Apakah Anak Sekarang Lebih Bahagia Dibanding Anak Jaman Dulu ?

Tadi sore,  sebelum waktu sholat maghrib tiba. Aku dan anakku sengaja menghabiskan waktu jalan jalan ke taman bermain tak jauh dari rumah, masih di lokasi perumahan yang sama.

Taman terbuka hijau nan asri, penuh beraneka bunga dan pohon pohon besar tanpa buah. Sangat cocok  untuk lokasi  bermain anak. Fasilitas olahraga pun tersedia, seperti lapangan bulu tangkis,  yang  bersatu dengan lapangan basket dan futsal. Dibedakan hanya dari warna lapangan  dan garis garis yang membatasi.

Sungguh ramai sore tadi. Puluhan orang berkumpul. Anak anak, remaja dan  dewasa berbaur. Keramaian yang  melebihi hari hari biasa. Kemeriahannya  bukan karena hebohnya  permainan, melainkan untuk melihat sapi dan kambing.

Seperti tahun tahun sebelumnya. Menjelang perayaan hari besar Islam, Idul Adha, hampir semua taman kota berubah fungsi menjadi pasar hewan. Tempat dimana pedagang hewan qurban menjajakan dagangannya.  Pembeli pun dengan senang hati mendatangi, untuk transaksi, dari satu taman ke taman yang lain.

Disini adalah salah satu  tempat  yang sangat menjanjikan. Seperti biasa, keusilanku memaksa  untuk sekedar bertanya. Pada seorang  pedagang kutanya, “kang, kenapa boleh dagang disini ? Bukankah ini ruang terbuka hijau ? Harusnya kan  tidak boleh ? Memangnya ini di ijinin siapa kang…?”

Sejenak raut wajahnya berubah. Memandangiku penuh curiga. Matanya mengeksplorasi fisikku, setiap lekuk dia perhatikan dengan seksama. Mungkin karena kami berasal dari satu kampung, akhirnya ia mau  bercerita. Panjang lebar. Dari awal hingga akhir. Lika liku permohonan ijin pun diceritakan dengan gamblang.

Di akhir kisah  ia mengatakan, “pokoknya tidak ada yang susah, asal ada uang semua pasti  beres. Jika ketua RT saja bisa menggunakan pengaruhnya untuk memaksa kami menyuap, apalagi pejabat negeri tertinggi ?”

Perkataannya mengandung tanya. Yang tentu saja sangat  mengagetkan. Tiba tiba saja  langsung terbayang  wajah “innocent”  Pak RT yang terhormat. Kemudian  satu persatu pejabat kelurahan yang santun  pun terbayang.  Dan tentu saja,  beberapa wajah aparat penegak hukum yang tersenyum.

“Apakah orang orang yang selama ini  kuanggap suci,   telah mengkhianatiku ? Telah mengkhianati kami sebagai  rakyatnya ?”

Dalam hati aku berkata, “jika hal begini saja sudah  sarat dengan pungli dan manipulasi, bagaimana dengan permasalahan yang melibatkan pejabat tinggi ?”

*

Masih kugandeng anakku. Sepertinya ia  masih  asyik memberi makan seekor  sapi berwarna coklat yang  gemuk. Kebahagiaannya…, tak mungkin disembunyikan. Begitu pun dengan beberapa teman temannya.

Melihat kebahagiaan anak anak, aku jadi  teringat masa  kecil dulu. Waktu seumuran mereka. Kucoba membuka lembar demi lembar memori yang sudah lama terkubur dalam otak. “Alhamdulillah,  ternyata aku masih mampu membukanya,” gumamku dalam hati.

Keceriaan anak anak, masa lalu dan saat ini tentu sama. Karena memang mereka  terlahir netral dan sesuai jamannya. Mungkin  ada beberapa perbedaan yang bisa kuceritakan.

