Sikap Orang Tua, Bagaimana Sebaiknya ?

Sepenggal cerita siang tadi, di toko buku gramedia Jakarta.

Di lantai tiga. Siang yang sejuk, karena memang ruangan ber AC. Namun diluar sana, kulihat  dari balik kaca, sangat  terik menyengat.

Aku dan anakku sedang duduk santai. Kami menyantap sepiring kentang goreng dan segelas es teh strawberry. Sengaja kami hanya memesan sepiring dan segelas minuman untuk kami berdua. Selain mengajarkan hemat, tentunya juga untuk memberi  kesan “romantisme” antara bapak dan anak.

Beberapa buah buku dan puzzle tergeletak diatas meja. Anakku tak menjamahnya, padahal itu adalah   favorit.  Mungkin kentang goreng kering itu terlalu lezat untuk dilewatkan begitu saja.

*

Seorang perempuan berjilbab kuning yang sejak tadi duduk di meja sebelah, berdiri dari kursinya. Sementara dua orang anak kecil  masih tetap duduk mengelilingi meja yang sama.  Tampak asyik menyantap makanannya.

Perlahan ia berjalan, menuju ruangan berdinding kaca. Kira kira hanya sekitar dua meter jaraknya dari tempat kami makan.  Langkahnya berhenti tepat  dihadapan pintu yang bertulikan “smoking area.”

Tangan kanannya berusaha  menarik daun pintu kearah  keluar. Bersamaan dengan dehemannya, pintu pun terbuka lebar.

Dan…,  bau tak sedap asap rokok pun  menyeruak masuk. Bagaikan gelombang tsunami asap yang  berebut masuk ke lubang hidungku. Aku mencoba mengipas ngipaskan tanganku di ujung hidung, untuk mengusir aroma itu. Namun tak berhasil.

Sungguh, bau tak sedap itu telah menghancurkan bangunan romantisme. Melenyapkan nafsu makan  dan tentu saja merusak kebersamaan kami.

Setelah pintu terbuka lebar, perempuan itu tidak masuk. Ia hanya berdiri di mulut ruangan. “Ayo pah, kita pulang…!!!” teriaknya. Suara yang cempreng melengking terdengar,  sangat tidak enak didengar telinga.

“Sebentar mah, tanggung nih.” Suara bariton dari seorang lelaki dengan jelas kudengar dari dalam ruangan.

“Anak anak bagaiman pah… ??!!” ia bertanya. Masih dengan nada tinggi. Kemudian segera  ia menambahkan, “apakah papah drop mamah dulu ke salon, lalu antar anak anak pulang ? Mamah pulang naik taksi aja. Katanya papah ada rapat sore nanti kan … ? Tapi pulangnya jagan malam malam ya pah, besok mamah harus berangkat kerja pagi pagi.” Rentetan pertanyaan demi pertanyaan perempuan itu belumlah  terjawab.

Bau parfum yang wangi sesekali tercium, mungkin dari perempuan itu. Silih berganti, antara  bau apek  tembakau terbakar dan bau harum parfum yang mungkin saja  berharga mahal.

“Kok gitu sih mah ? Apa tidak sebaiknya kita pulang bareng bareng. Lalu mamah naik mobil sendiri ke salon  dan bapak langsung berangkat  rapat ? Anaka anak biar dirumah sama bibi.” Suara lelaki itu terdengar  lagi dari dalam ruangan kaca.

“Anak anak sudah besar kok, biar mereka main sendiri,” tambahnya. Perdebatan diatara mereka belumlah usai, bahkan terdengar semakin sengit. Masing masing tidak mau mengalah. Mau menang sendiri, mementingkan egonya.

Suara derit kursi dari meja disamping  mengalihkan perhatianku. Seorang gadis mungil berusaha turun dari kursi, dengan sedikit melompat.  Bergaun putih bersih, bak putri dari  negeri kayangan. Begitu cantik ! Lesung pipit di kedua pipinya, bola mata bulat dan berbinar cerah, rambut hitam ikal panjang yang mengkilat. Kulitnya tampak  bersih dan segar. Mungkin ia berusia tiga tahunan, seusia anakku.

Sepotong kue yang baru digigit sebagian dicengkeram erat dengan tangan kanannya.

Gadis itu  berjalan  menuju perempuan di samping pintu,  yang sedang beradu argumen  dengan suaminya. Saat melintas, ia melirik kami berdua yang sedang asik menyusun puzzle princess. Sorot mata itu seolah memberitahu sesuatu. Ada hal yang ingin diucapkannya.  Namun…, entah apa.

“Ah… bola matamu indah nak, kamu secantik anakku,” gumamku dalam hati.

Tak sampai hitungan menit, gadis  itu sudah berdiri tepat disamping perempuan tadi. Tangan kirinya menepuk dan bertanya, “mah, papah mana mah… ?” Saat itulah  baru kutahu, bahwa ternyata gadis cantik itu adalah anak perempuan yang menyita perhatianku.

“Itu papah  didalam, papah sedang merokok,” jawab ibunya.

Mendengar jawaban itu, si gadis cantik langsung mencoba menghambur masuk ke ruangan “smoking area”. Secepat kilat pula sang ibu menangkap tangan kirinya dan  berkata, “jangan masuk sayang, papah sedang merokok, nanti kamu batuk.”

“Tapi aku ingin sama papah, mah…?” jawabnya menghiba, mengharap ibunya melepaskan pegangan.

“Tidak sayang, kamu tidak boleh masuk ! Papah sedang merokok ! Tunggu saja papah disini, nanti sehabis merokok, pasti papah keluar.” Kata ibu itu meyakinkan.

“Tidak mau, aku mau masuk…!! Aku mau makan sama papah …!!!”

“Tidak…..!!! Tidak boleh, kamu nanti batuk… !!!  Kalau mamah bilang tidak, ya tidak…!  Anak bandel… !!! Awas kamu, jangan buat mama marah …!!” Suara keras ibunya, penuh amarah, memenuhi ruangan.

“Maaah……, Aku mau masuk…., mau makan sama papah….” tangisan penuh iba si gadis cantik.  Ia terus  meronta dan menghiba. Mengharap dengan sangat agar sang ibu melepaskan tangannya.

Untuk sekedar mengijinkannya  makan dengan bapaknya. Ia menangis dan terus menangis. Tak patah semgangat, berupaya sekuat  tenaga untuk melepaskan pegangan ibunya.  Tangisan itu begitu keras.  Semakin ibunya melarang, maka tangisan itu pun  semakin keras.

*

Sobat anak, bagaimana menurutmu kedua orang tua diatas dalam mendidik anak ?

@lambangsarib

.

Butuh jasa cargo murah ? via twitter @ csmcargo –> www.csmcargo.com

 

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

7 Responses to Sikap Orang Tua, Bagaimana Sebaiknya ?

  1. ayanapunya says:

    inilah makanya saya nggak mau punya suami yang merokok😦
    saya kadang sebal banget, mas kalau liat cowok makan sama pacarnya trus habis makan dia merokok di depan pacarnya. Juga sama bapak yang bawa motor sambil merokok padahal di belakangnya ada anak istrinya. kalau dalam kasus tadi yah wajar sih si ibu nggak mau anaknya kena asap rokok. tapi di lain pihak juga kasian anaknya pengen sama bapaknya. ah, harusnya bapaknya tuh yang ngerti kalau dia harusnya jangan merokok

  2. Anak tersebut rentan untuk meniru ke-egois-an kedua orangtuanya itu kelak, menjadi pribadi yang tidak amanah. Itu bahaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s