Beda PSK dan Pejabat Dihadapan Penegak Hukum

Malam belumlah larut, mungkin baru sekita satu – dua jam selepas sholat Isya’. Malam minggu yang sangat cerah, dengan “bulan ndadari” tanpa tertutup awan. Kerlip bintang pun dapat dilihat dengan  jelas. Sungguh malam yang sangat romantis. Paling tidak buat muda mudi.

Beberapa mobil kijang bak terbuka dengan kursi panjang  dibelakangnya tiba tiba  berhenti mendadak. Serombongan orang  berwajah garang berlarian turun dari mobil. Menyeruak bak kesetanan.  Mereka umumnya bertubuh gempal, berseragam hijau tua bak militer, lengkap dengan sepatu boot hitam. Pentungan di tangan kanan berayun. Menghantam apa saja. Menimbulkan kegadudah yang sangat.

Sebilah belati bisa dengan mudah  terlihat karena kilat pantulan sinar bulan. Tampak angkuh  tergelantung di sabuk, sisi sebelah kiri.

“Apa apan ini… Bubar… Bubar….. ! ” Teriakan mereka tanpa henti  mengagetkan sebagian orang yang sedang dimabuk asamara. Bereka memukul apa saja yang terjangkau. Menendang penuh amarah. Menjungkalakan gerobak penjual minuman hingga berantakan dan banyak minuman tumpah dijalanan.

Tampaknya orang orang ini sangat murka !

Orang berhamburan. Berlarian tunggang langgan, meninggalkan apa saja.  Suara jeritan anak anak dan  tangisan ibu memecah romantisme malam. Terdengar pula sesekali suara lelaki mengaduh. Mungkin kena tebasan pentungan  pukul. Suanas cheos.

Seorang berperawakan tinggi, bertopi militer tampak masih duduk didalam kabin  mobil. Dimulutnya terselip sebatang rokok yang mengepulkan asap.  Mengawasi. Pandangan matanya tajam bagai mata  burung hantu di keremangan malam.

Sesekali tangannya menunjuk nunjuk  memberikan komando. “Ayo…, semuanya !!! Semuanya masukkan mobil  dan bawa ke pos ! Mereka adalah sampah masyarakat ! Mereka merusak lingkungan kita !” Katanya berkali kali dengan nada tinggi.

Dengan biadapnya  satu persatu perempuan perempuan itu digelandang menaiki mobil. Mereka tak berani melawan. Hanya pasrah. Mengikuti instruksi lelaki lelaki perkasa bersenjata pentungan.

“Jangan pak…. Jangan…. Anak saya sakit dirumah ?!?!”. Seorang perempuan bergincu merah menyala  itu meronta,  sedikit melawan tarikan aparat. Air matanya berlinang melunturkan bedaknya yang tebal.

“Tidak…. Kamu pembohong !! Kamu penipu !! Kamu sampah !!” teriak lelaki hitam dengan otot yang terlihat kasar.

Wanita itu masih saja berusaha  melawan, walau mungkin ia tahu  cengkeraman tangan lelaki itu tak mungkin terlepas. Tarik menarik yang tak seimbang, diselingin tangisan penuh harap, “jangan pak…, jangan…., anak saya beneran sakit dirumah ! Dia sendirian dirumah menunggu saya…”

Tiba tiba lelaki gempal tadi menjambak rambut si  perempuan. Menyeretnya  dengan kasar dan menendangnya masuk kedalam mobil kijang satunya. Kijang berwarna gelap, bertuliskan Satpol PP.

Tak berselang lama  beberapa pemuda datang.  Bukan untuk membantu perempuan perempuan itu. Bukan pula untuk mencoba melerai ataupun mendinginkan suasana. Mereka tampak asyik bermain cahaya. Kilatan  lampu blits berulang ulang,  menyertai suara “krek”, tanda kamera mengabadikan sebuah adegan.

Mereka datang hanya untuk mengambil   foto !

Beberapa pemuda  lain sibuk mencari tempat terbaik,  untuk mendapatkan angle  rekaman  adegan. Saat kamera diarahkan ke  wanita wanita tuna susila yang terjaring operasi, perempuan itupun sebenarnya marah.

