Kegalauan Sang Kyai Zamura

Waktu duha. Matahari memancarkan sinarnya tanpa malu. Menghangatkan kota kecil di tengah belantara hutan jati.

Saya duduk berdua, behadap hadapan dengan sang kyai. Orang memangilnya pak Ustadz Zamura. Namun aku lebih suka memanggilnya pak kyai. Ditemani salak pondoh asli Yogya, dan segelas teh manis  hangat.

Umurnya tak muda, sekitar 70 an tahun. Tutur bahasanya lembut, intonasi suara teratur, meski terdengar pelan, namun penuh semngat. Memotivasiku untuk selalu berbuat yang terbaik buat sasama.

“Aku merindukan suara anak anak di masjid kita. Aku merindukan alumni REMAQA (Remaja Masjid Taqwa) yang dulu pernah ada.” Suara lirih itu tiba tiba keluar dari mulutnya. Disertai tatapan mata kosong kearahku.

Sekarang kamu bisa lihat sendiri, tidak ada tawa canda anak anak lagi di masjid. Orang tua lebih mementingkan pendidikan di sekolah. Kecakapan kognitif dianggap berkasta lebih tinggi dibanding pendidikan budi pekerti dan karakter.

Selepas sekolah, anak anak dipaksa untuk les. Tak ada waktu lagi buat bermain. Apalagi mengaji dan menyemarakkan kehidupan masjid.

Saat malam lebaran, tak ada lagi suara takbir diantara sendau gurau anak anak. Digantikan suara takbir yang serak dan parau dari orang orang tua. Semua seolah rutinitas, tak ada keceriaan bersamanya.

Kata katanya terhenti. Lalu mengambil segelas teh hangat yang terhidang. Mempersilahkanku minum dan menyantap hidangan yang tersaji.

“Mbang…., tak ada lagi remaja masjid yg meneruskan setelah era kawan kawanmu berlalu.” Katanya lagi, meneruskan diskusi.

“Bagaimana madrasah diniyah yang bapak rintis dulu ?” Tanyaku. Pak kyai menarik nafas panjang, sejenak terdiam dan mulai melanjutkan ceritanya.

“Madrasah diniyah yg dirintis dulu hanya tinggal kenangan. Bahkan Bisa dikatakan layu sebelum berkembang. Namun aku masih memiliki mimpi mbang….,” katanya.

Aku masih memiliki mimpi besar. Aku ingin mengumpulkan seluruh takmir dan pengurus yayasan. Guna membuat madrasah ibtidaiyyah. Tempatnya sudah ada, yaitu di gedung sebelah belakang masjid. Kalau dirasa kurang luas, gudangku siap di wakafkan.

Kamu sudah besar sekarang. Sebagai alumni, tolong sampaikan pada sahabat sahabat REMAQA yang tersebar. Bahwa masjid kita butuh pertolongan. Paling tidak, dengan pemikiran dan ide ide untuk memakmurkan.

Kalau cukup waktu, tolong tuliskan sejarah masjid kita. Aku berharap sejarah masjid kita tak hilang bersamaan bergantinya generasi. Mumpung saya masih hidup. Karena hanya tinggal saya satu satunya saksi sejarah yang hidup. Semua sahabatku yang turut mendirikan Masjid ini sudah pada meninggal.

“Jangan sampai generasi selanjutnya tak mengetahui lagi sejarah masjid ini.” Katanya penuh harap. Pandangan mata tajamnya seolah menghunjam ke ulu hatiku.

Aku hanya diam. Tanpa mampu berkata kata. Entah pada kemana sahabat sahabat REMAQA ku kini berada.

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in inspirasi and tagged . Bookmark the permalink.

6 Responses to Kegalauan Sang Kyai Zamura

  1. Remaja sekarang jarang ada yang mau ngurus TPA anak-anak. Sedih juga. Mungkin kesalahannya tak hanya pada mereka saja, para orang tua turut andil.
    Saat membawa anak-anak ke masjid masih ada orang tua yang menegur saya karena anak-anak berisik. Jika anak tidak dibiasakan mencintai masjid jangan harap jika besar ia akan memakmurkan masjid.

    • lambangsarib says:

      Karena mayoritas orang tua beranggapan kecakaaan kognitif adalah kunci kesuksesan. Padahal tidak.

      Org2 dg budi pekerti dan memiliki karakter yg kuatlah yg mendapat masa depan gemilang.

  2. abi_gilang says:

    Kegalauan yang memang pantas dicari solusinya dengan segera. Mengadakan TPA diruang kelas selepas sekolah formal memang banyak manfaatnya namun tetap saja tak akan sama adab-adab masjid dan adab-adab kelas. Mengadakan kegiatan mengaji di masjid jauh lebih tepat dalam menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan bermasyarakat (tidak hanya dlm urusan ibadah mahdhoh).

  3. Dyah Sujiati says:

    Selepas sekolah, anak anak dipaksa untuk les. Tak ada waktu lagi buat bermain. Apalagi mengaji dan menyemarakkan kehidupan masjid. –>
    Benner banget ini Pak!
    pendidikan yang katanya untuk memanusiakan manusia malah mendekte manusia untuk tunduk pada rutinitas yang menjauhkan dari kebutuhan dasar manusia..
    lalu?
    ngenes. orang tua jman sekarang pusing tuju keliling kalau anaknya yang TK belum bisa membaca. Smentara iqra’ saja belum dikenalkan
    saya aja kelas 2 SD belum bisa baca, hahaa. #OOT:mrgreen:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s