Maaf Nduk, Bapak Lalai Menuliskannya

Sudah sekian hari lamanya aku tak menuliskan jejak  di blog ini. Sekian waktu pula berlalu tanpa catatan sejarah yang selayaknya dikenang, kini semua tinggal bayang bayang. Musnah, bagai ditelan bumi. Musnah, bagai debu diatas bebatuan tersapu gelombang  air pasang.

Ah sudahlah…

Tiada guna berkeluh kesah. Lebih baik mencoba memperbaiki diri. Lebih bermakna merubah diri. Untuk menorehkan catatan catatan esok esok hari.

Kenangan indah bersama anakku dalam beberapa hari ini pun ikut musnah. Menguap begitu saja. Bersamaan dengan keterbatasan manusia untuk mampu mengingat.

Tak terasa, kini anakku sudah semakin fasih berkata kata. Bertambah hari, bertambah pula “kecriwisannya”. Bukan hanya banyak menanya, melainkan pula terlalu banyak protes dan mengoreksi kesalahan kesalahan kami sebagai orang tua.

“Pak, bapak….! kalau makan duduk…!”

Protes yang selalu meluncur dari mulutnya, dikala aku lupa duduk saat melahab sekerat  tempe goreng bikinan ibunya.

“Pak bangun pak, sudah siang…, mataharinya sudah bangun….!”

Tanpa sedikitpun keraguan ia ucapakan itu. Sambil duduk disamping dan menggoyang goyangkan tubuhku, dikala  aku bangun kesiangan.

“Tu…, malu tu…, bapak gak pakek baju. Malu tuh…”

Cemoohnya yang lucu  saat aku “ngligo” karena kepanasan atau mau mandi.

Tanpa terasa, nduk, kamu sudah semakin besar. Kamu sudah mampu mengkritik dan protes saat kami alpha atau melakukan kesalahan. Kamu juga  menunjukkan ketidaksukaan,  saat kami tidak konsisten pada nilai nilai yang telah kami tanamkan.

Terimakasih nduk. Bapak selalu menyayangimu.

@lambangsarib

.

Butuh jasa cargo murah ? www.csmcargo.com via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in Kiky and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

18 Responses to Maaf Nduk, Bapak Lalai Menuliskannya

  1. Baroto says:

    Momen yg bagus itu kadang datang tiba – tiba dan tak terduga, jangan sampai kehilangan momen yg indah….

  2. Keren, Kiky sudah bisa meng-kritik. Itu tandanya sudah mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

  3. rusydi hikmawan says:

    ah sulit memiliki kebesaran hati untuk mengakui kekurangan seperti itu, pak. semoga saya bisa belajar

  4. anak pun bisa menjadi sumber belajar bagi orangtuanya jikalau orangtua mau berbesar hati mendengarkan sang anak…

  5. abi_gilang says:

    Kalo udah ngerti kIky pasti protes karena blog ayahnya nggak diisi beberapa hari🙂

  6. ayanapunya says:

    kiky sudah mulai kritis yaa

    • lambangsarib says:

      semua anak anak akan tumbuh menjadi pribadi yang kritis. Orang tuanya yang kadang kala memupus kekritisan tersebut.

      • ayanapunya says:

        nah contoh orang tua yang memupus kekritisan itu gimana mas?

      • lambangsarib says:

        Mungkin ini sebuah contoh saja…

        Anak bertanya, “pak, kenapa bapak puasa ?”

        Jawaban memupus kekritisan adalah dengan memaksa anak untuk menerima fikiran orang tua dan berhenti berfikir. Contoh :

        “Itu perintah agama nak. Harus dijalani. kalau tidak puasa, akan dirajam di api neraka, bla… bla,,,bla…..”

        Jawaban menumbuhkan kreativitas adalah memberi stimulus pada anak untuk tetap berfikir dan berimajinasi dalam alam bawah sadarnya.

        “kalau bapak puasa, bapak akan sehat. Karena organ organ bapak beristirahat. dst…..”

        Mungkin itu. Ada pendapat lain ?

      • ayanapunya says:

        ooo. makasih infonya, mas🙂

  7. tinsyam says:

    udah bisa protes nih.. makin besar mogamoga makin ga ragu ngeritik kalu “salah” ya.. juga dikritik..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s