Anak laksana Kertas Putih, Orang Tua Adalah Krayon Berwarna Warni

Hari minggu kemarin, seharian kami sekeluarga pergi berlibur ke suatu tempat di bilangan Jakarta barat. Sengaja aku habiskan waktu seharian  untuk memanjakan anak. Memanjakan dalam arti menghabiskan waktu untuk bersama. Memanjakannya dengan segenap cinta. Bukan memanjakan dalam arti memberi  materi berlebih, atau mengabulkan seluruh keinginannya.

Memanjakan anak dengan kasih sayang, memang harus dilakukan orang tua.

Secara tidak sengaja,  kami bertemu dengan seorang sahabat.  Dan kebetulannya lagi, ia pun bersama serombongan  dengan keluarga besar. Pertemuan tanpa rencana,  berubah menjadi “family gathering” kecil kecilan.

Karena sama sama memiliki anak kecil, kami seolah memiliki “chemistry” sama.  Semakin akrab dan banyak diskusi, sekedar bertukar pikiran. Berbagi inspirasi tentang bagaimana sebaiknya mendidik anak yang baik dan benar.

Untunglah, anak anak kami sepertinya  cocok. Mereka  bersahabat, seperti persahabatan  kedua orang tuanya. Bermain bersama, bekejar kejaran dan bergandengan tangan menyusuri bibir kolam  melihat ikan.

Kalau boleh jujur, sebenarnya kedua anak kami “berbeda”. Banyak  hal yang bisa dikemukakan disini.

 

Anakku berkulit sawo matang, bahkan cenderung hitam, seperti bapaknya. Sementara teman barunya, yang bernama Natalie Fong berkulit kuning.  Jika mata anakku bulat belok, maka mata Fong terlihat  sipit.

Bahasa ibu yang digunakan pun berbeda.  Dalam kehidupan sehari hari, aku lebih sering menggunakan bahasa Jawa. Begitu pula dengan anakku.  Sementara itu Fong lebih menyukai  bahasa mandarin sebagai bahasa sehari hari.

Entah mengapa, perbedaan yang sering dianggap “natural barrier” itu musnah. Tak ada lagi karang penghalang diantara mereka. Semakin lama bermain, keakraban mereka semakin tampak nyata.

*

Sobat Anak…,

Anak selalu bersikap  netral. Bagi mereka, tidak ada perbedaan kulit, suku, ras, agama dan antar golongan. Semua manusia adalah sama.

Namun, seringkali orang tua mengajarkan ke anak mereka perbedaan. Bahkan tak jarang  pula yang mengajarkan pertengkaran bahkan kebencian.

Anak laksana kertas putih. Orang tua adalah krayon  berwarna warni. Jika kita memang menyayangi anak, jangan sekali kali menorehkan warna kebencian dalam kertas itu. Agar, kesucian anak anak tetap terjaga, hingga kelak di kemudian hari.

Untuk itu, esok kita kan tersenyum melihatnya.

@lambangsarib

.

Butuh jasa cargo murah ? www.csmcargo.com via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

9 Responses to Anak laksana Kertas Putih, Orang Tua Adalah Krayon Berwarna Warni

  1. Anak-anak walau bahasa yg mereka gunakan berbeda, sering saya amati mereka mampu berkomunikasi walaupun dengan bahasa tubuh😀 buat mereka yg penting bisa bermain bersama😉 .

  2. abi_gilang says:

    Bahasa anak adalah bahasa nurani, bahasa kebersamaan, bahasa kemanusiaan. Kiky lucu yaa🙂

  3. sendairawanpratono says:

    Bapaknya kasih warna apa ya? Btw ini di Central Park ya Pak?

  4. araaminoe says:

    Seorang anak laksana kertas putih, namun jangan pernah menghalanginya untuk melukis di kanvas Tuhan yang Maha Luas..😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s