Aku lahir,  hidup dan tinggal di kampung.  Jangankan listrik, jalan utama desa pun masih tanah liat. Yang berubah menjadi kubangan lumpur saat musim penghujan  dan rekah rekah berongga  dimusim kemarau.

Pematang sawah, kebun, sapi, kerbau, kambing adalah bagian dari kehidupan. Hewan hewan ternak itu mengisi hari hari yang kulalui. Bersama sapi  aku tinggal serumah, yang hanya dipisah oleh bilik rapuh berlobang.  Kambing adalah sahabat terbaikku bermain. Saat mandi di sungai, kerbau adalah sahabat karib. Tak jarang kami  mandi bersama.

Saat pulang sekolah, yang jaraknya sangat jauh,  sapi adalah mobil termewah yang pernah kunaiki. Bersama dengan sahabat karibku, yang entah kemana ia sekarang.

Kembali kulihat  anakku dan sahabat sahabatnya, mereka masih sibuk memberi makan seekor sapi coklat dengan dedaunan segar.  Bagi anak perkotaan, kiranya sudah cukup gembira hanya dengan melihat, mengusap  dan memberi makan hewan qurban. Kebahagiaan mereka terlihat sangat jelas  di aura wajah.

Teringat pula bagaimana dulu jika aku dan kawan kawan menginginkan buah buahan. Sepulang sekolah, kadang kami harus mengendap endap untuk mencuri mangga tetangga. Jika melihat  buah  jambu, pepaya, sirsak atau belimbing masak, maka kami akan berjibaku memanjatnya. Beramai ramai, bahkan seringkali diantara kami ada yang terjatuh hingga lutut berdarah.

“Apakah anak anak sekarang bisa merasakan sensasi itu semua ?”

Kadang  kami pun  beruntung. Saat melewati pematang sawah, seringkali menemukan mentimun atau semangka yang  berbuah. Memetiknya dan langsung melahap dengan rakus. Hm…. Segaaar.

“Sayang, anak kota tak pernah merasakan sensasi berjalan di pematang sawah.”

Jika anak anak perkotaan sekedar ingin makan buah buahan, maka tak ada jalan lain selain  membeli. Keinginan mereka tak kan terpenuhi, kecuali ada uang.

Tak ada kreativitas anak untuk mendapatkan buah buahan segar. Tak perlu kerja keras untuk memenuhi keinginan jajanan.  Cerita kebandelan anak anak mencuri mangga digantikan berita kriminalitas dan tawuran. Perasaan senasaib saat  mencari mentimun di pematang sawah tak ada dalam kamus anak perkotaan.

“Apakah anak anak sekarang lebih bahagia dibanding anak anak tempo  dulu ? Ah entahlah, aku tak tahu. Yang pasti, waktu  seumuran anakku, tak ada HP ataupun tablet. Tak ada PS dan games online. Kami hanya bermain sesama teman, berinteraksi naluriah dengan alam, dan bersahabat dengan keterbatasan.” Kataku dalam hati.

@lambangsarib

.

Butuh jasa cargo murah ? www.csmcargo.com via twitter @csmcargo

 

 

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

10 Responses to Apakah Anak Sekarang Lebih Bahagia Dibanding Anak Jaman Dulu ?

  1. Larasati says:

    jaman sekarang tak ada petak umpet di kebun yah pak…

  2. abi_gilang says:

    Zaman sekarang ketahuan nyuri mangga sebiji aja bisa berurusan dengan pengadilan Pak, dulu kalo ketahuan ngambil buah tetangga paling hanya dilaporin orang tua aja, terus yg marahin kita bapak sendiri:mrgreen:

  3. kalau menurut saya dan teman-teman saya yg sering berbincang ttg masa kanak-kanak, anak jaman sekarang bahagia tapi kekurangan makna..

  4. jeffri says:

    jaman pulang sekolah sd, beramai ramai melewati pematang sawah dan berusaha menangkap bunglon🙂 kebahagiaan yang murah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s