ZAMURA

ZAMURA adalah sebuah nama yang  terdengar asing. Apalagi buat  telinga jawa pada umumnya.

Namun, jika nama itu di ucapkan di kota kecil  pelosok Jawa Tengah, Blora, pastilah banyak orang yang merasa mengenal. Terlebih lagi jika ia adalah jama’ah Muhammadiyah.

Nama lengkap sebenarnya adalah Zainal Muchajad Rachman. Hanya segelintir orang yang mengetahuinya. Bagi kebanyakan masyarakat sekitar, Zamura adalah nama asli, bukan singkatan.

Baginya, sebuah nama tidaklah terlalu penting. Perbuatan adalah yang utama.

Tubuhnya tak lagi sekekar 40 tahun lalu. Rambut lurus yang hitam pun kini telah berubah warna, putih. Kulitnya  keriput,  walau tetap memancarkan kesegaran. Langkahnya sangat  perlahan,  namun semangatnya untuk memakmurkan masjid tiada tandingan.

Tak kurang dari 40 kali lebaran lamanya beliau dedikasikan hidupnya untuk marbot. Masa mudanya berlalu, tak lepas dari kegiatan mengurus masjid Taqwa. Dari berukuran seluas musholla, hinga kini  berkelas masjid raya.

Kenapa saya tuliskan ini  ?

Beliaulah orang yang mengenalkan kami pada Islam. Guru ngajiku sewaktu kecil,  sahabat bapakku bermasyarakat  dan panutan kedua orang tuaku dalam menjalankan syari’at.

Pak Zamura,  sungguh…,  jasamu tak kan mampu kami hitung. Entah bagaimana kami harus membalas jasa baikmu.

About lambangsarib

Orang biasa berharap bukan biasa biasa saja.
Gallery | This entry was posted in inspirasi and tagged . Bookmark the permalink.

4 Responses to ZAMURA

  1. Dyah Sujiati says:

    Semoga Allah merahmatinya dan menrima amal kebaikan yang telah diperbuatnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s