Mereka muak dan membenci media. Namun apalah daya,  mereka tak mampu berbuat banyak. Yang bisa diperbuat hanyalah menutupi wajah dan tubuh mereka dengan kertas, dompet, dan apa saja yang ada disekitar. Untuk menghindari eksplorasi  kamera.

*

“Pak itu orang orang sedang apa ? Kok rame amat. Kasihan itu ya pak…., tante tantenya dipukul dan ditarik tarik,” anakku bertanya tentang sebuah adegan yang sedang kami tontong bersama. Berita di  layar televisi.

“Itu penertiban oleh satpol PP, ” jawabku.

“Satpol PP itu apa pak ?”

Kemudian aku mencoba merangkai kata sesederhana mungkin untuk menerangkan  tugas dan kewajiban satuan pamong praja tersebut.   Namun, dari sorot matanya yang tak berkedip, aku tahu bahwa ia tak memahaminya.

“Kenapa harus  memukul pak ? kasihan sakit ya pak…? ” tanya anakku tiba tiba memotong.

Aku diam….

“Maaf nduk, bapak susah menjelaskannya,” batinku. Otakku bekerja keras untuk mencoba mengumpulkan kata kata yang bisa menjelaskan adegan tadi. Terlebih buat anak anak yang argumentasinya terbatas.

*

“Pemirsa, berita selanjutna terkait dengan korupsi. Baru saja rekan kami di gedung KPK memberikan laporan. Ada berita apa ?  Kita langsung terhubung dengan sahabat Pian yang akan memberikan laporannya langsung selengkapnya. Silahkan Pian.”

*

Sebelum genap hutangku untuk menjelaskan proses penertiban PSK oleh satpol PP, berita televisi yang sedang kami lihat berganti  pemberitaan. Kali ini tentang  korupsi. Berita yang menggemparkan.  Penangkapan tangan olek penyidik KPK pada ketua lembaga tinggi negara.

Aku tak bisa konsentrasi pada isi pemberitaan. Pikiranku masih saja sibuk berkelana mencari kata kata untuk sebuah jawaban akan pertanyaan anakku. Meski begitu, mata kami berdua tetap fokus di layar televisi.

“Pak itu siapa ?” tanya anakku.

“Oh itu… itu pemimpin kita  nduk, kenapa ?’

“Banyak banget orangnya ya pak, pada foto foto. Lihat tuh pak…, lihat…, dia melambaikan tangan.”

Aku diam mendengar  omongan anakku. Kupandangi wajahnya yang polos. “Nduk, maafkan bapak, tidak mampu menjelaskan bagaimana tante tante tadi menutup mukanya saat ditertibkan satpol PP. Begitu pula yang ini. Koruptor yang selalu tersenyum dan melambaikan tangan saat dibawa ke rumah tahanan.

Tiba tiba kulihat anakku mengangkat kedua tangan  dan menggoyangkan kedua telapak tangannya. Dengan senyum lebar ia berkata,  “dada… dada… dada…”

@lambangsarib

.

Butuh jasa cargo murah ? www.csmcargo.com via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

15 Responses to Beda PSK dan Pejabat Dihadapan Penegak Hukum

  1. Para Execu-thieves, Legisla-thieves, dan Judica-thieves kalo ditangkap KPK dengan tersenyum dan bangga kemudian mengacungkan tiga jari … METALLL !!!

    *mereka lupa kalo dulu pernah bersumpah dengan Al-Qur’an*

  2. maghdalena1 says:

    sebuah kerja berat memberikan penjelasan yang tepat bagi anak2 yang sedang masa kritis dan ingin tahunya sungguh tak terbatas..semoga Allah beri kita semua kekuatan itu, membimbing anak2 kita ke jalan yang benar…dn menjawab semua tanya mereka dengan bijak

  3. hiks..
    kebayang klo punya anak.
    tapi belum punya… doain ya Pak.. huhu
    *malah numpang minta didoain, hehe =D*

  4. afan says:

    mungkin yang senyum-senyum itu bangga pak bisa menunjukkan ini lho 3 miliar……….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s