pasti, bahwa mereka berkomunikasi dengan bahasa lain, yaitu dari sorot mata, aura wajah dan bahasa tubuh.

anak gerobak

Mungkin karena hampir setiap hari gerobak ini kutemui. Mungkin karena hampir setiap saat aku bertemu dengan anak ini dan kedua orang tuanya. Mungkin karena itu, rasa ibaku sedikit demi sedikit terkikis.

Aku selalu tersenyum setiap kali bertemu keluarga hebat ini. Tinggal sederhana diatas gerobak. Anaknya bermain main di dalam gerobak, yang disulap menjadi rumah perlindungan. Bapaknya setiap hari  menarik gerobak, berpindah pindah  menghindari penertiban Satpol PP. Sementara sang ibu  mendorong gerobak dari belakang, sambil sesekali memungut barang barang yang laku dijual dari tempat sampah.

PING……….. !!!

Suara blackBerry di saku berbunyi nyaring. Menandakan seseorang telah mengirim pesan. Segera kuambil dari saku, dan membukanya.

Ah… ternyata hanya broadcast massage  grup dari  teman teman sekolahku. Dengan malas aku paksakan diri  membaca.

Dari seorang kawan, ia menulis, “Alhamdulillah, 2 hari full menikmati menjadi ibu Rumah Tangga. Nikmat sekali ternyata. Antar jemput anak, nyuci, masak…..”

“Hm…., sahabat…. Begitu bahagiakah engkau menjadi seorang ibu yang sebenarnya ? Apakah  selama ini  kamu lebih mementingkan karirmu dibanding mengantar dan menjemput anak sekolah ? Mencuci pakain orang orang yang kau cintai pun mungkin sangat jarang kamu lakukan ? Dan, apakah kamu tidak bangga memasak makanan terlezat buat  anak anak  dan suamimu ? Hm….,”  gumamku dalam hati.

Sebenarnya, ingin sekali kutuliskan uneg uneg itu di group. Namun, demi persahabatan, tak sanggup aku  menyinggung perasaan mereka.

Belumlah  selesai lamunanku,  massage baru masuk. “Enak ya cuti ? Aku susah cutinya,” seseorang lain bertanya.

Kemudian ia menjawab lagi, “Ya ***, pembantuku keluar dan pulang kampung mendadak kemarin. Akhirnya aku memutuskan untuk cuti mendadak. Soalnya, sekarang kan anak sekolah SMP tidak boleh membawa sepeda  motor, jadi harus antar jemput.”

“Alhamdulillah, pagi tadi dapat pembantu lagi.  Aku berdo’a minta dimudahkan cari pembatu.” Dia tambahkan dalam pesannya.

Pesan broadcast satu persatu berdenting dari smart phone. Namun tak kubaca. Dalam pikiranku berkecamuk tanya. Tentang makna kehidupan, terlebih lagi tentang sosok ibu bagi anak anaknya.

Mungkin banyak anak di negeri ini bergelimang harta, namun cukup sedikit anak yang bergelimang kasih sayang. Mungkin, salah satu sahabat anakku ini, anak seorang pemulung, merasakan bagaimana indahnya kehidupan dengan cinta dan kasih sayang. Kapanpun ia rindu, ada kedua orang tua disinya.

Anak membutuhkan cinta dari kedua orang tuanya, bukan kehadiran pembantu.

@lambangsarib

.

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @csmcargo  www.csmcargo.com 

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky, Uncategorized and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

11 Responses to Anak Butuh Kasih Sayang, Bukan Pembantu

  1. 1createblogs says:

    Very well written post.

  2. dyazafryan says:

    sangat -sangat setujuu….🙂 kasih sayang orang tua itu segalanya..

  3. Tapi itulah fenomenanya…

  4. Erit07 says:

    Betul sekali postingan pak lambang..

  5. chris13jkt says:

    Setuju sekali Mas Lambang. Bagaimanapun perhatian dan cinta orang tua tak tergantikan oleh siapapun, dan aku yakin anak-anak bisa merasakannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s