Dalam Revolusi, Selalu Anak Yang Menjadi Korban.

Hari ini tanggal 30 Septermber 2013. 48 tahun yang lalu, di tanggal yang sama, pada tahun 1965. Di Indonesia terjadi revolusi. Dikenal sebagai G30S/PKI atau gerakan 30 september.

Menurut versi pemerintah yang berkuasa, gerakan ini didalangi oleh PKI (Partai Komunis Indonesia). Sementara versi  lain mengatakan bahwa tragedi ini  sebenarnya adalah intrik persaingan internal di tubuh tentara, yang dimanfaatkan dengan baik oleh Amerika untuk mendongkel Sukarno.

Mana yang benar dari kedua versi tersebut ? Biarlah itu menjadi domain sejarawan.

Yang ingin sedikit saya bahas disini adalah, ungkapan klasik, “revolusi selalu memakan anaknya sendiri”.

Untuk membenarkan alibinya, pemerintah Orde Baru yang otoriter meneribitkan buku putih yang sangat dominan dari pemikiran Brigadir  Jenderal Nugroho Notsusanto, sebagai Mendikbud pada kabinet pembangunan ke IV. Buku tersebut berjudul Pengkhianatan G 30 S / PKI, yang kemudian difilmkan dan menjadi tontonan wajib pelajar dari tingkat SD hingga SMA.

Layaknya film propaganda, adegan kekerasan demi kekerasan ditampilkan sangat fulgar. Tanpa editing. Entah apa yang dimaksud, semoga waktu dan sejarawan mampu mengungkap motifnya.

Masih segar dalam ingatan bagaimana jasad para  jenderal diseret, setelah sebelumnya diberondong dengan senapan otomatis hingga ajal menjemput.

Masih segar dalam ingatan bagaimana jasad para  jenderal dimasukkan ke sumur tua. Setelah sebelumnya disiksa,  disilet mukanya sambil berkata, “darah itu merah Jenderal…!”

Masih segar dalam ingatan bagaimana orang orang bernyanyi, termasuk gerwani  (Gerakan Wanita Indonesia, organisasi kewanitaan  berafiliasi pada  PKI) yang menari nari setengah telanjang sambil menyanyikan lagu genjer genjer. Mencaci, mencerca dan bahkan meludahi jasad tak bernyawa.

Lihatlah bagaimana terpukulnya keluarga yani. Anak anaknya waktu itu melihat dengan  mata kepala  sendiri bagaimana bapak mereka dibunuh dan diseret bagai binatang. Belum lagi tentang Ade Irma Suryani yang harus meregang nyawa diusia balita.

Ternyata  bukan hanya itu……..

Bencana dahyat selebihnya adalah, ratusan ribu orang meninggal akibat pembunuhan masal di seluruh negeri. Jutaan orang anak kehilangan orang tua. Mereka yang semestinya mendapat kecukupan  kasih sayang, direnggut dengan paksa oleh rezim.

Ambil salah satu contoh, namanya Ilham Aidit, putera DN Aidirt. Tokoh PKI yang dibunuh tanpa proses peradilan.

Hampir semua orang mencerca. Dihina, dicaci, dikatai anak jadah, anak komunis, anti agama, anak setan, dan seabrek hujatan lain. Bukan saja oleh masyarakat dan teman temannya, yang menyedihkan  adalah ucapan itu keluar dari  gurunya sendiri.

Saat berumur  7 tahun, ia sudah sekolah di sebuah  SD Katolik. Tulisan tulisan anti PKI dan “GANTUNG  AIDIT” memenuhi tembok tembok seantero Bandung. Dan, tentu saja itu sangat memukulnya.

Kemana ia akan mengadu ?

Tak seorang bisa menjawab. Ibunya menghilang entah kemana, semenjak tanggal 5 Oktober. Bapaknya pun raib, seolah ditelan bumi. Hanya keluarga Nasution yang mau menemani, berempati  dan membesarkan hatinya.

Itu baru sedikit cerita tentang Ilham, belumlah nama Irfan sang adik. lalu, dua orang kakaknya yang sekolah di Moscow pun terlunta lunta.

Sekali lagi, itu baru cerita Ilham. Bagaima kesedihan dan penderitaan  jutaan anak anak lain di negeri ini ?

@lambangsarib

.

Butuh jasa cargo murah ? www.csmcargo.com via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in intermezo. Bookmark the permalink.

16 Responses to Dalam Revolusi, Selalu Anak Yang Menjadi Korban.

  1. Perlakuan pahit kepada mereka (anak cucu) yang sama sekali tidak terlibat hanya akan menyuburkan sifat pendendam di negeri ini.

    • lambangsarib says:

      Ya betul pak, itulah mungkin salah satu jawabannya. Setelah satu generasi terlewati, akhirnya kita tumbuh menjadi generasi pendendam.

      Lebih mudah mengacungkan parang dibandaning duduk berunding.

  2. sedih sekali membaca ini😦

  3. Ceritaeka says:

    Mas… Yang menang biasanya yang menuliskN sejarah ;( hari ini di tahun 65 memang hari yang kelam bagi bangsa kita.
    Btw aku nggak suka pilem wajin itu. Propaganda banget.

    • lambangsarib says:

      Betul, sejarah selalu ditulis oleh pemenang. Pemenang mendapat segalanya.

      Film propaganda selalu memuakkan. Dan kita, hidup dalam satu generasi yang dibangun diatas pondasi dan pilar propaganda kebencian.

      Semoga tak kan terulang tragedi memilukan itu.

  4. genthuk says:

    Alhamdulillah, akhirnya muncul juga semangat silaturahim itu.

  5. tinsyam says:

    semoga ga ada generasi pendendam lagi dah.. 65 taon udah lewat berapa generasi tuh..

    • lambangsarib says:

      Generasi revolusi adalah generasi pendendam.

      Andai hari ini kita bisa curahkan seluruh cinta pada anak anak, maka 30-40 tahun ke depan kita memiliki generasi penuh kasih.

      Semoga ya mba’e

  6. abi_gilang says:

    Betul banget Pak kalo “sejarah itu adalah catatan dari Jenderal Pemenang” yang bisa berganti ketika bergantinya jenderal berkuasa.

  7. Titik Asa says:

    Terharu membacanya.
    Benar sekali, selalu anak yang jadi korban. Dan selalu juga, hal seperti ini jarang atau bahkan tidak dipublikasikan. Salut sekali Mas menuliskannya disini.

    Salam,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s