Eksploitasi Anak Ditengah Keramaian

Hari minggu pagi. Saya dan keluarga menghabiskan waktu dengan berolah raga di seputaran Tugu Monas. Seperti biasa, dihari libur monumen kebanggaan Jakarta ini dipenuhi banyak orang.  Ada yang berolah raga lari,  jalan sehat, bersepeda, senam kesegaran, atau hanya sekedar menikmati udara segar.

Pedagang makanan dan mainan meramaikan suasana. Begitu pun dengan beberapa penyedia jasa penyewaan sepeda, mobil mobilan dan andong. Selain mencoba mencari keberuntungan, mereka pun asyik menikmati kebahagiaan bersama ribuan warga ibukota lain.

Dari kejauhan, suara gamelan terdengar bertalu. Anak saya mengajak  mendekat, menuju arah suara,  sekedar untuk melihat hiburan tradisional apakah yang sedang dimainkan.

Dari uniform dan peralatan yang digunakan, saya tahu bahwa itu adalah kesenian tradisonal jawa tengah, jaran kepang atau jatilan. Kami pun menikmati pertunjukan demi pertunjukan yang mereka sajikan. Hanya dengan memasukkan beberapa lembar uang kertas, kami disuguhkan beberapa macam atraksi. Diantaranya adalah kuda lumping, semburan api, akrobat  dan permainan ular.

Anak saya tampak bergembira menyaksikan adegan demi  adegan. Terkadang mendebarkan. Pandangan matanya  tak berkedip, tampak serius menikmati.

Tiba tiba saya melihat  seorang anak kecil masuk ke tengah arena. Mungkin saja berumur sekitar 7 atau 10 tahun, Masih seusia anak SD.  Dari pakaian yang dikenakan, saya tahu bahwa ia adalah bagian dari crew jatilan.

Seseorang lelaki setengah baya memasuki arena.  Ditanggan kanannya segulung tali plastik berwarna biru. Sementara itu segulung kain putih, sejenis kain mori pembungkus mayat ditangan kirinya. Berjalan perlahan mendekati anak  tersebut.

Pandangan mata kami tertuju pada anak dan lelaki itu. Tak terkecuali anakku. Sejenak, pandangan mata kami beradu. Terlebih saat kucoba mengambil gambar lewat ponsel.

Beberapa saat kemudian, barulah aku sadar. Bahwa ternyata atraksi selanjutnya adalah “pocong anak”. Yaitu salah satu atraksi yang sarat dengan kekerasan dan eksploitasi anak. Si anak di bebat dengan kain mori dan diikat layaknya pocong.

Melihat kejadian itu, saya langsung mengajak anak pergi meninggalkan lokasi pertunjukan. Bagi saya, pertunjukan ini tidak bagus buat ditonton. Terlebih lagi untuk seorang balita.

Ada perasaan  iba melihat sorot pandangan mata anak tersebut.

Eksplotiasi anak !

Wahai orang tua, sadarlah akan yang kamu lakukan pada anak anak ?

Memang hidup itu sulit, semua orang tahu  itu. Namun, eksploitasi anak  bukanlah jawaban untuk mengatasi kesulitan itu.

Anak adalah buah hati, buah cinta. Mereka hanya mengharap kasih sayang dari orang tua. Tidak kurang dan tidak lebih.

@lambangsarib

.

Butuh jasa cargo murah ? www.csmcargo.com via twitter @csmcargo

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in intermezo and tagged , , , . Bookmark the permalink.

23 Responses to Eksploitasi Anak Ditengah Keramaian

  1. wahh… parah banget nih, kelak kalau tidak ada perubahan dari lingkungannya saat ini, anak itu akan lebih berbahaya lagi, karena sudah bergelut dengan dunia eksploitasi sejak dini.

  2. Kasihan si anak. Tatapannya seakan ketakutan tp pasrah krn tidak bisa menolak😦 .

  3. Hak anak terabaikan. Kasihan

  4. ayanapunya says:

    Habis diikat gitu diapain, mas? Tega banget ih😦

  5. pantas saja negeri ini kekurangan generasi penerus: anak-anaknya dieksploitasi untuk kepentingan sesaat saja..
    turut prihatin mas…

  6. Titik Asa says:

    Kalo dipikir-pikir rupanya banyak eksploitasi thd anak-anak yg terjadi di sekitar kita. Seperti yg tertulis di posting ini salah satunya. Yg paling menusuk saya kalo melihat anak2 peminta-minta yg biasa nongkrong di lampu merah. Beberapa anak disana. Diperhatikan sekitar ternyata ada orang penuggunya. Lihat, mereka akan berlari kearah orang itu setelah mendapatkan uang dari mobil yg dihampirinya…
    Salam,

  7. abi_gilang says:

    Tidak memberikan hak anak untuk bermain juga termasuk eksploitasi anak.

  8. indra kh says:

    Waduh kasihan sekali anaknya😦 Melihat sorot matanya saja sudah kelihatannya kalau anaknya juga sangat tidak nyaman.

  9. debapirez says:

    waduh…parah banget. masih kecil sudah diekploitasi utk mencari nafkah…

  10. Dyah Sujiati says:

    ada bentuk kayak gini juga ya Pak?
    sejauh ini hal yang paling mengenaskan yang pernah saya lihat yg berhubungan dg eksploitasi anak adalah seorang anak SD yang sudah sudah pentas ke mana-mana menjadi penyanyi dangdut. pakaian, lagu yang dinyanyikan, gaya yang ditampilkan seharusnya semua itu untuk ukuran orang dewasa. kasian sekali melihatnya. anak itu tidak dikasih kesempatan menikmati masa anak-anak secara anak-anak sesuai usia
    :S

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s